Rabu, 11 Maret 2009

Agama Cintaku

Bukan untukmu aku menuliskan ini. Bukan juga untuk meng'aku'kan ke'aku'anku akhirnya aku memutuskan untuk merangkai kata ini. Bagiku, dirimu -di satu sisi pandanganku- tidak sama sekali berbeda dengan makhluk lainnya. Meski harus kuakui kalau -di sisi yang lain- dirimu tentu sangatlah berbeda. Perbedaan yang terkadang menuntut banyak orang berbuat berbeda. Perbedaan yang sesekali melahirkan sakit hati. Perbedaan yang sudah pasti membawa sempit makna 'cinta' yang sebenarnya keluasannya tak mampu terdefinisikan secara hakiki.

Cinta adalah kata suci bagi semua agama. Tak ada satu pun ajaran agama rela disebut anti-cinta. Ia selalu membawa pesan damai, indah, dan menenangkan. Ia tempat teduh di tengah kekeringan sahara. Ia obor gelap gulita malam. Ia pundak yang begitu nyaman dijadikan tempat bersandar saat kelelahan. Hakikat cinta adalah membawa amanah perlindungan dan kedamaian. Perlindungan dari penderitaan dan kedamaian dari kegundahan. Inilah agama hakiki, agama cinta. Inilah yang dimaksudkan "Ingatlah dengan mengingat Allah, hati kan menjadi tenang". Jangan kau sebut agama, ajaran yang tidak melawan penderitaan. Jangan kau sebut agama, hubungan yang justru menyakiti. Itu bukan cinta. Yakinlah itu bukan cinta.

Bimbinglah aku mendapat cinta hakiki Gusti... Biarkan kuasa-Mu membimbingku mencintai-Mu. Cinta yang mungkin kau jadikan para peminta, pemulung, ibu jompo menjadi wasilah-Nya. Cinta yang mungkin juga kan mengantarkanku pada dia yang mampu mengenalkanku sifat jamaliyah-Mu. Cinta seperti ini yang kuinginkan Gusti... Aku berlindung dari-Mu atas kesesatan-kesesatan atas nama cinta, atas keindahan-keindahan yang tidak memberikanku ketenangan.

Harus kuakui, cinta yang ideal memang ketika aku mencintai -dengan sangat- wujud yang- juga dengan sangat- mencintaiku. Bukan aku saja yang membuncah mencintainya atau wujud itu saja yang dengan tanpa batas mencintaiku. Namun, ketika harus memilih, apakah wujud yang kucintai ataukah wujud yang mencintaiku untuk kupilih. Maka, wujud yang -dengan sangat- mencintaiku menjadi jawabanku. Lebih baik aku menangis karena aku belum bisa mencintai -dengan sangat- wujud yang begitu mencintaiku, daripada harus kualirkan air mataku karena wujud yang -dengan sangat- kucintai tidaklah mencintaiku.

Aku kan memilih berjuang mencintai-Nya daripada harus berjuang mengemis cintanya. Tiada Tuhan yang tidak mencintai umat-Nya, meski jarang sekali umat yang berjuang mencintai-Nya. Bagiku, cinta bukanlah pemberian, tapi ia adalah perjuangan. Bukan bagaimana mendapat cintanya, tetapi bagaimana mencintainya. Lebih baik aku belajar mencintainya daripada aku berbuat sesuatu mengejar cintanya. Itulah mengapa aku harus mencintai-Nya, karena sejatinya Ia telah terlebih dahulu sangat mencintaiku. Aku memilih yang mencintaiku....

Jumat, 06 Maret 2009

Bermimpi Menulis Mimpi

Mulanya, saya tidak pernah berpikir untuk punya keinginan menulis tentang ini, tentang tulisan fiksi. Ada banyak alasan kenapa saya tidak enjoy menulis fiksi. Pertama, mungkin karena sudah sekian lama jari jemari saya terbiasa menulis dan mengetik atas dasar perintah otak kiri.. Tingkat kemampuan membahasakan hasil imajinasi saya ke dalam bentuk paragraf bisa dibilang tidak begitu bisa saya banggakan.. Pertanyaan yang terus ditekankan otak kiri saya saat menulis adalah, "ilmiah ga' nich?". Selama belum sampai pada taraf ilmiah -tentu saja dalam batasan subjektivitas saya- maka usaha meng"ilmiah"kannya akan semaksimal mungkin saya lakukan. Kedua, Saya tergolog orang yang tidak biasa melakukan tindakan persuasif dengan pendekatan fiksi. Saya yakin, semua penulis memiliki usaha mempengaruhi pembaca dalam setiap tulisannya. Nah, saya termasuk orang yang selama bertahun-tahun dilatih untuk melakukan "usaha mempengaruhi" itu dengan cara berpikir ilmiah.. (Ini sama sekali tidak saya maksudkan bahwa semua karya fiksi tidaklah ilmiah)

Saya bukannya tidak pernah menulis fiksi. Saya pernah, meski saya sendiri tidak yaikin apakah layak disebut tulisan. Saya juga tidak mengatakan kalau saya tidak suka karya fiksi (novel, cerpen, puisi, dll). Saya bahkan sangat suka menikmati beberapa karya fiksi.. Penulis seperti Cak Nun dan Pramoedya sangat saya kagumi.. Karena dalam banyak hal saya akui berhasil "dipengaruhi" oleh tulisan-tulisan mereka. Namun bukan mereka yang pada akhirnya menyebabkan saya berubah pikiran. Bukan Cak Nun atau Mas Pram yang mengilhami saya ingin menulis karya fiksi berdimensi sosial. Novel kang Abik juga tidak terlalu banyak memberikan spirit menulis novel Islam pada batin saya..

Trus kenapa dong akhirnya saya tertarik menulis fiksi?

Semalam, saya membaca beberapa tulisan teman "baru" saya dalam blognya.. Tulisannya memang semacam beberapa hasil pengalaman dan imajinasi yang ia tuliskan.. Secara akademis, teman saya ini masih dua tahun di bawah saya.. Tapi, harus saya akui, saya kagum pada kualitas tulisan dan gaya bahasa yang dia gunakan.. Indah, mengalir, dan bahasanya bisa membunuh ego para pembacanya (Saya biasa menyebutnya, tulisan berkekuatan "magis").. Tentu bukan hanya itu alasannya. Tapi, juga karena saya kenal dengan penulisnya, sehingga tentu saja menambah kekuatan "magis" tulisan yang saya baca.. (Ok.. ini tentu subjektif, tapi bagaimana kalau ada 2 sahabat saya yang berpendapat sama??)

Baiklah temanku, itu sementara yang bisa kupelajari darimu.. Setidaknya "rumah"ku ini akhirnya bisa terisi lagi oleh tulisanku setelah sekian lama tak kurawat.. Mimpiku harus terwujud.. Aku harus mampu menuliskan mimpi-mimpiku seperti atau lebih baik darimu menuliskannya...