Sekali lagi kita diramaikan dengan aksi brutal Front Pembela Islam (FPI) saat menyelesaikan masalah. Aksi yang terjadi di Monas bukanlah aksi pertama yang menyita perhatian banyak kalangan. Sebelumnya, dari club malam sampai kantor majalah playboy pernah menjadi sasaran amuk massa FPI. Tampaknya budaya penegakan masalah dengan penyerangan dan pengerusakan telah menjadi modus operandi tersendiri bagi mereka. Bedanya insiden Monas di publish habis-habisan oleh media karena kelompok yang mereka serang saat itu adalah kelompok yang memiliki basis massa besar. Dalam hal ini tentu saja yang saya maksud adalah Nahdlatul Ulama.
Banyak kalangan yang berpraduga bahwa insiden ini sengaja didesain sedemikian rupa agar fokus masyarakat pada kenaikan BBM menjadi beralih. Kemungkinan tersebut memang selalu terbuka untuk menjadi kenyataan. Hanya saja, kita juga jangan sampai lupa bahwa aksi kekerasan tersebut tetaplah sebuah kejahatan yang harus dipertanggung jawabkan oleh para pelakunya. Apapun alasan massa penyerang, tetaplah tindakan mereka tidak bisa dibenarkan dari sudut pandangan manapun.
Kalau Habib Rizieq mengatakan bahwa massa penyerang terprovokasi karena sebutan laskar setan dari orang-orang yang menjadi korban penyerangan. Kemudian menghalalkan mereka untuk melakukan penyerangan. Maka apakah Habib Rizieq juga layak dipukuli massa pendukung gusdur, karena menyebut gusdur buta mati dan buta hati, bahkan dituduh antek yahudi (wawancara TVone)? tentu bukan itu solusinya. Padahal, Kecuali buta mata, tuduhan Habib Rizieq yang lain pada gusdur pasti akan masih perlu diperdebatkan kebenarannya. Makanya banyak warga NU di bawah yang bereaksi pada insiden tersebut.
Susahnya memang, ketika mereka membawa-bawa nama jihad dalam setiap aksi penyerangan yang mereka lakukan. Jadi, mereka dibunuh sekalipun pasti merasa mati dalam keadaan syahid. Padahal perintah penyerangan dalam Jihad berdasarkan aturan syara' harus dilakukan melalui perintah Imam. Pertanyaannya, apakah Habib Rizieq layak untuk disebut Imam? Tak pernah gentar memang ciri yang harus dimiliki imam yang ideal. Tapi tak pernah gentar tentu tidak identik dengan keras kepala, apalagi berpikir singkat sebelum berbuat. Belum lagi fakta ungkapan tidak baik yang pernah ia lontarkan pada orang lain. Siapapun orangnya, tentu ungkapan-ungkapan tersebut tidak pernah dicontohkan Rasulullah.
Bagaimanapun juga, Bukankah Allah menjamin orang yang masih ada keimanan walau sebesar dzarrah dalam dirinya akan tetap masuk syurga? Lalu atas dasar apa kita tidak menganggap orang lain, apalagi yang jelas-jelas seiman sebagai saudara, sementara Allah masih bersedia menjanjikan syurga-Nya padanya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar