Begitu banyak orang menyepelekan mimpi. Bagi mereka mimpi hanya dianggap bunga tidur. Padahal bagiku mimpi adalah tempat dimana kita bebas berekspresi, tempat dimana tidak seorang pun dapat menutupi kotornya jiwa atau putihnya hati yang kita miliki. Lihat saja berapa kali nabi mendapat wahyu melalui mimpi, berapa kali para ulama mendapat ilham saat mereka tertidur. Ini adalah bukti bahwa mimpi pada dasarnya adalah cerminan diri kita seutuhnya dan sebenar-benarnya
Para penakut mungkin bisa jadi lebih sering memimpikan hantu atau apapun yang semisal. Anak-anak kecil sering bermimpi bisa terbang jadi superman. Itu sejatinya dikarenakan sekali lagi mimpi adalah cerminan masing-masing pribadi. Jadi kalau anda masih suka bermimpi yang aneh-aneh, itu artinya ada yang masih "aneh" dalam diri anda. Bukankah fitrah manusia lahir dalam keadaan suci? maka bila kesucian itu telah anda kotori dengan ke"aneh"an "aneh"an tersebut, Jangan marah bila mimpi anda seringkali aneh.
Bagi orang yang sedang jatuh cinta, mungkin ia akan sering terganggu dengan kehadiran pujaan hatinya. Begitulah yang selama ini terjadi pada orang-orang yang kasmaran. Kalau kekasih anda tidak pernah memimpikan anda, mungkin perlu dipertanyakan besarnya cintanya pada anda?
Begitu pula sebaliknya.
Mungkin anda selama ini bertanya-tanya, bagaimana sich orang-orang yang 'alim itu menyalurkan hasrat seksualnya saat belum menikah (maaf ini ilmiah.. jangan diinterpretasikan berlebihan)? Ada seorang teman penulis yang berawal dari pertanyaan ini kemudian berani membuat kesimpulan bahwa sealim apapun orang tersebut berperangai pasti ia pernah melakukan "dosa seksual" dalam hidupnya. Hanya mungkin porsi dan kualitasnya saja yang membedakannya dengan orang yang bejat. Kesimpulan ini ia ambil berdasar pada asumsi bahwa hasrat seksual adalah hasrat mendasar yang juga menempati posisi teratas untuk dipenuhi kebutuhannya.
Saya tidak dalam posisi menyalahkan atau membenarkan argumentasi teman saya tersebut. Namun yang pasti alam mimpi juga menyediakan fasilitas bagi semua manusia untuk menyalurkan hasrat seksualnya. Apa yang haram dilakukan di dunia nyata (berciuman, berpelukan, atau mungkin melakukan hubungan intim dengan lain jenis yang tidak terikat pernikahan) hukumnya halalan thoyyiban (boleh-boleh saja) dilakukan dalam dunia mimpi. Oleh karenanya, kesimpulan teman saya di atas bisa jadi cukup lemah dengan fakta ini. Orang-orang 'alim sangat mungkin mempercayakan pada dunia mimpi untuk mengatur pemenuhan kebutuhan hasrat seksual mereka.
Tapi, bukan berarti yang mimpi basah hanya orang-orang 'alim saja. Logikanya tidak bisa dibalik seperti itu. Kealiman tentu saja sama sekali tidak memiliki korelasi dengan sering tidaknya seseorang tersebut mimpi basah. wallahu a'lam.
Senin, 11 Agustus 2008
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar