Bagiku tidak ada cinta pada pandangan pertama. Cinta -sedemikian rupa- mustahil untuk lahir dan muncul begitu saja. Cinta berbeda dengan suka maupun sayang. Meski di dalam cinta terdapat keduanya, namun masing-masing menurutku tidaklah sinonim. Cinta itu berbicara tentang keabadian, satu hal yang tidak bisa ditemukan dalam suka atau sayang. Terserah apa yang orang defenisikan tentang cinta, bagiku tidak ada yang akan mampu mendefinisikannya dengan tepat, sempurna, dan representatif. Bagi pengemis, cinta mungkin seharga receh dari orang berpunya yang entah diberikan atas dasar ikhlas, iba, atau sekedar risih melihat tampang para pengemis yang mendekati mereka. Susu ibu bisa jadi adalah hadiah cinta terindah bagi para bayi di tengah rengekan dan tangisan mereka. Bahkan BLT besar kemungkinan dianggap wujud cinta pemerintah terhadap rakyatnya.
Demikianlah bila cinta dilihat dari sudut pandang inderawi. Ia hanya akan berwujud pada hal-hal yang terbatas. Aku tidak mengatakan kalau cinta itu sama sekali lepas dari inderawi, namun cukuplah itu menjadi semacam alat bantu saja. Layaknya senter saat mencari emas di gelap malam padang pasir atau layaknya tabung oksigen penyelam saat mencari dan mengambil kerang mutiara di dasar lautan. Keagungan, keindahan, dan pesona emas maupun mutiara tidak berhubungan dengan senter atau tabung oksigen tadi. Tidak pula dengan berat usaha dalam mencarinya. Ia telah melekat dengan sendirinya pada benda itu. Pun demikian dengan cinta.
Cinta tidak perlu melalui proses pensucian diri untuk membuatnya suci. Ia juga tidak butuh pujian dari orang lain untuk menjadikannya berharga. Berapapun banyak orang yang mengotori cinta, tidak sedikitpun mengurangi keluhurannya. Ia hanya dan akan selamanya bercerita tentang keindahan dan kenyamanan. Atas dasar itulah, cinta -menurut pendapatku- tidak akan datang menghampirimu pada pandangan pertama. Itu hanya proses penerjemahan inderamu ke dalam alam pikiranmu, belum sampai ke alam bawah sadarmu. Ada berapa banyak baju yang kamu suka saat kamu memasuki sebuah mall atau toko baju? Pasti ada beberapa. Kamu pun membanding-bandingkannya sampai akhirnya menjatuhkan pilihan pada salah satu dari baju-baju indah itu. Tapi apakah kamu mencintai baju itu? Jawabannya belum. Buktinya, begitu banyak kau memiliki baju di rumah yang kau pilih dengan proses yang sama. Di antara baju di rumah, pasti ada baju yang menjadi favoritmu. Apakah baju itu yang kau cintai? Jawabannya bukan. Itu karena yakinlah label favorit tersebut akan berpindah ke baju yang lain suatu saat nanti. Sekali lagi cinta hanya berbicara tentang ”keabadian”, bukan keterbatasan waktu dan ruang.
Sebetulnya aku hanya ingin mengatakan, kalau tidak mudah untuk menyebut dan mendefinisikan perasaan kita sebagai cinta. Tentu aku tidak memaksa semua orang untuk berpendirian sepertiku. Hanya saja, bagiku sangat tampak nyata perbedaan antara sayang dan cinta. Lebih mudah konsekuensi yang harus kutanggung untuk menyebut sayang pada seorang gadis daripada mengungkapkan lima huruf yang terangkai dalam kata c-i-n-t-a. Atas nama sayang, cukuplah bagiku menerobos derasnya hujan untuk mengantarkan gadis itu pulang karena khawatir terhadap kesehatannya, tak menghiraukan dinginnya malam untuk sekedar mengunjunginya, melihat wajah, dan memastikan kesedihannya telah hilang, memanjakan dan menuruti kemauan gadis itu hanya agar dia tersenyum, atau juga menjadikannya nyaman dengan menerima segala kekurangan dalam dirinya.
Aku tidak mengatakan kalau sayang itu bertentangan dengan cinta. Tapi sayang bagiku ”sekedar” pancaran dari cinta. Karena sekedar pancaran, maka sudah barang tentu cinta masih lebih dari itu. Cinta itu bukan sekedar memberi. Meski aku sendiri sering mendefinisikannya sebagai seni memberi (art of giving), tapi hakikinya lebih dalam dari itu. Dari itulah, aku tidak yakin sampai saat ini memiliki keberanian dan kemantapan untuk mengungkapkan cinta. Karena begitu aku mencintai, maka sejatinya aku juga harus bersedia menafikan dan meleburkan diriku sendiri. Kalaupun pernah aku mengatakan kata itu pada seorang gadis, mungkin itu karena aku yang masih bau kencur saat itu. Belum mampu membedakan syariat dan hakikat, pikiran dan hati, atau keterbatasan dan keabadian.
Dalam konteks mencintai seorang gadis, cinta menurutku lebih tentang visi dan misi. Apa yang ingin didapatkan dari sebuah hubungan mencintai. Bukan apa yang bisa didapat dari orang yang kita cintai. Jadi, cinta itu meniscayakan adanya main goal yang jelas, adanya tujuan agung yang ingin dicapai bersama. Mungkin itulah yang menyebabkanku berkeyakinan mustahil ada cinta pada pandangan pertama atau datang tiba-tiba. Cinta adalah akumulasi dan puncak dari sebuah kenyamanan rasa, sehingga bagaimana mungkin itu dapat hadir sedemikian mudahnya.
So, dimana cinta bisa kita temukan? Salah besar kalau banyak orang mencari dan menilai cinta melalui orang lain. Ganti-ganti pacar hanya dengan alasan mencari cinta adalah tindakan terbodoh yang seharusnya tidak ditiru. Mungkin aku, kamu, mereka, atau kalian pernah berpikir hal bodoh tersebut. Tapi ketahuilah bahwa cinta itu sejatinya ada dalam diri dan hati kita yang terdalam, hati yang luasnya jauh melebihi samudera, langit, dan seluruh angkasa raya. Tuhan mengisyaratkan bahwa tidak ada yang mampu menampung keagungan dan kebesaran-Nya, hanya hati seorang mukmin yang sanggup melakukannya. Bukan aku menyamakan cinta dengan Tuhan, Tapi cinta memang cukup agung, hingga Tuhan pun mewajibkan dirinya untuk memiliki rasa cinta. Keagungan itu pula yang meniadakan kemungkinan cinta didapat atas jalan yang sangat mudah. Perlu berhadapan dengan 7 macam lembah cobaan, 7 jurang halangan, bahkan mungkin 7 pisau rintangan untuk menemukan apa yang kau sebut dengan cinta.
Kalau ada yang bertanya, dari mana kita bisa belajar cinta? Pertanyaan ini akan kujawab dengan analogi pertanyaan juga, dari mana kita belajar paling baik tentang seluk beluk mobil? Dari siapa sebaiknya kita bertanya tentang suatu rumah? Kepada siapa seharusnya kita mengadu tentang nasib? Jawabnya kepada pencipta mobil, pemilik rumah, dan penentu nasib. Pun demikian dengan cinta. Tempat belajar yang paling tepat adalah kepada pencipta, pemilik, dan penentu cinta, Dzat yang bahkan lebih dekat kepada kita di banding urat leher kita. Itulah kenapa Tuhan akan meletakkan seseorang bersama orang yang dicintainya kelak di akhirat. Apakah kau anggap demikian mudah mencintai Muhammad hingga kau begitu yakin dapat bersamanya kelak? Allah dan Muhammad mencintaimu, itu fakta yang harus kau terima. Tapi apakah kau sudah benar-benar membalas cintanya? Wallahu a’lam.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar