Senin, 03 Maret 2008

Lagi-Lagi Kelaparan; Pemerintah... Belajarlah dari Umar!

Hari ini ramai diberitakan kematian seorang Ibu dan anaknya yang misterius. Selidik punya selidik ternyata dua orang dalam satu keluarga tersebut mati akibat kelaparan. Tragis memang, di zaman sekarang masih saja ada berita kelaparan di negeri ini. Alasannya, tentu saja bukan karena kita tidak memiliki lahan yang subur, sehingga seringkali kekurangan stok makanan. Bangsa ini sungguh kaya, bahkan sangat kaya.

Saya jadi teringat kisah sebuah keluarga dalam masa khalifah Umar yang juga mengalami kelaparan. Sang Ibu menanak batu hanya untuk meyakinkan anaknya kalau akan ada makanan yang siap mereka santap, sambil berharap sang anak akan tidur dalam masa penungguannya. Khalifah Umar tentu saja menangis melihat ini. Ia tidak tega melihat rakyatnya jauh lebih buruk keadaannya dibanding dirinya.

Padahal kita tahu, Umar juga bukan dari golongan kaya raya. Bahkan dalam sebuah riwayat disebutkan, kalau Umar setiap malam tidur hanya dengan beralaskan pelepah kurma, suatu pemandangan yang pasti tidak lazim dilakukan oleh seorang kepala negara.

Melihat ada salah satu rakyatnya yang demikian lapar, Umar pun rela memanggul sendiri bekal makanan yang akan ia berikan pada kelaurga lapar ini. Lagi-lagi pemandangan yang tidak lazim. Umar melakukan semua ini karena ia khawatir tidak dapat mempertanggung jawabkan kepemimpinannya di hadapan Allah kelak. Bahkan ketika masa paceklik tiba, diriwayatkan Umar pernah berkata, "biar aku menjadi orang terakhir yang merasakan lapar dari rakyatku".

Lalu kemana pemimpin sekarang? Saya tahu permasalahan yang dihadapi pemimpin saat ini jauh lebih kompleks dari masa Umar. Namun bukan disitu letak point yang ingin saya tekankan. Gaya pemimpin saat ini saya nilai cenderung lebih elitis dan kurang memasyarakat. Tolak ukur ekonomi yang diperhitungkan hanya dalam batasan ekonomi makro. Jelas saja penderitaan rakyat "cilik" tidak terbaca. Benar, urusan kekuatan nilai tukar rupiah terhadap dolar tetap harus diperhitungkan, tapi bukan berarti distribusi rupiah di kalangan "wong cilik" jadi luput dari perhatian.

Sungguh hati saya serasa tersayat-sayat mendengar dan membaca berita kelaparan ini. Padahal ini hanya sebagian dari yang terekspos saja. Masih banyak di daerah pedalaman dan daerah terdampak bencana alam yang masyarakatnya mengalami nasib serupa. Saya hanya bisa marah pada diri sendiri karena tidak bisa berbuat apa-apa.

Lagi-lagi kita harus membuka mata bahwa fenomena ini sangat kontras dengan yang dialami pejabat dan anggota dewan. Mereka bisanya hanya meminta gaji tambahan berupa tambahan tunjangan dengan alasan kepentingan produktivitas. Apa mereka masih "mentolo" makan gaji-gaji itu. Apa mereka tidak takut termasuk dalam firman Allah, "Mereka punya mata, tapi tak melihat. Mereka punya telinga tapi tak mendengar. Mereka punya hati, tapi tak merasa. Mereka seperti binatang, bahkan lebih parah". Kullukum Ro'in wa Kullukum Mas'ulun 'an Ro'iyatihi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar