"Rob, ada anak kos yg keilangan uang trs ada anak madiun yg bw air putih yg udah didoain dr kyai. Qt semua minum. Kl yang ambil rasany air beda. Itu musyrik ga rob?"
Itu teks sms dari salah seorang temen saya. Pertanyaan semacam ini seringkali ditanyakan banyak teman. Mungkin karena mereka menilai opini dari publik juga masih simpang siur tentang kasus seperti ini. Ada yang menggapnya syirik, tapi ada juga yang menganggapnya boleh, dengan alasan tidak jarang kaum agamawan juga mengamini budaya itu.
Saya sendiri menjawab sms temen saya itu dengan teks begini, "klo pun ada yang beda rasax, itu ttp tdk bs djdkn bukti pncurian smp adax pngkuan at bkti lain. Slama tdk myakni adax kkuatan yg mnyamai Tuhan d air itu ya g syirik"
Jawaban itu mungkin juga masih membingungkan bagi sebagian orang. Maksud saya begini, hal-hal ghaib itu tidak bisa dijadikan alat bukti dalam persidangan. Orang yang kemudian merasa air yang dia minum rasanya tidak wajar, tidak bisa dihukumi lagsung dia bersalah. karena tidak ada relasi rasional (jelas) antara pencurian dan perubahan rasa air tersebut. Kecuali kemudian setelah minum air, ia lalu mengaku, maka ia bisa dikenakan sanksi pidana. itu pun bukan karena rasa yang berbeda pada air tersebut saat ia minum, tapi karena faktor pengakuan yang ia lakukan. inna nahkumu bi al-dhowahir wallahu yatawalla as-sarair.
Kemudian saya tidak berani mengatakan perbuatan tersebut syirik karena beberapa pertimbangan. Label Syirik atau kafir menurut saya seminimal mungkin digunakan kaetika menghakimi seseorang. Apalagi dalam hal yang masih belum jelas maksud dan tujuannya. Kemudian untuk kasus teman saya di atas, harus dilihat kondisi sosiologis dimana ia tinggal. Ia tinggal di kos. Tentunya semua penghuni kos itu turut memiliki peluang untuk dituduh sebagai pencuri. Bisa anda bayangkan kalau teman saya kemudian menolak permintaan meminum air tersebut. Besar kemungkinan justru dia yang akan dituduh sebagai pencurinya. Padahal ia sama sekali tidak melakukan itu.
Syirik berarti menyekutukan tuhan. Menyekutukan tidak hanya dalam artian mempercayai ada dua dzat Tuhan, tetapi juga mempercayai adanya kekuatan yang menyerupai atau sama dengan Tuhan. Kita semua tahu bahwa tuhan adalah laisa kamitslihi syai'un. Sehingga percaya ada kekuatan yang sama dengan Tuhan juga masuk dalam kategori syirik. Sementara bila tidak sampai pada tingkatan itu, maka label syirik juga belum pas untuk disematkan dalam perbuatan tersebut. wallahu a'lam bi al-showab
Rabu, 19 Maret 2008
Selasa, 18 Maret 2008
BANGSA MISTIS; BANGSA STATIS
Bangsa ini mungkin adalah bangsa yang sangat kental dengan dunia ghaib. Hitung saja ada berapa film horor yang laris manis di pasaran. Belum lagi kalau kita ikut menghitung paranormal yang mencari makan di negeri ini. Semua itu seolah mengindikasikan lekatnya bangsa ini dengan dunia mistis. Untuk membunuh seorang musuh, aktor-aktor film laga Indonesia tidak perlu senjata besar atau laras panjang seperti yang dipakai dalam Rambo atau Predator, mereka hanya butuh ajian ghaib yang digambarkan dapat memberikan efek yang tak kalah besar dengan teknologi supercanggih sekalipun.
Saya bukannya tidak percaya dengan yang ghaib. Bagaimana mungkin saya tidak mempercayai sesuatu yang Agama memerintahkan kita untuk mempercayainya (QS. 2: 3). Tapi bukankah beriman tidak harus dengan jalan melihatnya dengan mata telanjang, atau dengan jalan harus divisualkan melalui film?
Film-film horor menurut saya, apapun motivasinya memberikan banyak efek negatif terhadap para penonton pada khususnya dan seluruh bangsa Indonesia pada umumnya. Setidaknya ada tiga efek negatif yang bisa saya sebutkan: Pertama, dari sisi akidah jelas film horor justru akan melahirkan sesuatu yang kontra produktif. Film horor mengajak dan mengajarkan para penonton untuk takut pada hantu atau makhluk halus. Sementara ketakutan pada Tuhan menjadi dinomorduakan. Fim horor dianggap sukses bila berhasil menakuti penonton sejadi-jadinya. Semakin "serem", berarti semakin berkualitas. Bohong kalau dinyatakan film horor dapat bermanfaat untuk mengingat kekuasaan Tuhan. Buktinya, belum ada satu pun fakta seseorang setelah menonton film horor, lalu berkomentar, "maha besar Tuhan". Yang ada komentarnya sudah pasti, "wah filmnya serem banget".
Kedua, Film horor menciptakan alam pikir imajinasi dan mimpi yang sama sekali tidak produktif. "Bangsa dan orang yang besar adalah bangsa dan orang yang memiliki mimpi besar" begitu kata orang bijak. Namun, bagaimana mungkin dapat menjadi bangsa besar kalau mimpinya justru tentang hal yang ghaib, tentang pocong, kuntil anak, tuyul dan "makhluk ghaib visual" lainnya? Kita bermimpi untuk memiliki tim sepak bola nasional yang tangguh. Namun bagaimana mungkin bisa terwujud kalau sebelum pertandingan bukannya beriktiar dengan latihan sekuat tenaga kemudian tawakkal, malah justru minta kekuatan pada dukun. Sampai dukun super sakti sekalipun, saat ini tidak akan mampu memenangkan Indonesia kalau melawan tim sekelas Brazil. Mimpi tetap harus ada, tapi harus mimpi yang rasional dan produktif.
Ketiga, Bangsa ini akan terombang-ambing dalam status ketidak jelasan. Disebut bangsa religus, sudah pasti bukan. Apalagi disebut bangsa dengan kecanggihan teknologi. Persoalannya, film horor yang ada di Indonesia, mementahkan dua basis keilmuwan yang dibangun sedemikian mapan. Agama dan Ilmu Pengetahuan. Sehingga bisa dibuktikan, semakin mistis suatu bangsa, pasti semakin jauh bangsa tersebut dari Agama dan Teknologi, atau setidak-tidaknya kemurnian ajaran ajaran agama akan sangat sulit terwujud.
Film horor sebenarnya bisa didesain tanpa harus melibatkan pocong dkk. Seramnya sebuah film memang sangat dipengaruhi budaya masing-masing tempat. Namun kalau tidak produktif untuk masa depan, kanapa mesti dipertahankan? Tengok saja misalnya film horor barat yang berjudul "saw". Meski tanpa adanya makhluk ghaib, tapi film ini menurut saya cukup sukses untuk membuat jantung penonton berdegup kencang. Wallahu a'lam bi al-showab.
Saya bukannya tidak percaya dengan yang ghaib. Bagaimana mungkin saya tidak mempercayai sesuatu yang Agama memerintahkan kita untuk mempercayainya (QS. 2: 3). Tapi bukankah beriman tidak harus dengan jalan melihatnya dengan mata telanjang, atau dengan jalan harus divisualkan melalui film?
Film-film horor menurut saya, apapun motivasinya memberikan banyak efek negatif terhadap para penonton pada khususnya dan seluruh bangsa Indonesia pada umumnya. Setidaknya ada tiga efek negatif yang bisa saya sebutkan: Pertama, dari sisi akidah jelas film horor justru akan melahirkan sesuatu yang kontra produktif. Film horor mengajak dan mengajarkan para penonton untuk takut pada hantu atau makhluk halus. Sementara ketakutan pada Tuhan menjadi dinomorduakan. Fim horor dianggap sukses bila berhasil menakuti penonton sejadi-jadinya. Semakin "serem", berarti semakin berkualitas. Bohong kalau dinyatakan film horor dapat bermanfaat untuk mengingat kekuasaan Tuhan. Buktinya, belum ada satu pun fakta seseorang setelah menonton film horor, lalu berkomentar, "maha besar Tuhan". Yang ada komentarnya sudah pasti, "wah filmnya serem banget".
Kedua, Film horor menciptakan alam pikir imajinasi dan mimpi yang sama sekali tidak produktif. "Bangsa dan orang yang besar adalah bangsa dan orang yang memiliki mimpi besar" begitu kata orang bijak. Namun, bagaimana mungkin dapat menjadi bangsa besar kalau mimpinya justru tentang hal yang ghaib, tentang pocong, kuntil anak, tuyul dan "makhluk ghaib visual" lainnya? Kita bermimpi untuk memiliki tim sepak bola nasional yang tangguh. Namun bagaimana mungkin bisa terwujud kalau sebelum pertandingan bukannya beriktiar dengan latihan sekuat tenaga kemudian tawakkal, malah justru minta kekuatan pada dukun. Sampai dukun super sakti sekalipun, saat ini tidak akan mampu memenangkan Indonesia kalau melawan tim sekelas Brazil. Mimpi tetap harus ada, tapi harus mimpi yang rasional dan produktif.
Ketiga, Bangsa ini akan terombang-ambing dalam status ketidak jelasan. Disebut bangsa religus, sudah pasti bukan. Apalagi disebut bangsa dengan kecanggihan teknologi. Persoalannya, film horor yang ada di Indonesia, mementahkan dua basis keilmuwan yang dibangun sedemikian mapan. Agama dan Ilmu Pengetahuan. Sehingga bisa dibuktikan, semakin mistis suatu bangsa, pasti semakin jauh bangsa tersebut dari Agama dan Teknologi, atau setidak-tidaknya kemurnian ajaran ajaran agama akan sangat sulit terwujud.
Film horor sebenarnya bisa didesain tanpa harus melibatkan pocong dkk. Seramnya sebuah film memang sangat dipengaruhi budaya masing-masing tempat. Namun kalau tidak produktif untuk masa depan, kanapa mesti dipertahankan? Tengok saja misalnya film horor barat yang berjudul "saw". Meski tanpa adanya makhluk ghaib, tapi film ini menurut saya cukup sukses untuk membuat jantung penonton berdegup kencang. Wallahu a'lam bi al-showab.
Senin, 03 Maret 2008
RAPUH By OPICK; LAGU BUAT PARA PELUPA TUHAN
"Maafkanlah bila hati tak sempurna mencintaimu....."
itu sepenggal lirik dalam lagu ini. Terus terang beberapa hari ini lagu Opick ini sengaja kubuat menemaniku sepanjang waktu, bahkan sebagai pengantar tidurku. Aku merasa ada sayatan yang luar biasa melukai hatiku saat aku mendengar lagu ini. Aku seolah sadar ada banyak kesalahan yang telah kubuat pada Tuhanku.
Berulangkali dalam hidup ini aku mengejar cinta makhluk-Nya, tapi pernahkan dengan serius aku mengejar cinta-Nya. Aku ragu akan hal itu. Aku seringkali tak kuasa menduakan perasaan cintaku kepada-Nya. Padahal Ia adalah dzat yang paling pencemburu. Ia sangat murka bila diduakan.
Tapi Jangan salah, Ia juga adalah dzat yang paling setia kepada makhluk-Nya. bahkan ketika sang makhluk berbuat salah pada-Nya, dengan sangat mudah Ia akan memaafkannya. Bila kau bersungguh-sungguh memohon maaf terhadap-Nya. Tak ada yang lebih bisa menyayangimu melebihi apa yang Ia lakukan. Ya tawwab Tub 'Alayya.
itu sepenggal lirik dalam lagu ini. Terus terang beberapa hari ini lagu Opick ini sengaja kubuat menemaniku sepanjang waktu, bahkan sebagai pengantar tidurku. Aku merasa ada sayatan yang luar biasa melukai hatiku saat aku mendengar lagu ini. Aku seolah sadar ada banyak kesalahan yang telah kubuat pada Tuhanku.
Berulangkali dalam hidup ini aku mengejar cinta makhluk-Nya, tapi pernahkan dengan serius aku mengejar cinta-Nya. Aku ragu akan hal itu. Aku seringkali tak kuasa menduakan perasaan cintaku kepada-Nya. Padahal Ia adalah dzat yang paling pencemburu. Ia sangat murka bila diduakan.
Tapi Jangan salah, Ia juga adalah dzat yang paling setia kepada makhluk-Nya. bahkan ketika sang makhluk berbuat salah pada-Nya, dengan sangat mudah Ia akan memaafkannya. Bila kau bersungguh-sungguh memohon maaf terhadap-Nya. Tak ada yang lebih bisa menyayangimu melebihi apa yang Ia lakukan. Ya tawwab Tub 'Alayya.
Lagi-Lagi Kelaparan; Pemerintah... Belajarlah dari Umar!
Hari ini ramai diberitakan kematian seorang Ibu dan anaknya yang misterius. Selidik punya selidik ternyata dua orang dalam satu keluarga tersebut mati akibat kelaparan. Tragis memang, di zaman sekarang masih saja ada berita kelaparan di negeri ini. Alasannya, tentu saja bukan karena kita tidak memiliki lahan yang subur, sehingga seringkali kekurangan stok makanan. Bangsa ini sungguh kaya, bahkan sangat kaya.
Saya jadi teringat kisah sebuah keluarga dalam masa khalifah Umar yang juga mengalami kelaparan. Sang Ibu menanak batu hanya untuk meyakinkan anaknya kalau akan ada makanan yang siap mereka santap, sambil berharap sang anak akan tidur dalam masa penungguannya. Khalifah Umar tentu saja menangis melihat ini. Ia tidak tega melihat rakyatnya jauh lebih buruk keadaannya dibanding dirinya.
Padahal kita tahu, Umar juga bukan dari golongan kaya raya. Bahkan dalam sebuah riwayat disebutkan, kalau Umar setiap malam tidur hanya dengan beralaskan pelepah kurma, suatu pemandangan yang pasti tidak lazim dilakukan oleh seorang kepala negara.
Melihat ada salah satu rakyatnya yang demikian lapar, Umar pun rela memanggul sendiri bekal makanan yang akan ia berikan pada kelaurga lapar ini. Lagi-lagi pemandangan yang tidak lazim. Umar melakukan semua ini karena ia khawatir tidak dapat mempertanggung jawabkan kepemimpinannya di hadapan Allah kelak. Bahkan ketika masa paceklik tiba, diriwayatkan Umar pernah berkata, "biar aku menjadi orang terakhir yang merasakan lapar dari rakyatku".
Lalu kemana pemimpin sekarang? Saya tahu permasalahan yang dihadapi pemimpin saat ini jauh lebih kompleks dari masa Umar. Namun bukan disitu letak point yang ingin saya tekankan. Gaya pemimpin saat ini saya nilai cenderung lebih elitis dan kurang memasyarakat. Tolak ukur ekonomi yang diperhitungkan hanya dalam batasan ekonomi makro. Jelas saja penderitaan rakyat "cilik" tidak terbaca. Benar, urusan kekuatan nilai tukar rupiah terhadap dolar tetap harus diperhitungkan, tapi bukan berarti distribusi rupiah di kalangan "wong cilik" jadi luput dari perhatian.
Sungguh hati saya serasa tersayat-sayat mendengar dan membaca berita kelaparan ini. Padahal ini hanya sebagian dari yang terekspos saja. Masih banyak di daerah pedalaman dan daerah terdampak bencana alam yang masyarakatnya mengalami nasib serupa. Saya hanya bisa marah pada diri sendiri karena tidak bisa berbuat apa-apa.
Lagi-lagi kita harus membuka mata bahwa fenomena ini sangat kontras dengan yang dialami pejabat dan anggota dewan. Mereka bisanya hanya meminta gaji tambahan berupa tambahan tunjangan dengan alasan kepentingan produktivitas. Apa mereka masih "mentolo" makan gaji-gaji itu. Apa mereka tidak takut termasuk dalam firman Allah, "Mereka punya mata, tapi tak melihat. Mereka punya telinga tapi tak mendengar. Mereka punya hati, tapi tak merasa. Mereka seperti binatang, bahkan lebih parah". Kullukum Ro'in wa Kullukum Mas'ulun 'an Ro'iyatihi.
Saya jadi teringat kisah sebuah keluarga dalam masa khalifah Umar yang juga mengalami kelaparan. Sang Ibu menanak batu hanya untuk meyakinkan anaknya kalau akan ada makanan yang siap mereka santap, sambil berharap sang anak akan tidur dalam masa penungguannya. Khalifah Umar tentu saja menangis melihat ini. Ia tidak tega melihat rakyatnya jauh lebih buruk keadaannya dibanding dirinya.
Padahal kita tahu, Umar juga bukan dari golongan kaya raya. Bahkan dalam sebuah riwayat disebutkan, kalau Umar setiap malam tidur hanya dengan beralaskan pelepah kurma, suatu pemandangan yang pasti tidak lazim dilakukan oleh seorang kepala negara.
Melihat ada salah satu rakyatnya yang demikian lapar, Umar pun rela memanggul sendiri bekal makanan yang akan ia berikan pada kelaurga lapar ini. Lagi-lagi pemandangan yang tidak lazim. Umar melakukan semua ini karena ia khawatir tidak dapat mempertanggung jawabkan kepemimpinannya di hadapan Allah kelak. Bahkan ketika masa paceklik tiba, diriwayatkan Umar pernah berkata, "biar aku menjadi orang terakhir yang merasakan lapar dari rakyatku".
Lalu kemana pemimpin sekarang? Saya tahu permasalahan yang dihadapi pemimpin saat ini jauh lebih kompleks dari masa Umar. Namun bukan disitu letak point yang ingin saya tekankan. Gaya pemimpin saat ini saya nilai cenderung lebih elitis dan kurang memasyarakat. Tolak ukur ekonomi yang diperhitungkan hanya dalam batasan ekonomi makro. Jelas saja penderitaan rakyat "cilik" tidak terbaca. Benar, urusan kekuatan nilai tukar rupiah terhadap dolar tetap harus diperhitungkan, tapi bukan berarti distribusi rupiah di kalangan "wong cilik" jadi luput dari perhatian.
Sungguh hati saya serasa tersayat-sayat mendengar dan membaca berita kelaparan ini. Padahal ini hanya sebagian dari yang terekspos saja. Masih banyak di daerah pedalaman dan daerah terdampak bencana alam yang masyarakatnya mengalami nasib serupa. Saya hanya bisa marah pada diri sendiri karena tidak bisa berbuat apa-apa.
Lagi-lagi kita harus membuka mata bahwa fenomena ini sangat kontras dengan yang dialami pejabat dan anggota dewan. Mereka bisanya hanya meminta gaji tambahan berupa tambahan tunjangan dengan alasan kepentingan produktivitas. Apa mereka masih "mentolo" makan gaji-gaji itu. Apa mereka tidak takut termasuk dalam firman Allah, "Mereka punya mata, tapi tak melihat. Mereka punya telinga tapi tak mendengar. Mereka punya hati, tapi tak merasa. Mereka seperti binatang, bahkan lebih parah". Kullukum Ro'in wa Kullukum Mas'ulun 'an Ro'iyatihi.
Langganan:
Postingan (Atom)
