Ada seseorang yang berkata, ”Hanya satu seni yang dikuasai perempuan, yaitu mencintai dan dicintai”. Itulah agaknya yang menjadi sebab sehingga Allah menganugerahi perempuan kemampuan menangis, cemburu, dan berduka, serta kesediaan berkorban untuk kekasih –menganugerahi mereka hal-hal tersebut- melebihi anugerah-Nya kepada lelaki karena air mata mengundang kasih dan cinta, pengorbanan menyuburkannya, cemburu menghangatkannya, sedangkan duka cinta tidak terobati kecuali dengan cinta pula. Cinta kepada lawan jenis bagi perempuan adalah kisah romantis yang pelakon utamanya adalah perempuan, walau sutradaranya adalah lelaki.
Bagi perempuan, cinta adalah harapan, bahkan hidup adalah cinta, sehingga perempuan bersedia berkorban demi cintanya. Dia bersedia meninggalkan ayah dan ibu serta saudara-saudaranya demi mengikuti suami atau kekasih yang dicintainya. Bagi perempuan, pengorbanan demi cinta bukanlah kematian, tetapi kehidupan, karena tanpa cinta perempuan tak dapat hidup. Kematian bagi mereka adalah hidup tanpa cinta. Lelaki yang mencintai biasanya menuntut yang banyak atau memberi dengan perhitungan, tetapi perempuan yang bercinta mempersembahkan tanpa batas dan, karena mereka tidak mengenal batas dalam pemberian, mereka mneyerahkan diri mereka kepada siapa yang mereka cintai.
Sungguh saat ironis bila saat ini justru banyak perempuan yang tersakiti karena cinta. Padahal merekalah makhluk yang paling berhak atas cinta. Kalau mau belajar cinta, belajarlah dari perempuan. Merekalah yang paling mengerti bagaimana caranya mencinta dan dicinta. Sekali ada wanita tersakiti, maka sebenarnya cintalah yang akan marah.
Cinta ibarat pohon yang tumbuh subur di dalam hati. Akarnya adalah kerendahan hati kepada kekasih, batangnya adalah pengenalan kepadanya, dahannya adalah rasa takut kepada Tuhan dan kepada makhluk –jangan sampai ada yang menodainya -dedaunannya adalah rasa malu –malu mempermalukan dan dipermalukan- buahnya adalah kesatuan hati yang melahirkan kerja sama, sedangkan air yang menyiraminya adalah mengingat dan menyebut-nyebut namanya.
Cinta bukanlah permintaan untuk memenuhi keinginan sesaat, tetapi ia adalah pemberian, kedermawanan, dan pengorbanan tanpa pamrih. Hal-hal mana sudah sangat langka pada masa ini. Korban yang paling banyak di sini adalah perempuan, makhluk yang mestinya paling tinggi dan dalam rasa cintanya.
Terima kasih buat semua orang yang mengajariku banyak tentang cinta dan kehormatan perempuan. Semua guru mayaku, semua kekasih imajinerku, dan seorang sahabat yang akhir-akhir ini telah menyadarkanku. Kepada kalian kupersembahkan rasa kagum dan cintaku.....
Rabu, 20 Agustus 2008
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar