Banyak kalangan berkomentar bahwa Gusdur masih akan mencoba peruntungannya dalam pemilu 2009. Gusdur sendiri ketika ditanya mengenai hal itu, jawabnya pasti “tergantung perintah dari para kyai”.
Dalam tradisi NU, kyai memang tempat banyak orang untuk meminta saran (istifta’). Namun, bukankah Gusdur juga seorang kyai? “perintah kyai” yang dimaksud Gusdur bisa jadi justru kemauan Gusdur itu sendiri. Artinya, ya kapan Gusdur mau, dia pasti maju. Kalau tidak mau, ya dipaksa kyai se-Indonesia juga belum tentu Ia mau.
Dalam ranah tasawwuf, kyai sebagai tempat kita meminta saran dan masukan memiliki fungsi yang sama dengan hati. Dalam bahasa yang lebih jelas disebutkan, “Istafti qolbaka” (mintalah saran pada hatimu). Itu berarti “kyai” yang dimaksud Gusdur bisa diartikan hati nurani yang ada dalam dirinya. Karena, memang “bersua” dengan Tuhan hanya bisa dilakukan melalui dimensi ini. Apa yang Tuhan anggap baik pada kita, sebenarnya telah diinformasikan kepada kita melalui hati, hanya saja kemampuan menangkap maksud Tuhan seringkali tidak bisa dilakukan dengan baik oleh semua makhluk-Nya.
Dunia politik tentu tidak menerima logika tersebut. Secara politik, hati nurani yang dimaksud juga akan sangat ditentukan oleh hitungan matematis menang-kalah, untung atau rugi. Itu artinya, Gusdur sudah pasti berhitung dulu sebelum maju. Hitungannya bisa jadi politik praktis, tapi bisa juga politic values.
Gusdur bukan tidak sadar, kalau peluangnya untuk sekali lagi menjadi Presiden sangat kecil. Namun, bisa jadi tujuannya bukan kemenangan dalam defenisi politik praktis. Melainkan jauh di atas itu. Gusdur ingin mengadakan pendidikan politik. Itu yang saya maksud dengan politic values. Gusdur bisa jadi sekedar memberikan pelajaran demokrasi yang seharusnya berjalan di Negeri ini. Dan dalam pandangan saya, pengajaran Gusdur cukup berhasil. Satu torehan sejarah yang tidak akan pernah dilupakan orang adalah keberaniannya menghapus diskriminasi etnis Tionghoa. TOLAK DISKRIMINASI!!!!! Itu yang menurut saya terus lantang Gusdur suarakan dalam perjuangannya. [Robit Firdaus]
Dalam tradisi NU, kyai memang tempat banyak orang untuk meminta saran (istifta’). Namun, bukankah Gusdur juga seorang kyai? “perintah kyai” yang dimaksud Gusdur bisa jadi justru kemauan Gusdur itu sendiri. Artinya, ya kapan Gusdur mau, dia pasti maju. Kalau tidak mau, ya dipaksa kyai se-Indonesia juga belum tentu Ia mau.
Dalam ranah tasawwuf, kyai sebagai tempat kita meminta saran dan masukan memiliki fungsi yang sama dengan hati. Dalam bahasa yang lebih jelas disebutkan, “Istafti qolbaka” (mintalah saran pada hatimu). Itu berarti “kyai” yang dimaksud Gusdur bisa diartikan hati nurani yang ada dalam dirinya. Karena, memang “bersua” dengan Tuhan hanya bisa dilakukan melalui dimensi ini. Apa yang Tuhan anggap baik pada kita, sebenarnya telah diinformasikan kepada kita melalui hati, hanya saja kemampuan menangkap maksud Tuhan seringkali tidak bisa dilakukan dengan baik oleh semua makhluk-Nya.
Dunia politik tentu tidak menerima logika tersebut. Secara politik, hati nurani yang dimaksud juga akan sangat ditentukan oleh hitungan matematis menang-kalah, untung atau rugi. Itu artinya, Gusdur sudah pasti berhitung dulu sebelum maju. Hitungannya bisa jadi politik praktis, tapi bisa juga politic values.
Gusdur bukan tidak sadar, kalau peluangnya untuk sekali lagi menjadi Presiden sangat kecil. Namun, bisa jadi tujuannya bukan kemenangan dalam defenisi politik praktis. Melainkan jauh di atas itu. Gusdur ingin mengadakan pendidikan politik. Itu yang saya maksud dengan politic values. Gusdur bisa jadi sekedar memberikan pelajaran demokrasi yang seharusnya berjalan di Negeri ini. Dan dalam pandangan saya, pengajaran Gusdur cukup berhasil. Satu torehan sejarah yang tidak akan pernah dilupakan orang adalah keberaniannya menghapus diskriminasi etnis Tionghoa. TOLAK DISKRIMINASI!!!!! Itu yang menurut saya terus lantang Gusdur suarakan dalam perjuangannya. [Robit Firdaus]

Tidak ada komentar:
Posting Komentar