<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-5715123733357252427</id><updated>2012-02-16T14:39:23.341+07:00</updated><category term='Agama Cinta (in seasons)'/><category term='Tasawwuf'/><category term='Robit Menjawab'/><category term='Buletin'/><category term='Tafakkur'/><category term='Curhat'/><title type='text'>ROBITUL FIRDAUS; TEBARKANLAH CINTA</title><subtitle type='html'>AKU ADA, AKU BESAR, AKU HIDUP, KARENA CINTA / CINTA-NYA ALASANKU UNTUK BERJUANG / CINTA BUKAN UNTUK DIIMAJINASIKAN / CINTA TERCIPTA UNTUK DISEDEKAHKAN</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://robitfirdaus.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5715123733357252427/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://robitfirdaus.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Robitul Firdaus</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15873571037972114090</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_dAbyJD8_VgQ/SJFTl1jwoNI/AAAAAAAAADU/KelUHDoWq8c/S220/Aku.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>43</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5715123733357252427.post-2082520683000191392</id><published>2010-12-30T22:00:00.002+07:00</published><updated>2010-12-30T22:07:21.686+07:00</updated><title type='text'>Catatan Dari Bukit Jalil; Fikih Sepak Bola (Part 2-End)</title><content type='html'>Terakhir kali kubaca tulisanku ini sebelum akhirnya kuposting, sebenarnya aku sedang diliputi kesedihan mendalam dan kebahagiaan semu, kawan. Aku sedih –sudah pasti kalian tahu- karena akhirnya Timnas Indonesia-ku gagal “mempertahankan” piala AFF untuk tetap berada di Jakarta, karena piala itu dibawa pergi ke negeri Malaysia. Tapi, aku bahagia karena tulisanku hari ini bisa kurampungkan sehubungan dengan pengumuman bahwa Jum’at (31/12/’10) besok adalah public holiday (libur bersama) di Malaysia. Itu artinya aku punya cukup waktu lebih hari ini. Namun tetap saja –seperti kubilang- ini kebahagiaan semu, kawan, karena libur bersama di Malaysia ini sebagai bentuk perayaan (celebration) atas kemenangan Timnas Malaysia membawa pulang Piala AFF dari Jakarta. “Ah, ada-ada saja Malaysia ini, piala AFF sampai bisa meliburkan dunia pendidikan”, pikirku saat aku mendengar pengumuman itu.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kawan, aku akui judul yang kupilih di atas harusnya memang untuk sebuah buku. Terasa kurang cocok kalau dipergunakan untuk sebuah artikel pendek. “Too General”, itu mungkin alasannya. Bahasa fikih memang mencakup sekian banyak pembahasan “njlimet” yang tak akan pernah bisa dibatasi, kawan. Tapi aku mengajak kalian untuk berpikir out of box dan keluar dari pemahaman yang sudah umum. Aku meyakini bahwa sebenarnya, tak ada satu pun aktivitas manusia yang luput dari bahasan fikih. Baik langsung maupun tidak langsung, manusia dengan seluruh kegiatannya pasti berhubungan dengan salah satu aktivitas fikih. Terlebih kalau kita menggunakan makna harfiah fikih yang berarti pemamahan, maka tentu saja semuanya bisa masuk dan bisa dimasuki fikih, tidak terkecuali sepak bola. Maka apa yang kusebut fikih sepak bola bukan sebuah hal yang mengada-ada atau hanya istilah iseng, kawan. Itu nyata bisa didiskusikan, ilmiah, dan bisa dipertanggungjawabkan secara akademik. Pemilihan kata fikih juga bukan kutujukan untuk menunjukkan sakralitas tulisan ini, justru sebaliknya agar kalian tahu bahwa tulisan ini berdasarkan subjetivitas pemahamanku yang mungkin salah, tapi juga mungkin mengandung kebenaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun kalian tidak perlu khawatir, kawan, karena aku sedang tidak menulis paper buat tugas kuliah, jadi aku tidak akan membahasnya se”njlimet” tulisan akademik. Untuk membatasi bahasan pada artikel ini, aku hanya akan menganalisis hasil pengamatan dari apa yang kulihat, kudengar, dan kurasakan selama beberapa jam berada di Bukit Jalil Stadium. Setidaknya ada dua hal yang ingin aku share dengan kalian, kawan. Pertama, tentang fikih sholat suporter bola, dan kedua tentang fikih nasionalisme suporter bola.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Fikih Sholat Suporter Bola&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jujur saja kawan, pagi hari sebelum berangkat menuju stadion, aku sebetulnya sudah berpikir untuk “mungkin terpaksa” tidak melakukan sholat maghrib di hari itu. Kalian tahu pasti bahwa pertandingan tersebut berlangsung hanya setengah jam setelah masuk waktu maghrib. Cukup sulit untuk keluar stadion guna menunaikan Maghrib di tengah sesak penuh suporter bola, begitu pikirku waktu itu. Aku pun meyakinkan diriku kalau Tuhan sang Maha Welas Asih pasti punya banyak rahmat untuk mengampuni kesalahanku di hari itu. Rencana kedua yang ada di benakku saat itu mungkin aku bisa melakukan sholat –walau tidak sempurna- saat berada dalam stadion di antara sela-sela bangku penonton. Kalau perlu sekalian kuajak sahabat-sahabatku yang lain untuk berjama’ah, biar tidak tampak aneh sholat sendirian. Itu semua terlintas dalam rencanaku, kawan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alternatif lain juga sudah kupersiapkan, kawan. Beginilah kalau banyak tahu fikih ibadah, malah makin banyak tahu beragam pilihan yang memungkinkan untuk dilakukan. Memang terkadang orang yang tak terlampau banyak tahu tentang pilihan-pilihan dalam fikih, menurutku justru baik dari satu sisi. Mereka yang tak alim fikih itu biasanya bermain pada wilayah aman, mengikuti aturan dasar, dan melaksanakan qaul (pendapat) yang dianut mayoritas ulama. Mereka hanya tahu satu pilihan yang mereka anggap benar dan mereka serius dengan itu. Berbeda dengan aku, yang sebenarnya sudah mencoba untuk juga bermain aman, namun kadang “dipaksa” untuk tetap memikirkan “pendapat-pendapat” yang mungkin tidak populer bagi sebagian orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alternatif yang kupersiapkan tadi adalah kemungkinan untuk melakukan jama’ (mengumpulkan) antara sholat Maghrib dan Isya’.  Pemikiran ini sudah pasti tampak tidak populer, kawan, karena memang begitulah faktanya. Bahkan bisa jadi aku dicap telah menciptakan syari’at baru, karena dianggap mengada-ada. Mayoritas memang memahami bahwa jama’ sholat hanya bisa dilakukan bila berada dalam sebuah perjalanan (safar) yang minimal menempuh jarak + 80-90 KM. Sementara aku yang tidak dalam perjalanan, malah cuman “nongkrong” di stadion, bisa-bisanya berpikir melakukan jama’ sholat Maghrib dan Isya’. Tapi tunggu dulu, kawan, Jangan dulu menghakimi pikiranku. Karena apa yang kupikirkan belum tentu kulakukan, sebagaimana apa yang kuyakini halal -seperti poligami- belum tentu juga aku anjurkan, apalagi aku lakukan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam nawawi berkata, "beberapa imam memperbolehkan jama’ bagi orang yang tidak musafir, bila ada suatu kepentingan, dengan catatan tidak dijadikan sebagai kebiasaan." pendapat ini dikuatkan dari riwayat ibnu abbas bahwa Rasulullah pernah menjamak shalat zuhur dengan ashar serta maghrib dengan isya di madinah, bukan karena ketakutan atau hujan. ibnu abbas ditanya, "mengapa nabi Saw. berbuat demikian?" ia menjawab, "agar beliau tidak menyulitkan ummatnya." (HR Muslim).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, sebetulnya aku punya landasan untuk menjama’ sholat Maghrib dan Isya’, kawan, karena ada suatu kepentingan (hajah mubah) dan aku pun tidak menjadikannya kebiasaan (hanya pas nonton di stadion saja). Tapi, kebolehan men-jama’ sholat tanpa ada alasan ini sebenarnya masih kontroversial, kawan. Setidaknya bisa aku sebut bahwa qaul ini adalah pendapat langka (syadz) yang kusarankan sebaiknya tidak kalian ikuti. Maaf kawan, tidak bisa kujelaskan di sini kontroversi yang kumaksudkan tadi, karena memang bukan itu yang sedang coba kutulis. Hanya satu hal yang penting bahwa pendapat itu memang ada dan bukan aku yang membuatnya ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali ke Bukit Jalil, kawan. Apa yang kujelaskan di atas itu baru ada dalam tahapan rencana dan pemikiran. Aku sekedar mempersiapkan kemungkinan-kemungkinan yang bisa kupilih saat aku telah tiba di Bukit Jalil. Tapi syukur Alhamdulillah, ternyata tiga rencana “nyeleneh”ku tak sampai kulakukan, kawan. Bayanganku tentang Bukit Jalil tidak sama dengan yang kutemukan saat aku memasuki stadion tersebut. Kukira aku akan kesulitan menemukan surau atau musholla. Ah, ternyata tersedia banyak surau di dalam stadion dengan tempat wudlu yang sangat memadai. Rencana-rencana itupun kubatalkan semua, karena aku bisa dengan nyaman melaksanakan sholat Maghrib, bahkan dengan berjama’ah bersama suporter Malaysia dan Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi maaf kawan, aku harus jujur –meski agak malu- mengatakan bahwa dari puluhan ribu penonton Indonesia di Bukit Jalil, hanya sedikit yang kulihat meluangkan waktu 10-15 menit untuk meninggalkan bangkunya menuju surau terdekat. Mungkin karena memang semuanya berjubel untuk duduk, padahal tidak semuanya kebagian kursi. Aku pun harus bergantian dengan temanku untuk menjaga tempat duduk yang sudah kita kuasai dari 2 jam sebelumnya. Aku pun sempat geleng-geleng kepala, kenapa di surau yang berada tepat di bawah kursi suporter Indonesia, justru ada banyak suporter Malaysia yang sholat. Ke mana suporter Indonesia? Logikanya, surau itu semestinya dipenuhi suporter Indonesia, kawan, karena itulah surau terdekat dari kumpulan ribuan suporter Indonesia, meski kenyataannya tidak demikian, kawan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, di luar itu semua, surau itu menghadirkan ketakjuban lain buatku, kawan. Aku takjub melihat kebersamaan dan kedamaian luar biasa antara beberapa suporter Indonesia dan Malaysia di tengah jama’ah sholat. Seandainya saja mereka belajar dari sportivitas di dalam sholat itu, tentunya tak akan kalian temukan makian dan lemparan botol selama pertandingan berlangsung. Mereka pasti akan saling respek dan bersahabat satu dengan yang lain. Sayangnya mereka tidak belajar dari falsafah shalat berjama’ah, kawan, sehingga kalian pun tahu kalau makian dan lemparan itu akhirnya terjadi sepanjang pertandingan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski susah akalku menerima, tapi aku tetap berbaik sangka (khusnuddzon) –sebagaimana agama mengajariku- terhadap para suporter yang kulihat sama sekali tidak beranjak menuju surau itu, kawan. Ada yang masih teriak-teriak di dekat pagar pembatas, tapi mayoritas duduk manis, hanya sesekali saja berdiri berteriak, sambil menunggu pertandingan berlangsung. Pertama, mungkin saja mereka bukan Muslim, sehingga mereka tidak diwajibkan shalat. Kedua, bisa jadi mereka berpikiran sama dengan yang sempat kupikirkan untuk menggunakan alternatif ketiga, yaitu mengumpulkan (jama’) shalat Maghrib sekalian dengan Maghrib sepulang dari Bukit Jalil. Ah, aku tak mau ambil pusing lah, kawan. Berbaik sangka akan jauh lebih menenangkan hati dan pikiranku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persoalannya sekarang adalah:&lt;br /&gt;1. Apakah semua stadion di Indonesia –yang memiliki mayoritas penduduk Muslim- peka terhadap pentingnya kuantitas dan kualitas surau di dalam stadion?? Kalau sebagian suporter bola ada yang tidak shalat karena beralasan tidak ada surau atau fasilitas yang memadai, tidakkah itu berarti (pemerintah) daerah –sebagai pengelola stadion- turut berkontribusi terhadap penyebab “dosa” para suporter bola, sehingga mereka pun harusnya turut ber”dosa”?&lt;br /&gt;2. Kalaulah stadion-stadion di Indonesia telah memiliki fasilitas tempat sholat yang memadai, akankah para suporter bola menggunakannya? Ataukah akan bernasib sama seperti masjid dan surau-surau di jalan umum yang hanya dijadikan persinggahan untuk tempat kencing dan (maaf) be’ol musafir muslim?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekali lagi pertanyaan-pertanyaan tersebut tidak membutuhkan jawaban, kawan, tapi butuh tindakan perubahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Fikih Nasionalisme Suporter Bola&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat berada di tengah-tengah suporter bola di Bukit Jalil, tidak ada yang kurasakan sebesar nasionalisme suporter yang terpancar melalui atribut, teriakan nasionalis, dan wajah-wajah penuh harapan serta keyakinan terhadap masing-masing tim nasional. Mereka seperti para komandan perang yang berteriak kencang memacu semangat “para tentara” bersenjatakan bola yang sedang berjuang atas nama bangsa di tengah lapangan. Bahkan sebelumnya, pasca kemenangan beruntun Timnas Indonesia di babak penyisihan dari tim-tim lawan, nasionalisme menjadi topik hangat yang diperbicangkan di Indonesia, kawan. Sebuah survey menyebut bahwa rasa nasionalisme masyarakat Indonesia berada pada titik tertinggi saat Timnas dipastikan berhasil lolos ke babak final. Semua orang di Indonesia bangga dengan ke-Indonesian-nya. Semua orang Indonesia berteriak cinta Indonesia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi “ngomong-ngomong”, kawan sebetulnya tahu tidak apa sebenarnya makna nasionalisme? Jangan-jangan aku dan kalian “ngalor-ngidul” akan membahas nasionalisme, tapi kita sama-sama buta terhadap obyek yang kita bicarakan. Ok lah kawan, aku “copy-paste”kan aja definisi nasionalisme dari beberapa pakar agar kita bisa lebih obyektif, daripada kalian kupaksakan mengikuti definisiku.&lt;br /&gt;1. Huszer dan Stevenson: Nasionalisme adalah yang menentukan bangsa mempunyai rasa cinta secara alami kepada tanah airnya.&lt;br /&gt;2. L. Stoddard: Nasionalisme adalah suatu keadaan jiwa dan suatu kepercayaan, yang dianut oleh sejumlah besar individu sehingga mereka membentuk suatu kebangsaan. Nasionalisme adalah rasa kebersamaan segolongan sebagai suatu bangsa.&lt;br /&gt;3. Hans Kohn: Nasionalisme menyatakan bahwa negara kebangsaan adalah cita-cita dan satu-satunya bentuk sah dari organisasi politik, dan bahwa bangsa adalah sumber dari semua tenaga kebudayaan kreatif dan kesejahteraan ekonomi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kurasa kali ini kalian sudah mafhum maksud dari nasionalisme, kawan. Nah, tinggal persoalannya sekarang adalah bagaimana Islam memandang nasionalisme? Apakah nasionalisme termasuk paham yang diperbolehkan atau justru dianggap bertentangan dengan Islam? Ini masih berkaitan dengan suporter bola, kawan, karena kalau nasionalisme dihukumi boleh dan tidak bertentangan dengan Islam, maka hukumnya mubah (boleh) para suporter untuk datang ke stadion atas nama nasionalisme. Namun kalau ternyata bertentangan, ya berarti mayoritas suporter bola muslim di Bukit Jalil (setengahnya saja sekitar 45 ribuan, padahal pasti lebih) bisa dianggap sedang berada dalam kesesatan dan sedang mempraktekkan paham sesat, yaitu nasionalisme. Mungkin bagi penentang Ahmadiyah, sama sesatnya seperti paham Ahmadiyah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ok lah sebelum itu kuberi kalian deskripsi singkat, kawan. Sebagian pemikir memang menyatakan bahwa nasionalisme tidak sesuai dengan nilai-nilai Islam, karena keduanya berlawanan secara ideologis. Kriteria nasional sebagai basis bangunan komunitas ditolak Al-Quran, karena ia hanya bersifat nasional-lokal, sementara Islam mempunyai tujuan universal. Alasan lain adalah spirit sekular dalam nasionalisme yang menghendaki pemisahan tegas antara agama dan politik. Tapi menurutku, pemikiran pertama ini tampak tidak pas untuk diejawantahkan terhadap suporter bola, kawan, karena sejatinya para suporter bola tidak paham sejarah nasionalisme di eropa yang sekuleristik atau sejarah universalitas Islam melalui lembaga khilafah. Jadi bagaimana mungkin bisa menghukumi orang-orang yang memang pada dasarnya tidak mengerti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada juga pemikir yang tidak pukul rata atau “gebyah uyah” menghukumi “sesat” nasionalisme, kawan. Mereka masih memilah mana-mana nilai yang masih bisa diambil manfaat dari paham nasionalisme dan mana yang nyata-nyata tidak bisa dipraktekkan. Pemikiran ini didasarkan pada fakta bahwa afiliasi dan loyalitas kepada komunitas yang berdasarkan keimanan tidak berarti bahwa Islam melarang ikatan-ikatan lain selain ikatan berdasar keimanan. Alih-alih, Islam menganjurkan bentuk-bentuk ikatan lain, seperti ikatan keluarga, selama tidak bertentangan dengan Islam. Rasanya pemikiran kedua ini lebih pas untuk dijadikan alat ukur analisis nasionalisme ala suporter bola, kawan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maksudku begini kawan, kalau rasa nasionalisme para suporter bola yang mereka tunjukkan di stadion bertujuan membuktikan kecintaan mereka terhadap tanah air masing-masing, bagiku itu tidak ada masalah. Coba saja pikir, di mana letak nilai negatif dari perasaan cinta tanah air? Tidak ada sama sekali, kawan. Hanya yang perlu diperhatikan adalah bahwa perasaan cinta tanah air sendiri tidak harus selalu bergandengan dengan perasaan benci pada tanah air orang lain. Nah, pada poin inilah para suporter bola harus berhati-hati, karena cinta Indonesia tidak berarti benci Malaysia, demikian pula sebaliknya. Menyayangi Indonesia bukan berarti terus menghujat Malaysia. Itu nasionalisme yang berlebihan namanya. Islam tidak menyukai yang berlebih-lebihan alias kebablasan. Sikap semacam ini yang bertentangan dengan Islam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mencintai lokal Indonesia tidak berarti tidak setuju dengan universalitas Islam, kawan. Aku sayang penduduk Indonesia dan aku juga sayang orang-orang Muslim di luar Indonesia. Sayangku yang pertama karena kecintaanku pada tanah airku dan yang kedua karena demikian agama memerintahkanku. “Orang Muslim adalah saudara bagi Muslim yang lain”. Keduanya jangan dipertentangkan dan jangan pula saling mengalahkan. Tinggal bagaimana kita dengan tepat meletakkan sesuatu sebagaimana porsinya, kawan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sini pula letak paham nasionalisme suporter bola yang menurutku kebablasan, kawan. Mereka berniat untuk menunjukkan kecintaan yang sangat tinggi terhadap tanah air, tapi mereka terkadang salah menentukan caranya. Di zaman penjajahan, mungkin kecintaanmu terhadap tanah air bisa kau buktikan dari seberapa banyak penjajah yang kau bunuh, kawan. Tapi ini bukan lagi zaman perang. Ini bukan hubungan antaran Negara penjajah dan Negara terjajah. Dalam zaman modern, tidak perlu suporter bola menggunakan aplikasi nasionalisme ala zaman pra kemerdekaan yang mengidentikkan nasionalisme dengan keberanian memerangi Negara asing. Perbuatan sebagian suporter Indonesia melempari polisi Malaysia yang berjalan berkeliling lapangan Bukit Jalil -untuk memastikan keamanan- sepanjang pertandingan membuatku miris, kawan. Padahal apa salah para polisi itu? Toh mereka juga tidak sedang menangkapi para TKI. Lalu kenapa mereka para suporter harus marah? Itu bukan nasionalisme, kawan. Itu anarkisme namanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nasionalisme menurutku adalah ring atau lingkaran terdalam dari sebuah persatuan dan ikatan kekeluargaan. Masyarakat Indonesia dipersatukan oleh rasa kebangsaan yang sama. Di luar itu masih ada lingkaran-lingkaran lain yang juga mempersatukan masyarakat Indonesia. Dalam Islam misalnya, maka Islam menjadi lingkaran –setelah nasionalisme Indonesia- yang mempersatukan para pemeluknya sebagai satu saudara. Setelah itu masih ada lingkaran lain, seperti lingkaran kemanusiaan (humanisme) yang meletakkan manusia pada hak-hak dasar yang wajib dipenuhi. Jadi, tidak tepat kalau nasionalisme diposisikan sebagai puncak dari lingkaran persatuan dan ikatan. Masih banyak kekuatan dan ikatan di atas nasionalisme kebangsaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, dalam perspektif Islam, setidaknya ring Islam sebagai satu komunitas itu harus dihormati dan dipatuhi, kawan. Bila sebagai orang Islam, semestinya suporter bola Indonesia juga turut sadar bahwa orang-orang Malaysia yang mereka maki-maki itu adalah saudara seagama mereka. Bahwa mereka adalah saudara yang selalu didoakan dalam setiap khutbah-khutbah jumat di seluruh dunia. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Allahumma ighfir lil muslimin wal muslimat&lt;/span&gt; (Ya Allah ampunilah semua kaum muslimin dan muslimat). Sebagai sesama Muslim, sudah semestinya –yang namanya ukhuwah islamiyah- tetap dijaga. Sebetulnya bukan persoalan seagama atau bukan, kawan, tapi siapapun yang dimaki ya tetap salah, karena makian itu sendiri secara mandiri (dzatiyah) memang sebuah kesalahan. Sehingga singkatnya, kalau tidak bisa menghormati mereka karena beda bangsa, hormatilah mereka karena persamaan posisi sebagai umat Islam. Kalaupun bukan umat Islam, maka tetap berikan mereka rasa hormat sebagai sesama umat Tuhan. Itulah yang kumaksud dengan ring atau lingkaran ikatan persaudaraan, kawan. Jadi, jangan sampai ajaran agama yang tinggi itu kalian jual dengan harga murah kepada nilai dan paham yang disebut nasionalisme. Jangan sampai, kawan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nasionalisme bagiku dibentuk bukan untuk memisah-misahkan, kawan, tapi justru untuk merapatkan barisan dan merekatkan tali persaudaraan. Nasionalisme Indonesia misalnya, dibentuk bukan untuk menghujat nasionalisme Malaysia. Kalaupun mereka pernah mencuri apa-apa yang milik Indonesia, maka tidak perlu berjuang dan menghukum mereka atas nama nasionalisme Indonesia, karena hakikat pencurian adalah buruk apapun motivasinya dan siapapun dalangnya. Yang jelek adalah pencuriannya, bukan nasionalismenya. Jadi jangan mudah terpancing dengan term-term nasionalisme yang justru coba mengadu domba dan sebenarnya tak memberikan manfaat apa-apa pada kalian, kawan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlebih untuk Indonesia, kawan. Jangan terlalu percaya dengan slogan dan pidato berapi-api tentang nasionalisme. Saat ini tidak ada hal yang tidak dipolitisasi oleh kaum elit Indonesia. Mulai dari kemiskinan, bencana alam, sepak bola, bahkan hingga nasionalisme, semuanya menjadi komoditi politik. Aku orang Indonesia, kawan, dan aku cinta tanah airku. Aku bukannya pesimis, kawan, tapi sekedar mengajak kalian untuk selalu berhati-hati dan tetap waspada untuk tidak selalu mengikuti arus yang berjalan. Aku tahu kalian mencintai Indonesia dan kalian juga punya semangat nasionalisme tinggi. Aku berpesan jagalah cinta itu tetap murni. Jangan sampai ditunggangi arus kepentingan yang justru memecah belah kalian sebagai satu bangsa, satu agama, atau bahkan satu manusia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cintai bangsamu tapi tak perlu kau benci bangsa lain. Pegang teguh agamamu tapi jangan kau kutuk agama lain. Dan perlakukan orang lain sebagai manusia, karena kuyakin kau pun ingin diperlakukan sebagai manusia. Kupesankan itu, -Demi Dzat yang jiwaku ada dalam genggaman-Nya- bukan karena aku membela Malaysia, kawan, atau karena membenci tanah airku sendiri, tapi karena aku mencintai dan menyayangimu. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Wallahu a’lam.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Ampang, Kuala Lumpur, Malaysia di penghujung 2010)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5715123733357252427-2082520683000191392?l=robitfirdaus.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://robitfirdaus.blogspot.com/feeds/2082520683000191392/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://robitfirdaus.blogspot.com/2010/12/catatan-dari-bukit-jalil-fikih-sepak.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5715123733357252427/posts/default/2082520683000191392'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5715123733357252427/posts/default/2082520683000191392'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://robitfirdaus.blogspot.com/2010/12/catatan-dari-bukit-jalil-fikih-sepak.html' title='Catatan Dari Bukit Jalil; Fikih Sepak Bola (Part 2-End)'/><author><name>Robitul Firdaus</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15873571037972114090</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_dAbyJD8_VgQ/SJFTl1jwoNI/AAAAAAAAADU/KelUHDoWq8c/S220/Aku.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5715123733357252427.post-6231856581098810965</id><published>2010-12-28T13:37:00.001+07:00</published><updated>2010-12-28T13:41:26.829+07:00</updated><title type='text'>“Catatan Dari Bukit Jalil; Filsafat Suporter Bola” (Part 1)</title><content type='html'>Rencana ide untuk tulisan ini begitu saja mengalir sesaat Malaysia memastikan gol ketiganya melalui Safee Ali pada menit 70-an. Entah ilham dari mana tiba-tiba saja otakku ditindih sedemikian besar kegelisahan yang memaksaku untuk menuliskannya. Iya kawan, aku dan beberapa sahabatku memang memberikan dukungan langsung untuk Indonesia di Bukit Jalil. Ah, bukan untuk dukungan lah alasan utamaku datang ke Bukit Jalil. Terdengar klise ya?? Sebetulnya sebagai orang baru di Malaysia, tujuan utamanya ya jalan-jalan dan pengen tahu aja rupa stadion Bukit Jalil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ok kawan, jujur saja kekalahan itu memang menyesakkan buat mayoritas masyarakat Indonesia. Aku pun sesak dibuatnya. Tapi, tidak semua, kawan. Ada orang Indonesia yang sedikit mengucap syukur atas kemenangan Malaysia. Siapa lagi kalau bukan beberapa saudara-saudari TKI Ilegal kita yang mencari nafkah untuk anak dan keluarga tercinta di Indonesia. Mereka bersyukur, karena hampir menjadi sebuah kepastian, bahwa setiap even yang memenangkan Indonesia atas Malaysia berarti kabar buruk buat mereka. Frekuensi operasi polisi dan imigrasi Malaysia akan semakin tinggi dan semakin intensif. Itu berarti mereka harus cekatan untuk sembunyi, lari ke hutan, atau kalau tak beruntung harus dibui selama beberapa bulan lalu dideportasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali ke bola kawan. Banyak analis yang berkomentar atas kekalahan Indonesia. Di Indonesia, ada yang mengakui bahwa Malaysia lebih baik. Tapi ada pula yang mengkambinghitamkan laser sebagai aktor jahat kekalahan Indonesia. Sebaliknya, Malaysia melalui Koran-koran pagi sehari setelah pertandingan memasang headline berjudul “Indonesia Tersungkur Dibaham Malasia 3-0”. Pada bagian isi beritanya, mereka menyebut Indonesia “jago kampoeng” (bener juga kale ya?). Malaysia juga tidak mengelak atas gangguan laser, namun tetap menuduh Markus yang -sering protes- hanya berulah untuk menutupi rasa gementarnya. Begitu Koran-koran Malaysia memberitakan.&lt;br /&gt;Aku di sini tak akan ikut campur dengan komentar-komentar itu kawan. Aku mengajak kalian semua untuk melihat sisi-sisi yang jutru tak terekspos dan berada di balik pertandingan bola. Dengan keterbatasan waktu, terpaksa ide-ideku harus kubagi menjadi beberapa bagian terpisah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Filsafat Suporter Bola&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suporter bola sebenarnya orang-orang yang unik. Apalagi suporter Indonesia. Tidak ada suporter bola di dunia yang mampu mengalahkan suporter Indonesia, kreativitasnya, gemar berantemnya, apalagi kenekatannya. Sayangnya FIFA sebagai pemegang otoritas bola dunia tak pernah memberikan anugerah untuk kategori suporter pada setiap tahunnya. Kalau ada, sudah pasti aku yakin Indonesia akan meraih salah satu penghargaan dari FIFA, tapi entah untuk kategori suporter yang macam apa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Bukit Jalil hadir beragam elemen supporter Indonesia yang hanya punya satu suara “Indonesia harus menang”. Ada yang memang berdomisili sementara di Malaysia, karena alasan bekerja atau studi sepertiku, tapi ada juga yang memang sengaja berangkat dari Indonesia sebagai suporter bola. Stadion yang dijadwalkan menghelat pertandingan pada pukul 20.00 telah mulai disesaki penonton 5 jam sebelumnya. Lambat laun, kursi-kursi kosong mulai terisi penonton. Semakin banyak kulihat ragam suporter Indonesia dengan pernak-pernik aksesoris yang dipakainya. Tapi yang menarik perhatianku bukan aksesoris yang aneh-aneh itu kawan. Mataku justru tertegun melihat para suporter bola yang membawa poster bertuliskan Gresik United, kaos berlogo PSPS, Bonek Persebaya, dan identitas tim-tim kedaerahan lainnya. Ini betul-betul mengusik keingintahuanku kawan. Aku penasaran dan kuputuskan untuk mendekati rombongan pembawa poster Gresik United, lalu kutanya salah seorang di antara mereka, “ Mas ini mewakili Indonesia atau Gresik United?”, “ya dua-duanya”, begitu jawabnya. Aku pun manggut-manggut. Lantas aku berpindah mendekati seseorang yang nekat berdiri di besi pembatas. Kulihat di balakang kaosnya tertulis Persebaya, “oh pantas bonek”, gumamku. Ia pun kutanya “Mas, arep dukung Indonesia opo persebaya?”. Ia menjawab dan berteriak kencang ke arah lapangan, “Hidup Persebaya, Hidup Indonesia”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat itu aku tak lagi meragukan kecintaan mereka terhadap negeri Indonesia, kawan. Kalau mereka menyebut “nyawa kami taruhannya”, itu pun tidak tampak seperti main-main bagiku. Tapi ada pemandangan tidak biasa yang kulihat dan mengusik pikiranku, kawan. Bagaimana mungkin Gresik United bisa akur dengan Persebaya. Padahal biasanya mereka “doyan berantem” satu dengan yang lain. Malaikat mana yang berhasil mendudukkan mereka dalam satu meja untuk bermusyawarah dan menyepakati untuk tidak berantem saat bertemu membawa atribut masing-masing. Ah, sepak bola ternyata mampu menjadi juru damai, kawan. Ini betul-betul kurasakan hebat. Batasan lawan yang selama ini tersekat dalam kota-kota di Indonesia lenyap menjadi satu suara nasional “Indonesia”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal kawan, ingatkah kalian bagaimana sebenarnya suporter tim-tim di liga Indonesia amat sering “bergaduh”? Kuberi contoh: Di Jawa Timur, Arema adalah musuh bebuyutan Persebaya. Jangan harap suasana tak akan mencekam saat keduanya bertanding. Masing-masing kelompok suporter telah menyiapkan senjata-senjata yang akan mereka gunakan untuk bentrokan sebelum, saat, atau setelah pertandingan. Bahkan, konon jangan dengan mudah masuk ke Malang dengan menggunakan motor plat nomor L (Surabaya), karena entah siapa yang mengendarai motor L tersebut akan dianggap antek Persebaya. Beruntung kalau hanya motor yang menjadi sasaran, besar kemungkinan pengemudinya pun bakalan babak belur dikeroyok. Hebat bukan main fanatisme suporter bola kita. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mari kita bergerak ke cakupan yang lebih kecil, kawan. Di Jember (kota kelahiranku), ada kecamatan yang bernama “Balung dan Tanggul”. Masing-masing keduanya memiiki kesebelasan bola. Saat Persid (Persatuan Sepak Bola Djember) bertanding, dua kelompok suporter Balung dan Tanggul akan bahu membahu mendukung Jember. Tapi, saat tiba giliran kompetisi yang mempertemukan tim dari keduanya, maka suporter Balung dan Tanggul menjadi dua kabilah yang siap membela tim masing-masing, bahkan dengan nyawa sekalipun. Sabit “madura” menjadi alat yang mesti dibawa “petentang petenteng” guna mempersiapkan bila sewaktu-waktu akan terjadi bentrokan. Darah suporter Tanggul seolah halal bagi suporter Balung dan demikian pula sebaliknya. Ini bukan cerita tentang sengketa tanah, kawan. Ini masih tentang bola.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tradisi tersebut bisa terus dilanjutkan hingga ke tingkat kompetisi rendahan yang hanya memainkan bola plastik dengan jumlah 5-6 pemain. Maka singkatnya, dalam ranah filosofis, sebenarnya suporter bola tidak pernah memiliki identitas yang pasti. IDENTITASNYA DITENTUKAN DARI SIAPA LAWAN YANG DIHADAPI. Maka aku orang asli Rambipuji – Jember - Jawa Timur - Indonesia akan memiliki banyak identitas sebagai suporter bola. Aku adalah orang Indonesia hanya bila Timnas bertanding melawan Malaysia atau Negara lainnya. Tapi aku orang Surabaya saat Persebaya melawan Persija. Aku akan berubah menjadi orang Jember saat Persid Jember melawan Persebaya. Tapi jangan salah, aku akan menjadi orang Rambipuji bila semisal kesebelasan Rambipuji tengah bertanding melawan kesebelasan lain. Lalu pertanyaannya, siapakah sebenarnya diriku? Mana yang benar-benar menjadi identitasku? Pertanyaan ini bukan hanya untukku kawan, tapi untuk semua suporter Indonesia atau mungkin seluruh suporter bola di dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi jangan dulu bangga dengan lengkingan suporter Indonesia yang mengelu-elukan Irfan Bachdim. Itu semua tidak lain karena Irfan sedang bermain untuk Timnas Indonesia. Saat Irfan bermain untuk timnya, Persema Malang di Liga Indonesia, maka keadaannya akan berubah 180 derajat. Irfan akan menjadi public enemy (musuh bersama) bagi pendukung Persebaya, Persela, atau bahkan Arema. Jadi jangan tertipu dengan tampang suporter yang menjadi pendukung sepak bola Indonesia, karena bisa jadi mereka pula yang telah menciderai sepak bola Indonesia. Jangan katakan mereka punya nasionalisme yang tinggi, sementara di lain waktu mereka acapkali menjadi musuh nilai-nilai nasionalisme. Mereka gampang dipersatukan oleh bola, tapi mereka juga mudah dipisahkan dan diadu domba oleh bola.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini baru tentang bola, kawan. Padahal ada banyak identitas yang bisa jadi melekat pada diri kita selain tentang bola. Ini kuberikan contohnya:&lt;br /&gt;1.Islam NU, NU PKB, PKB Gusdur. Pertanyaannya, ada berapa orang NU yang berjuang untuk Islam? Bukankah mayoritas mereka masih berjuang untuk NU, untuk PKB, atau untuk Gusdur?&lt;br /&gt;2.Indonesia Golkar, Golkar Bakrie. Pertanyaannya, yakinkah anda Bakrie berjuang untuk Indonesia? Ataukah Bakrie hanya berjuang untuk Golkar, atau bahkan hanya untuk Bakrie Group?&lt;br /&gt;3.Silahkan analogikan contoh lain yang serupa (faqis ‘alaihima). Pertanyaan-pertanyaan tersebut sebenarnya pertanyaan yang tak memerlukan jawaban, tapi butuh tindakan penyelesaian. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sulit mencari yang benar-benar suporter Indonesia, kawan, sesulit mencari yang benar-benar berjuang untuk Islam. Mayoritas kita masih terikat dengan identitas-identitas kecil yang kita lekatkan sendiri ke dalam diri kita. Itulah mengapa menurutku suporter bola mengajarkan satu falsafah kehidupan baru bahwa: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“DIRIKU ADALAH SIAPA LAWANKU”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diriku Indonesia saat lawanku Malaysia. Diriku Persebaya saat lawanku Arema. Dan demikian seterusnya. Selama ini falsafah yang kita kenal adalah bahwa Seseorang Bisa Dinilai Dari Siapa Orang yang Dipilih Menjadi Kawan. Tapi kita belajar hal baru dari suporter bola bahwa lawan turut menentukan identitas seseorang. Bahkan lawan pun harus kita syukuri keberadaannya, karena lawan itulah yang akan mengantarkan kita pada kesejatian diri. Sebab itulah, kalau seandainya makhluk yang paling banyak menyebabkan orang masuk surga akan juga masuk surga, maka Syeitan dan Iblis sangat berhak masuk surga. Terhadap keberadaan keduanya, boleh jadi kita harus mengucap hamdalah dan bukannya ta’awwudz, karena melalui wasilah Syeitan-syeitanlah kita tahu untuk selalu berpihak pada kebenaran dan kebaikan, seperti cerita supir ugal-ugalan yang masuk surga karena menjadi alasan para penumpangnya mengingat Tuhan. Maka atas nama Indonesia, ucapkanlah “Alhamdulillah ada Malaysia”.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5715123733357252427-6231856581098810965?l=robitfirdaus.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://robitfirdaus.blogspot.com/feeds/6231856581098810965/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://robitfirdaus.blogspot.com/2010/12/catatan-dari-bukit-jalil-filsafat.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5715123733357252427/posts/default/6231856581098810965'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5715123733357252427/posts/default/6231856581098810965'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://robitfirdaus.blogspot.com/2010/12/catatan-dari-bukit-jalil-filsafat.html' title='“Catatan Dari Bukit Jalil; Filsafat Suporter Bola” (Part 1)'/><author><name>Robitul Firdaus</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15873571037972114090</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_dAbyJD8_VgQ/SJFTl1jwoNI/AAAAAAAAADU/KelUHDoWq8c/S220/Aku.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5715123733357252427.post-6855708091549953185</id><published>2010-09-19T21:06:00.001+07:00</published><updated>2010-09-19T21:10:53.281+07:00</updated><title type='text'>REBORN</title><content type='html'>Tak terasa sudah sekitar setahun aku tak melakukan posting apapun ke blog ini. Kangen juga rasanya ngeblog setelah sekian lama tak memanfaatkan media ini sebagai media share. Mungkin kehadiran FaceBook sedikit banyak berpengaruh terhadap berkurangnya frekuensi dan intensitasku menulis di blog ini. Mudah-mudahan masih ada sedikit tenaga yang ditopang besarnya kemauan untuk kembali menyempatkanku berkunjung dan menulis di sini. Bukannya aku tak memiliki kesempatan waktu. Terlalu banyak bahkan waktu yang kulewatkan selama ini. Pasca penyelesaian tesis dan wisuda S2-ku April kemarin, sampai saat ini kegiatanku terhitung santai –kalau tidak bahkan lebih layak kusebut menganggur-. Sifat malas ini memang sangat bebal dan keras kepala untuk kuusir hanya bermodalkan kemauan saja. Aku perlu ada power eksternal yang memaksa dan membantuku mengusirnya. Itulah sebagian dari alasan kenapa aku suka bersekolah. Aku suka saat ada sistem yang memaksaku mengeluarkan dan menghabiskan energi terbaikku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Strata 2 telah kuselesaikan dan saat ini aku kembali berniat melanjutkan studiku ke jenjang strata 3. Aku tahu mungkin cukup gila memang pengangguran seperti aku mengambil strata 3. Umumnya strata 3 diisi oleh orang-orang yang telah cukup mapan bekerja. Tapi inilah aku, seseorang yang hanya tahu sekolah dan senang bila terus menerus dicap sebagai pelajar. Ada orang yang menganggapku hebat, tapi ada juga yang berpikiran sudah saatnya aku tak hanya bangga dengan status pelajar. Di usiaku yang 24 ini sebagian sudah berpikir akan lebih baik kalau aku mulai bersentuhan dengan yang namanya dunia “kerja”. Aku bukan benci kehidupan duniawi, aku juga tidak mengatakan kalau aku memilih hidup mlarat. Tapi aku tahu ekspektasi orang luar mengharuskan  dunia “kerja” yang kan kugeluti mencerminkan status S2-ku. Itu yang tidak aku suka dan tidak sejalan dengan idealismeku. Banyak orang memberikan garis linear antara menuntut ilmu dan bekerja. Padahal bagiku tidak ada korelasinya antara menuntut ilmu dan bekerja. Buktinya, banyak sekali pengusaha besar yang hanya mengenyam pendidikan dasar, bahkan aku mengenal di antara mereka yang buta huruf.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ilmu bagiku tidak berbicara tentang kerja –atau lebih eksplisit adalah kemampuan mengumpulkan harta-, karena itu bukan syarat utama merengkuh kebahagiaan, meski juga bukan bagian tak penting dari kebahagiaan. Ilmu adalah tool bagi setiap orang untuk menjawab problematika kehidupan yang ia hadapi. Ilmu adalah kemampuan yang harus dimiliki setiap individu minimal untuk memberikan manfaat pada dirinya sendiri. Bagiku terlalu jauh untuk berpikir bahwa aku mampu memberikan manfaat pada orang lain. Dengan ilmu yang ada saja, aku bahkan belum yakin mampu memberikan manfaat pada diri sendiri. Aku butuh ilmu berlebih untuk melakukannya. Itulah yang membuatku termotivasi dan gemar saat bergelut dengan yang namanya “dunia ilmu, the world of knowledge”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku merasa tidak perlu untuk obral manfaat kepada orang lain, menjadi orang yang mampu menyelesaikan semua persoalan atau siap ditempatkan di mana saja. Aku yakin, bila ilmuku memang dianggap bisa memberikan manfaat, Allah yang akan menggerakkan hati orang lain untuk mengambil manfaat dariku. Biarlah lingkungan dan masyarakat yang akan menilai di mana posisi yang layak untukku. Sepenuhnya aku tidak ragu bahwa “orang-orang yang beriman dan berilmu akan Allah angkat derajat mereka” dan hukum alam pun setuju bahwa “orang-orang yang berilmu tak akan pernah sama dengan orang yang tak berilmu”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan berarti aku mengharamkan pekerjaan yang mapan bagi orang-orang yang berilmu. Tapi ini persoalan ORIENTASI atau dalam bahasa tasawwufnya disebut NIAT. Yang marak aku temui adalah orientasi utama mayoritas pelajar atau mahasiswa pada umumnya adalah bekerja. Padahal harusnya pekerjaan itu menjadi “efek samping” atau konsekuensi dari menuntut ilmu, bukan malah tujuan. Lebih baik aku mencurahkan konsentrasiku 100 persen dalam menuntut ilmu daripada kuluangkan 30 persen untuk berpikir “efek samping” dari pekerjaanku. Banyak yang tak bisa membedakan mana cara dan mana tujuan. Apakah “bekerja” itu cara ataukah “bekerja” itu tujuan? Mungkin inilah alasan mengapa negara ini mampu membangun kampus-kampus ilmu yang indah, tapi tidak pernah berhasil membangun peradaban ilmu yang megah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi begitulah kawan, memang selalu terjadi jarak antara idealitas dan realitas. Aku dan kalian sebenarnya adalah orang-orang yang hidup di antara jarak tersebut. Kita terombang-ambing di antara apa yang seharusnya dan apa yang terjadi. Menjadi sangat idealis pasti hanya akan menambah banyak lawan, termasuk melawan lingkungan. Menjadi sangat pragmatis lebih buruk lagi, karena tak akan mampu merasakan sejatinya kebahagiaan. Kita harus pandai bersikap di antara dua kutub tersebut. Kapan kita harus berdamai dengan lingkungan dan kapan kita harus mengatakan “tidak” pada kebiasaan lingkungan yang berlangsung. Selalu ada konsekuensi pada masing-masing pilihan. Aku berani menentang arus yang berjalan dengan segala risikonya bila memang hati nuraniku berkata demikian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, hati nurani. Itulah jawaban yang aku pilih saat ada kebimbangan dalam menjatuhkan pilihan.  “istafti qolbak, mintalah jawaban pada hatimu”, demikan kata bijak itu berbicara padaku. Hingga saat ini hati nuraniku berkeyakinan bahwa, “mencari ilmu itu mudah dan gampang, namun mencari ilmu yang bermanfaat tidaklah mudah”. Demikian juga “mencari harta itu mudah dan banyak jalannya, namun harta yang barokah lebih sedikit jumlahnya”. Untuk sekedar bahagia dunia, mungkin kau hanya membutuhkan sekedar ilmu dan harta. Namun untuk mencapai bahagia dunia dan akhirat kau butuh lebih dari sekedar ilmu dan harta. Kau butuh yang bermanfaat dan kau butuh yang barokah. Pilihan masing-masing ada di tangan kita. Perbaikilah semua dengan mulai memperbaiki NIAT kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku –sebagai makhluk dengan penyakit malas kambuhan- sering memperbaharui niatku. Dulu blog ini kubuat dengan niatan guna menjadi media yang menyemangatiku menulis dan berbagi dengan orang lain. Ah, ternyata niatanku itu berjalan beriringan dengan penyakit kambuhanku yang bernama malas. Begitu penyakit malas itu sedang pergi jalan-jalan (mudah-mudahan tidak menghinggapi kalian), aku kembali bersemangat menulis dan berikrar serta berniat untuk mengisi blogku yang sudah kurus kering meronta-ronta kelaparan. Tapi begitu si “Malas” datang kembali, ia tak mau kuduakan. Ia memintaku terus menerus memperhatikannya dan menjanjikan sejuta kenikamatan sesaat. “Ya Allah, Duh Gusti. aku berlindung pada-Mu dari sifat malas. Aku tak ingin otak yang telah Kau nikmatkan padaku tak mampu kusyukuri karena harus bersarang di dalam tubuh yang malas”.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5715123733357252427-6855708091549953185?l=robitfirdaus.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://robitfirdaus.blogspot.com/feeds/6855708091549953185/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://robitfirdaus.blogspot.com/2010/09/reborn.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5715123733357252427/posts/default/6855708091549953185'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5715123733357252427/posts/default/6855708091549953185'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://robitfirdaus.blogspot.com/2010/09/reborn.html' title='REBORN'/><author><name>Robitul Firdaus</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15873571037972114090</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_dAbyJD8_VgQ/SJFTl1jwoNI/AAAAAAAAADU/KelUHDoWq8c/S220/Aku.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5715123733357252427.post-5582480146459196159</id><published>2010-01-31T01:06:00.000+07:00</published><updated>2010-01-31T01:09:05.354+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Robit Menjawab'/><title type='text'>Oral di Bulan Puasa</title><content type='html'>“Mau tanya mengenai kenakalan remaja untuk dijadikan referensi, apakah jika ada dua orang lawan jenis melakukan hal layaknya suami dan istri tapi tidak sampai memasukkan alat kelamin hanya di gesek-gesekkan saja tapi yang ceweknya masih pakai CD, dan melakukan oral sex, apakah dia harus mandi wajib meskipun tidak keluar air mani? Atau apakah dengan wudlu sewaktu dia mau sholat sudah cukup? Apakah sah jika dia berpuasa?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan itu masuk ke inbox HP saya saat bulan ramadlan kemarin. Pertanyaan tersebut memang bukan langsung datang dari orang yang bersangkutan. Ada salah seorang sahabat saya yang mem-forward-nya untuk meminta pendapat saya. Saat itu saya tidak bisa menjawabnya secara langsung, karena saya harus benar-benar tahu kondisi orang yang dimaksud dalam pertanyaan saya tersebut. Bagi saya, fatwa itu tidak selamanya harus ‘gebyah uyah’ disampaikan sebagaimana keyakinan pemberi fatwa, tanpa memperhatikan situasi dan kondisi obyek fatwa. Demikian di antara etika berfawa yang dipegangi Imam Ahmad bin Hanbal. Saya tidak mengatakan bahwa apa yang akan saya sampaikan ini adalan fatwa, Pertama, saya belum mencukupi syarat menjadi mufti. Kedua, negara ini bukan negara Islam yang mewenangkan lembaga fatwa menjadi pemutus suatu sengketa perkara. Meski demikian, saya rasa konteksnya sedikit banyak memiliki kemiripan. Oleh karenanya, saat itu saya tidak memberikan jawaban, disamping memang media sms saya merasa belum cukup untuk menjelaskan duduk jawaban dari permasalahan yang dipertanyakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lama saya melupakan pertanyaan itu. Karena saya yakin sahabat saya itu telah memberikan jawaban. Dia pasti hanya sekedar ingin mendengar pendapat saya sebagai pembanding saja. Baru beberapa hari yang lalu, saya membuka-buka inbox HP saya dan kembali menemukan sms tersebut. Saya pun merasa tidak ada salahnya coba ikut merespon persoalan di atas dengan mendeskripsikannya dalam bentuk tulisan. Kebetulan banyak waktu luang saat liburan di rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak terlalu sulit memang menjawab pertanyaan di atas bila kita mengacu pada aturan fiqh yang ada. Sebagai analisa pertama saya akan menjawabnya menggunakan kerangka fiqh, karena apa yang menjadi pokok pertanyaan adalah persoalan kewajiban mandi dan sah tidaknya berpuasa. Kedua hal tersebut saya rasa tidak memerlukan jawaban yang berbelit-belit, karena dalam kaca mata fiqh tidak termasuk persoalan yang pelik. Saya menyebut persoalan fiqh, karena untuk pertama kali saya tidak akan membahasnya dari sudut pandang norma dan etika. Hal itu akan saya bahas kemudian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa menghilangkan rasa hormat saya pada ulama madzhab yang lain, perkenankan saya menggunakan satu kitab saja untuk mengupas pertanyaan di atas. Saya akan menggunakan kitab al-fiqh al-islamy wa adillatuhu karya Prof. Dr. Wahbah Zuhaily. Alasannya sederhana, karena saya menganggap kitab fiqh ini tergolong masih relatif baru dan cukup komprehensif dan sistematis dalam meramu serta menjabarkan pandangan beberapa madzhab pada setiap babnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan pertama menurut saya terkait dengan hal-hal yang mewajibkan mandi besar bagi seorang muslim. Secara ringkas, dapat disebutkan bahwa ada 7 hal penyebab seseorang diwajibkan mandi menurut Hanafi, menurut Hanbali ada 6, Syafi’i ada 5, dan Maliki ada 4 sebab. Lebih jelas silahkan langsung merujuk pada halaman 459 juz I. Kalau hubungan itu -bagaimanapun bentuknya- sampai mengeluarkan mani atau sperma, maka sudah tidak ada musykil terhadap kewajiban mandi. Begitu pula kalau hubungan itu –meski tidak sampai mengeluarkan mani- namun sampai pada proses yang bisa didefiniskan hubungan badan, maka itupun tidak lagi diperdebatkan kewajiban melakukan mandi besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Batasan berhubungan badan dalam definisi fiqh adalah bila minimal kepala kemaluan lak-laki (hasyafah) telah memasuki farji (kemaluan depan atau belakang) seseorang, baik dipaksa atau tidak, dalam keadaan tidur maupun terjaga (hal. 455/I). Batasan ini memberikan keniscayaan bahwa menggesek-gesekkan alat kelamin laki-laki ke paha atau perut, atau hanya sampai di sekitar farji, atau sekedar mempertemukan dua alat kelamin tanpa masuknya minimal hasyafah ke farji, tidak dapat disebut sebagai berhubungan badan. Oleh karenanya, menggesek-gesekkan saja, apalagi si cewek masih memakai CD, selama dengan catatan tidak sampai keluar sperma, sebagaimana pertanyaan yang diajukan, maka belum dapat disebut berhubungan badan dan tidak diwajibkan mandi besar. Sebab belum dapat disebut berhadas besar, maka cukuplah menghilangkan hadas kecil dengan berwudlu saat akan mengerjakan shalat. Begitu pula dengan oral sex, ia tidak masuk dalam definisi berhubungan badan. Hukumnya pun sama dengan penjelasan yang telah saya paparkan sebelumnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan kedua perihal puasa, sebenarnya tidak terlalu berbeda dengan pertanyaan pertama. Karena apa yang menyebabkan mandi besar, sebagian di antaranya juga dapat membatalkan puasa. Berhubungan intim adalah satu dari sekian banyak penyebab batalnya puasa –sebagaimana wajibnya mandi- yang disepakati oleh semua ulama madzhab. Sehingga, bila suatu contoh kasus belum dapat didefinisikan sebagai “hubungan badan” (jima’), maka kasus tersebut juga tidaklah membatalkan puasa. Puasa yang dilakukan pada hari itu pun dihitung sah dan tidak perlu di-qodlo’ pada hari yang lain. Demikian pandangan fiqh dari pertanyaan yang diajukan di atas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang ingin saya sampaikan di sini adalah bahwa pandangan fiqh saja –dalam kasus apapun menurut saya- belum bisa mencerminkan pendapat Islam secara total. Ada banyak hal yang belum ter-cover dalam analisa fiqh. Misalnya tentang etika Islam, tasawwuf, dan hal-hal yang tidak dapat diukur lainnya. Fiqh –karena berbicara dalam konteks hukum- menjelaskan tentang hal-hal yang terukur. Sebagaimana kaidah yang terkenal dalam proses peradilan misalnya, “Innana nahkumu bi al-dlowahir, wa Allahu yatawalla al-sarair”, (sesungguhnya kita menghukumi dengan yang dlohir-dlohir saja, dan biarlah Allah yang mengurusi masalah-masalah yang tersembunyi).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang sah dan halal dalam pandangan fiqh tidaklah berarti terpuji atau tidak tercela dalam pandangan Islam. Perbuatan yang dianggap sah bukan berarti tidak berdosa dalam kaca mata Islam. Poligami, misalnya, halal dan pandangan fiqh, tapi apakah ia terpuji menurut Islam? Tentu hal ini perlu didiskusikan kembali. Thalaq (cerai) diperbolehkan secara fiqh, tapi nyatanya Islam tidak menyukainya. “perbuatan halal yang paling dibenci Allah adalah thalaq”, demikian hadis Nabi menuturkan. Jadi, tidak ada garis linear antara sah dan pahala, atau halal dan tidak berdosa. Keduanya berasal dari dua sumber bahasan yang berbeda. Fiqh tidak mengatur tentang dosa dan pahala atau terpuji dan tercela. Sama seperti ilmu nahwu yang hanya banyak berbicara tentang perubahan harakat, dan tidak banyak mendiskusikan perihal perubahan kalimat yang menjadi domain ilmu sharraf. Padahal lazim diketahui bahwa keduanya –ilmu nahwu dan shorrof- tidak terpisah satu sama yang lain, sebagaimana i’rob dan i’lal yang juga saling terkait dalam pembahasan kaidah bahasa arab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perbuatan pada kasus di atas tidak termasuk dalam perbuatan yang membatalkan puasa atau sampai menyebabkan mandi besar dalam pandangan fiqh, tapi apakah ia boleh-boleh saja dilakukan dan tidak berpengaruh apapun terhadap puasa yang kita lakukan? Tentu saja tidaklah demikian. Perbuatan yang menyerupai muqaddimat al-jima’ (foreplay / pemanasan dalam hubungan intim) seperti kasus di atas meski tidak sampai membatalkan puasa, namun dimakruhkan oleh ulama fiqh. Keempat madzhab sepakat memakruhkan perbuatan seperti mencium, berpelukan, dan perbuatan sejenisnya, dengan berpegangan pada fakta bahwa Nabi pernah mencium ‘Aisyah pada saat ia berpuasa (67-70/III). Namun yang saya sampaikan ini adalah kemakruhan dalam konteks hubungan tersebut dilakukan oleh pasangan yang telah halal (telah menikah). Perbuatannya halal dan menjadi makruh karena dilakukan dalam keadaan berpuasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila dilakukan oleh pasangan yang belum halal -sebagaimana contoh di atas- namun atas dasar kenakalan remaja, tentu saja hukumnya tidak lagi makruh melakukannya saat berpuasa. Hukum puasanya memang tetap sah, tapi hukum makruh yang dimaksudkan para ulama dengan perbuatan semacam kasus di atas tidaklah berlaku pada pasangan jenis ini. Hukum makruh hanya bisa diturunkan dari hukum yang halal. Hubungan yang halal bisa menjadi makruh karena dilakukan saat berpuasa. Sementara perbuatan yang telah jelas-jelas haram –baik di saat berpuasa maupun tidak- tidak bisa naik pangkat menjadi hukum makruh, demikian logika fiqh-nya. Ia akan menjadi haram selamanya, kapan dan pada saat apapun dilakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya berasumsi bahwa tidak perlu saya menjelaskan dalil dan alasan-alasan kenapa contoh kasus di atas haram hukumnya dilakukan. Saya yakin semua pembaca sekalian sudah sedemikian paham alasan logis maupun syar’iy pengharaman kenakalan yang marak dilakukan pada remaja dan pemuda saat ini. Jangankan oral sex, petting, atau perbuatan sejenisnya, bersentuhan kulit -selain mahram- dengan disertai syahwat atau tidak saja, syara’ sudah sedemikian rupa memberikan batasan. Saya tidak menyatakan bahwa bersentuhan kulit –sebagaimana bersalaman- itu halal atau haram. Saya kira butuh space tersendiri untuk membahasnya. Saya hanya akan fokus pada permasalahan ini saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terakhir, saya ingin menyampaikan satu hal yang saya rasa akan cukup menggambarkan betapa hubungan semacam contoh di atas tidak layak dilakukan oleh pasangan yang tidak halal, apalagi dalam keadaan sedang berpuasa. Tentu bukan puasa alasan keharamannya, tapi saya hanya ingin coba memberikan korelasi yang jelas dengan pertanyaan yang diajukan. ”Ada lima perkara yang disebutkan dapat membatalkan pahala puasa: Berdusta, menggunjing orang, mengadu domba, bersumpah palsu, dan memandang lawan jenis dengan nafsu sahwat”, Demikian kata Nabi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tersurat dengan jelas dalam kalimat di atas, bahwa melihat dengan syahwat dapat membatalkan (pahala) puasa. Apalagi bila sampai melebihi batas itu. Maka tepatlah kiranya kalau nabi juga bersabda, “berapa banyak dari orang yang berpuasa hanya mendapatkan haus dan lapar saja”. Analisa ini sengaja saya buat sesederhana mungkin, karena saya khawatir akan teramat susah dipahami orang awam kalau saya buat lebih ‘njlimet’ lagi. Saya menyebut orang awam, karena saya bisa menilai dari kadar pertanyaan yang diajukan. Wallahu a’lam bi al-showab.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5715123733357252427-5582480146459196159?l=robitfirdaus.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://robitfirdaus.blogspot.com/feeds/5582480146459196159/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://robitfirdaus.blogspot.com/2010/01/oral-di-bulan-puasa.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5715123733357252427/posts/default/5582480146459196159'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5715123733357252427/posts/default/5582480146459196159'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://robitfirdaus.blogspot.com/2010/01/oral-di-bulan-puasa.html' title='Oral di Bulan Puasa'/><author><name>Robitul Firdaus</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15873571037972114090</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_dAbyJD8_VgQ/SJFTl1jwoNI/AAAAAAAAADU/KelUHDoWq8c/S220/Aku.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5715123733357252427.post-134735411914914177</id><published>2009-09-02T00:18:00.002+07:00</published><updated>2009-09-02T00:56:14.970+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Curhat'/><title type='text'>Mawar Dalam Doa</title><content type='html'>Kalau pun toh aku akan mendoakanmu, aku ingin mendoakanmu secara ikhlas. Aku tidak ada kepentingan dengan orang lain, tak peduli mereka tahu doaku atau tidak. Bahkan aku pun tidak perlu merasa harus menunjukkan padamu rangkaian doa yang kususun, komat kamit bacaan yang kulafalkan. Doa ini &lt;span style="font-style:italic;"&gt;pure&lt;/span&gt; kuajukan kepada Tuhanku. Walau tiap kata dalam barisan doa ini tentangmu, tapi tetap ini urusanku dengan Tuhan. Karena bukan kemasyhuran doaku atau pengetahuan respekku terhadapmu yang menjadi alasan bagi Tuhan meng&lt;span style="font-style:italic;"&gt;ijabah&lt;/span&gt; doaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biarkan makhluk ini mengira aku orang yang tak berprikemanusiaan, asal Tuhan mudah-mudahan masih mengakuiku sebagai hamba manusia-Nya. Itu lebih baik bagiku daripada orang meyakiniku manusia, namun Tuhan tidak menggubrisku lebih baik dari binatang. Maka atas nama kebinatangan manusiaku, aku merasa tidak pantas untuk “petentang petenteng” mengumbar doaku di hadapan manusia, tidak terkecuali di hadapanmu. Aku ingin doa yang sederhana, tapi tulus kusedekahkan atas nama kesetaraan hamba di hadapan Tuhan. Bukan aku lebih baik dari mereka atau darimu, tapi karena aku yakin aku juga butuh doa dari selainku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harus kuakui sedikit banyak kekerdilan dan kepengecutanku mungkin juga berpengaruh. Tapi biarlah itu menjadi kelemahan yang tidak perlu merugikan orang lain. Aku sendiri yang akan menanggung akibat atasnya, sebagaimana aku juga pasti akan belajar melepaskan diri dari kelelahanku menjadi pengecut. Sampai di sini saja, aku sudah membutuhkan doa-doa mereka dan mungkin juga doamu. Akan kulafalkan doa-doa ini dengan serius karena hanya itu yang bisa kuperbuat. Lagi-lagi harus kuakui banyak kekuranganku. Pundakku tidak begitu nyaman untuk menjadi tempat menyembuhkan kelelahanmu, pun demikian jari jemariku yang tidak selembut sutra untuk menyeka air matamu. Perkenankanlah maaf untukku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mugkin tidak mewakili kemauan mereka atau harapan-harapan muliamu saat ini. Tapi percayalah, huruf huruf ini kutulis dengan menyuarakan satu nama, tidak yang lain. Tapi sekali lagi, ini urusanku dengan-Nya. Dirimu atau mereka tidak perlu menghiraukannya, bahkan kalau perlu kularang menyimak dengan seksama doaku ini. Sudah cukup kenistaanku mengotori ketulusanku, tidak perlu ditambah dengan hancurnya reputasi niat baikku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Gusti, Dzat Agung Pemilik Segala, Hadiahkanlah Ridlo-Mu. Izinkan Hidayah-Mu mencium setiap helaan nafasnya. Kalau harus kaki mengejar Ridlo dan Hidayah itu, berilah kekuatan pada setiap sendinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jiwa dan badan amanah dari-Mu, berilah kekuatan memastikannya tetap terjaga putih dan bersih meski dari lelembut kotoran rohani jasmani. Ilhamkan cinta dan kasih sayang padanya dalam hidup ini, biar semuanya bisa terlihat indah atas nama-Mu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berilah kesehatan pada mereka yang telah melahirkan dan mengajarkan ilmu padanya. Perkenankan kesempatan dan kekuatan untuk membuat mereka tersenyum bahagia dan bangga melihatnya, meski sedikitpun itu tidak membayar jasa-jasa mereka. Damaikan sepanjang hidup mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya Rahman, Ya Latiif. Seseorang yang akan mengantarkan dan menemani dekat kepada-Mu, permudahkanlah wujud baginya. Tak ada yang tak mungkin atas kuasa-Mu. Kepada siapa ringkihan kenistaan dan ribuan panjatan harapan ini tergantungkan, kalau tidak kepada-Mu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allahumma inna nas’aluka husnal khotimah, wa na’udzubika min su’il khotimah. Amin Ya Tawwab, Ya Sattar, Ya Ghaffar, wa Ya Arhamar Rohimin”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dabag, 2 september 2009. 00:41.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5715123733357252427-134735411914914177?l=robitfirdaus.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://robitfirdaus.blogspot.com/feeds/134735411914914177/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://robitfirdaus.blogspot.com/2009/09/mawar-dalam-doa.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5715123733357252427/posts/default/134735411914914177'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5715123733357252427/posts/default/134735411914914177'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://robitfirdaus.blogspot.com/2009/09/mawar-dalam-doa.html' title='Mawar Dalam Doa'/><author><name>Robitul Firdaus</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15873571037972114090</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_dAbyJD8_VgQ/SJFTl1jwoNI/AAAAAAAAADU/KelUHDoWq8c/S220/Aku.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5715123733357252427.post-5906468615296674881</id><published>2009-08-30T21:03:00.001+07:00</published><updated>2009-09-02T00:59:03.141+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Agama Cinta (in seasons)'/><title type='text'>Jalan Cinta</title><content type='html'>Bagiku tidak ada cinta pada pandangan pertama. Cinta -sedemikian rupa- mustahil untuk lahir dan muncul begitu saja. Cinta berbeda dengan suka maupun sayang. Meski di dalam cinta terdapat keduanya, namun masing-masing menurutku tidaklah sinonim. Cinta itu berbicara tentang keabadian, satu hal yang tidak bisa ditemukan dalam suka atau sayang. Terserah apa yang orang defenisikan tentang cinta, bagiku tidak ada yang akan mampu mendefinisikannya dengan tepat, sempurna, dan representatif. Bagi pengemis, cinta mungkin seharga receh dari orang berpunya yang entah diberikan atas dasar ikhlas, iba, atau sekedar risih melihat tampang para pengemis yang mendekati mereka. Susu ibu bisa jadi adalah hadiah cinta terindah bagi para bayi di tengah rengekan dan tangisan mereka. Bahkan BLT besar kemungkinan dianggap wujud cinta pemerintah terhadap rakyatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah bila cinta dilihat dari sudut pandang inderawi. Ia hanya akan berwujud pada hal-hal yang terbatas. Aku tidak mengatakan kalau cinta itu sama sekali lepas dari inderawi, namun cukuplah itu menjadi semacam alat bantu saja. Layaknya senter saat mencari emas di gelap malam padang pasir atau layaknya tabung oksigen penyelam saat mencari dan mengambil kerang mutiara di dasar lautan. Keagungan, keindahan, dan pesona emas maupun mutiara tidak berhubungan dengan senter atau tabung oksigen tadi. Tidak pula dengan berat usaha dalam mencarinya. Ia telah melekat dengan sendirinya pada benda itu. Pun demikian dengan cinta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cinta tidak perlu melalui proses pensucian diri untuk membuatnya suci. Ia juga tidak butuh pujian dari orang lain untuk menjadikannya berharga. Berapapun banyak orang yang mengotori cinta, tidak sedikitpun mengurangi keluhurannya. Ia hanya dan akan selamanya bercerita tentang keindahan dan kenyamanan. Atas dasar itulah, cinta -menurut pendapatku- tidak akan datang menghampirimu pada pandangan pertama. Itu hanya proses penerjemahan inderamu ke dalam alam pikiranmu, belum sampai ke alam bawah sadarmu. Ada berapa banyak baju yang kamu suka saat kamu memasuki sebuah mall atau toko baju? Pasti ada beberapa. Kamu pun membanding-bandingkannya sampai akhirnya menjatuhkan pilihan pada salah satu dari baju-baju indah itu. Tapi apakah kamu mencintai baju itu? Jawabannya belum. Buktinya, begitu banyak kau memiliki baju di rumah yang kau pilih dengan proses yang sama. Di antara baju di rumah, pasti ada baju yang menjadi favoritmu. Apakah baju itu yang kau cintai? Jawabannya bukan. Itu karena yakinlah label favorit tersebut akan berpindah ke baju yang lain suatu saat nanti. Sekali lagi cinta hanya berbicara tentang ”keabadian”, bukan keterbatasan waktu dan ruang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebetulnya aku hanya ingin mengatakan, kalau tidak mudah untuk menyebut dan mendefinisikan perasaan kita sebagai cinta. Tentu aku tidak memaksa semua orang untuk berpendirian sepertiku. Hanya saja, bagiku sangat tampak nyata perbedaan antara sayang dan cinta. Lebih mudah konsekuensi yang harus kutanggung untuk menyebut sayang pada seorang gadis daripada mengungkapkan lima huruf yang terangkai dalam kata c-i-n-t-a. Atas nama sayang, cukuplah bagiku menerobos derasnya hujan untuk mengantarkan gadis itu pulang karena khawatir terhadap kesehatannya, tak menghiraukan dinginnya malam untuk sekedar mengunjunginya, melihat wajah, dan memastikan kesedihannya telah hilang, memanjakan dan menuruti kemauan gadis itu hanya agar dia tersenyum, atau juga menjadikannya nyaman dengan menerima segala kekurangan dalam dirinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tidak mengatakan kalau sayang itu bertentangan dengan cinta. Tapi sayang bagiku ”sekedar” pancaran dari cinta. Karena sekedar pancaran, maka sudah barang tentu cinta masih lebih dari itu. Cinta itu bukan sekedar memberi. Meski aku sendiri sering mendefinisikannya sebagai seni memberi (&lt;span style="font-style:italic;"&gt;art of giving&lt;/span&gt;), tapi hakikinya lebih dalam dari itu. Dari itulah, aku tidak yakin sampai saat ini memiliki keberanian dan kemantapan untuk mengungkapkan cinta. Karena begitu aku mencintai, maka sejatinya aku juga harus bersedia menafikan dan meleburkan diriku sendiri. Kalaupun pernah aku mengatakan kata itu pada seorang gadis, mungkin itu karena aku yang masih bau kencur saat itu. Belum mampu membedakan syariat dan hakikat, pikiran dan hati, atau keterbatasan dan keabadian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam konteks mencintai seorang gadis, cinta menurutku lebih tentang visi dan misi. Apa yang ingin didapatkan dari sebuah hubungan mencintai. Bukan apa yang bisa didapat dari orang yang kita cintai. Jadi, cinta itu meniscayakan adanya &lt;span style="font-style:italic;"&gt;main goal&lt;/span&gt; yang jelas, adanya tujuan agung yang ingin dicapai bersama. Mungkin itulah yang menyebabkanku berkeyakinan mustahil ada cinta pada pandangan pertama atau datang tiba-tiba. Cinta adalah akumulasi dan puncak dari sebuah kenyamanan rasa, sehingga bagaimana mungkin itu dapat hadir sedemikian mudahnya.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;So, dimana cinta bisa kita temukan? Salah besar kalau banyak orang mencari dan menilai cinta melalui orang lain. Ganti-ganti pacar hanya dengan alasan mencari cinta adalah tindakan terbodoh yang seharusnya tidak ditiru. Mungkin aku, kamu, mereka, atau kalian pernah berpikir hal bodoh tersebut. Tapi ketahuilah bahwa cinta itu sejatinya ada dalam diri dan hati kita yang terdalam, hati yang luasnya jauh melebihi samudera, langit, dan seluruh angkasa raya. Tuhan mengisyaratkan bahwa tidak ada yang mampu menampung keagungan dan kebesaran-Nya, hanya hati seorang mukmin yang sanggup melakukannya. Bukan aku menyamakan cinta dengan Tuhan, Tapi cinta memang cukup agung, hingga Tuhan pun mewajibkan dirinya untuk memiliki rasa cinta. Keagungan itu pula yang meniadakan kemungkinan cinta didapat atas jalan yang sangat mudah. Perlu berhadapan dengan 7 macam lembah cobaan, 7 jurang halangan, bahkan mungkin 7 pisau rintangan untuk menemukan apa yang kau sebut dengan cinta. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau ada yang bertanya, dari mana kita bisa belajar cinta? Pertanyaan ini akan kujawab dengan analogi pertanyaan juga, dari mana kita belajar paling baik tentang seluk beluk mobil? Dari siapa sebaiknya kita bertanya tentang suatu rumah? Kepada siapa seharusnya kita mengadu tentang nasib? Jawabnya kepada pencipta mobil, pemilik rumah, dan penentu nasib. Pun demikian dengan cinta. Tempat belajar yang paling tepat adalah kepada pencipta, pemilik, dan penentu cinta, Dzat yang bahkan lebih dekat kepada kita di banding urat leher kita. Itulah kenapa Tuhan akan meletakkan seseorang bersama orang yang dicintainya kelak di akhirat. Apakah kau anggap demikian mudah mencintai Muhammad hingga kau begitu yakin dapat bersamanya kelak? Allah dan Muhammad mencintaimu, itu fakta yang harus kau terima. Tapi apakah kau sudah benar-benar membalas cintanya? &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Wallahu a’lam&lt;/span&gt;.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5715123733357252427-5906468615296674881?l=robitfirdaus.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://robitfirdaus.blogspot.com/feeds/5906468615296674881/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://robitfirdaus.blogspot.com/2009/08/jalan-cinta.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5715123733357252427/posts/default/5906468615296674881'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5715123733357252427/posts/default/5906468615296674881'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://robitfirdaus.blogspot.com/2009/08/jalan-cinta.html' title='Jalan Cinta'/><author><name>Robitul Firdaus</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15873571037972114090</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_dAbyJD8_VgQ/SJFTl1jwoNI/AAAAAAAAADU/KelUHDoWq8c/S220/Aku.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5715123733357252427.post-290009720025128257</id><published>2009-08-27T20:19:00.000+07:00</published><updated>2009-08-27T22:12:20.147+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Robit Menjawab'/><title type='text'>HUKUM ISBAL</title><content type='html'>&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;link rel="File-List" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CNewtech%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtml1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;    &lt;w:usefelayout/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" latentstylecount="156"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:Wingdings; 	panose-1:5 0 0 0 0 0 0 0 0 0; 	mso-font-charset:2; 	mso-generic-font-family:auto; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:0 268435456 0 0 -2147483648 0;} @font-face 	{font-family:Batang; 	panose-1:2 3 6 0 0 1 1 1 1 1; 	mso-font-alt:바탕; 	mso-font-charset:129; 	mso-generic-font-family:auto; 	mso-font-format:other; 	mso-font-pitch:fixed; 	mso-font-signature:1 151388160 16 0 524288 0;} @font-face 	{font-family:"Traditional Arabic"; 	panose-1:2 1 0 0 0 0 0 0 0 0; 	mso-font-charset:178; 	mso-generic-font-family:auto; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:24577 0 0 0 64 0;} @font-face 	{font-family:"\@Batang"; 	panose-1:0 0 0 0 0 0 0 0 0 0; 	mso-font-charset:129; 	mso-generic-font-family:auto; 	mso-font-format:other; 	mso-font-pitch:fixed; 	mso-font-signature:1 151388160 16 0 524288 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-parent:""; 	margin:0cm; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-language:EN-US;} span.textexposedshow 	{mso-style-name:text_exposed_show;} @page Section1 	{size:612.0pt 792.0pt; 	margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt; 	mso-header-margin:36.0pt; 	mso-footer-margin:36.0pt; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;}  /* List Definitions */  @list l0 	{mso-list-id:1036194070; 	mso-list-type:hybrid; 	mso-list-template-ids:-2079038724 67698699 67698691 67698693 67698689 67698691 67698693 67698689 67698691 67698693;} @list l0:level1 	{mso-level-number-format:bullet; 	mso-level-text:; 	mso-level-tab-stop:36.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt; 	font-family:Wingdings;} @list l1 	{mso-list-id:1745250901; 	mso-list-type:hybrid; 	mso-list-template-ids:1997844722 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l1:level1 	{mso-level-tab-stop:36.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt;} ol 	{margin-bottom:0cm;} ul 	{margin-bottom:0cm;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; 	mso-para-margin:0cm; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:#0400; 	mso-fareast-language:#0400; 	mso-bidi-language:#0400;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;link rel="File-List" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CNewtech%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtml1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;    &lt;w:usefelayout/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" latentstylecount="156"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:Wingdings; 	panose-1:5 0 0 0 0 0 0 0 0 0; 	mso-font-charset:2; 	mso-generic-font-family:auto; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:0 268435456 0 0 -2147483648 0;} @font-face 	{font-family:Batang; 	panose-1:2 3 6 0 0 1 1 1 1 1; 	mso-font-alt:바탕; 	mso-font-charset:129; 	mso-generic-font-family:auto; 	mso-font-format:other; 	mso-font-pitch:fixed; 	mso-font-signature:1 151388160 16 0 524288 0;} @font-face 	{font-family:Georgia; 	panose-1:2 4 5 2 5 4 5 2 3 3; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:roman; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:647 0 0 0 159 0;} @font-face 	{font-family:"\@Batang"; 	panose-1:0 0 0 0 0 0 0 0 0 0; 	mso-font-charset:129; 	mso-generic-font-family:auto; 	mso-font-format:other; 	mso-font-pitch:fixed; 	mso-font-signature:1 151388160 16 0 524288 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-parent:""; 	margin:0cm; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-language:EN-US;} span.textexposedshow 	{mso-style-name:text_exposed_show;} @page Section1 	{size:612.0pt 792.0pt; 	margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt; 	mso-header-margin:36.0pt; 	mso-footer-margin:36.0pt; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;}  /* List Definitions */  @list l0 	{mso-list-id:1036194070; 	mso-list-type:hybrid; 	mso-list-template-ids:-2079038724 67698699 67698691 67698693 67698689 67698691 67698693 67698689 67698691 67698693;} @list l0:level1 	{mso-level-number-format:bullet; 	mso-level-text:; 	mso-level-tab-stop:36.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt; 	font-family:Wingdings;} @list l1 	{mso-list-id:1745250901; 	mso-list-type:hybrid; 	mso-list-template-ids:1997844722 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l1:level1 	{mso-level-tab-stop:36.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt;} ol 	{margin-bottom:0cm;} ul 	{margin-bottom:0cm;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; 	mso-para-margin:0cm; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:#0400; 	mso-fareast-language:#0400; 	mso-bidi-language:#0400;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;link rel="File-List" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CNewtech%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtml1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;    &lt;w:usefelayout/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" latentstylecount="156"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:Wingdings; 	panose-1:5 0 0 0 0 0 0 0 0 0; 	mso-font-charset:2; 	mso-generic-font-family:auto; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:0 268435456 0 0 -2147483648 0;} @font-face 	{font-family:Batang; 	panose-1:2 3 6 0 0 1 1 1 1 1; 	mso-font-alt:바탕; 	mso-font-charset:129; 	mso-generic-font-family:auto; 	mso-font-format:other; 	mso-font-pitch:fixed; 	mso-font-signature:1 151388160 16 0 524288 0;} @font-face 	{font-family:Georgia; 	panose-1:2 4 5 2 5 4 5 2 3 3; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:roman; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:647 0 0 0 159 0;} @font-face 	{font-family:"\@Batang"; 	panose-1:0 0 0 0 0 0 0 0 0 0; 	mso-font-charset:129; 	mso-generic-font-family:auto; 	mso-font-format:other; 	mso-font-pitch:fixed; 	mso-font-signature:1 151388160 16 0 524288 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-parent:""; 	margin:0cm; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-language:EN-US;} span.textexposedshow 	{mso-style-name:text_exposed_show;} @page Section1 	{size:612.0pt 792.0pt; 	margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt; 	mso-header-margin:36.0pt; 	mso-footer-margin:36.0pt; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;}  /* List Definitions */  @list l0 	{mso-list-id:1036194070; 	mso-list-type:hybrid; 	mso-list-template-ids:-2079038724 67698699 67698691 67698693 67698689 67698691 67698693 67698689 67698691 67698693;} @list l0:level1 	{mso-level-number-format:bullet; 	mso-level-text:; 	mso-level-tab-stop:36.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt; 	font-family:Wingdings;} @list l1 	{mso-list-id:1745250901; 	mso-list-type:hybrid; 	mso-list-template-ids:1997844722 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l1:level1 	{mso-level-tab-stop:36.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt;} ol 	{margin-bottom:0cm;} ul 	{margin-bottom:0cm;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; 	mso-para-margin:0cm; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:#0400; 	mso-fareast-language:#0400; 	mso-bidi-language:#0400;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;/p&gt;&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;link rel="File-List" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CNewtech%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtml1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;    &lt;w:usefelayout/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" latentstylecount="156"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:Wingdings; 	panose-1:5 0 0 0 0 0 0 0 0 0; 	mso-font-charset:2; 	mso-generic-font-family:auto; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:0 268435456 0 0 -2147483648 0;} @font-face 	{font-family:Batang; 	panose-1:2 3 6 0 0 1 1 1 1 1; 	mso-font-alt:바탕; 	mso-font-charset:129; 	mso-generic-font-family:auto; 	mso-font-format:other; 	mso-font-pitch:fixed; 	mso-font-signature:1 151388160 16 0 524288 0;} @font-face 	{font-family:"\@Batang"; 	panose-1:0 0 0 0 0 0 0 0 0 0; 	mso-font-charset:129; 	mso-generic-font-family:auto; 	mso-font-format:other; 	mso-font-pitch:fixed; 	mso-font-signature:1 151388160 16 0 524288 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-parent:""; 	margin:0cm; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-language:EN-US;} span.textexposedshow 	{mso-style-name:text_exposed_show;} @page Section1 	{size:612.0pt 792.0pt; 	margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt; 	mso-header-margin:36.0pt; 	mso-footer-margin:36.0pt; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;}  /* List Definitions */  @list l0 	{mso-list-id:1036194070; 	mso-list-type:hybrid; 	mso-list-template-ids:-2079038724 67698699 67698691 67698693 67698689 67698691 67698693 67698689 67698691 67698693;} @list l0:level1 	{mso-level-number-format:bullet; 	mso-level-text:; 	mso-level-tab-stop:36.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt; 	font-family:Wingdings;} @list l1 	{mso-list-id:1745250901; 	mso-list-type:hybrid; 	mso-list-template-ids:1997844722 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l1:level1 	{mso-level-tab-stop:36.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt;} ol 	{margin-bottom:0cm;} ul 	{margin-bottom:0cm;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; 	mso-para-margin:0cm; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:#0400; 	mso-fareast-language:#0400; 	mso-bidi-language:#0400;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;link rel="File-List" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CNewtech%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtml1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;    &lt;w:usefelayout/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" latentstylecount="156"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:Wingdings; 	panose-1:5 0 0 0 0 0 0 0 0 0; 	mso-font-charset:2; 	mso-generic-font-family:auto; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:0 268435456 0 0 -2147483648 0;} @font-face 	{font-family:Batang; 	panose-1:2 3 6 0 0 1 1 1 1 1; 	mso-font-alt:바탕; 	mso-font-charset:129; 	mso-generic-font-family:auto; 	mso-font-format:other; 	mso-font-pitch:fixed; 	mso-font-signature:1 151388160 16 0 524288 0;} @font-face 	{font-family:"\@Batang"; 	panose-1:0 0 0 0 0 0 0 0 0 0; 	mso-font-charset:129; 	mso-generic-font-family:auto; 	mso-font-format:other; 	mso-font-pitch:fixed; 	mso-font-signature:1 151388160 16 0 524288 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-parent:""; 	margin:0cm; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-language:EN-US;} span.textexposedshow 	{mso-style-name:text_exposed_show;} @page Section1 	{size:612.0pt 792.0pt; 	margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt; 	mso-header-margin:36.0pt; 	mso-footer-margin:36.0pt; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;}  /* List Definitions */  @list l0 	{mso-list-id:1036194070; 	mso-list-type:hybrid; 	mso-list-template-ids:-2079038724 67698699 67698691 67698693 67698689 67698691 67698693 67698689 67698691 67698693;} @list l0:level1 	{mso-level-number-format:bullet; 	mso-level-text:; 	mso-level-tab-stop:36.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt; 	font-family:Wingdings;} @list l1 	{mso-list-id:1745250901; 	mso-list-type:hybrid; 	mso-list-template-ids:1997844722 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l1:level1 	{mso-level-tab-stop:36.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt;} ol 	{margin-bottom:0cm;} ul 	{margin-bottom:0cm;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; 	mso-para-margin:0cm; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:#0400; 	mso-fareast-language:#0400; 	mso-bidi-language:#0400;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:85%;"   lang="SV"&gt;Mulanya saya tidak begitu tertarik untuk membahas ini. Namun, setelah terjadi diskusi dengan salah seorang saudara seiman beberapa pekan yang lalu, saya merasa tidak ada salahnya membuat tulisan seputar pendapat saya terhadap hukum &lt;i&gt;isbal&lt;/i&gt; ini. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:85%;"   lang="SV"&gt;Istilah &lt;i&gt;isbal&lt;/i&gt; di kalangan Islam –mengacu pada beberapa hadis Nabi- populer diartikan dengan penggunaan sarung, celana, atau apapun jenis pakaian yang melebihi mata kaki atau sampai menyapu tanah. Sejauh yang saya ketahui, memang terdapat dua pandangan besar di kalangan Muslimin tentang hukum &lt;i&gt;isbal&lt;/i&gt; ini. Sebagian mengharamkannya dan meyakininya sebagai syari’at atau minimal sunnah Nabi, sedang sebagian yang lain membolehkannya dengan syarat. Keduanya memiliki landasan hukum yang cukup argumentatif.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:85%;"   lang="SV"&gt;Pendapat yang mengharamkan perilaku &lt;i&gt;isbal&lt;/i&gt; mengacu pada beberapa hadis Nabi yang menunjukkan adanya celaan terhadap pelaku &lt;i&gt;isbal&lt;/i&gt;. Beberapa &lt;i&gt;dlohir&lt;/i&gt; hadis yang juga mengindikasikan adanya larangan dari Nabi dan populer di kalangan penganut pendapat ini di antaranya adalah sebagai berikut:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;ol style="margin-top: 0cm;" start="1" type="1"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="textexposedshow"  style="font-size:85%;"&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Arial;"&gt;"Apa yang ada di bawah kedua mata kaki      berupa sarung (kain) maka tempatnya di neraka" (HR.Bukhori)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:85%;"   lang="SV"&gt;"Ada      3 golongan yang tidak akan dilihat oleh Allah Subhanahu wa Ta&lt;span class="textexposedshow"&gt;’ala di hari kiamat, tidak dilihat dan tidak      disucikan ( dari dosa) serta mendapatkan azab yang sangat pedih, yaitu      pelaku &lt;i&gt;Isbal&lt;/i&gt; (musbil), pengungkit pemberian dan orang yang menjual      barang dagangannya dengan sumpah palsu." (HR. Muslim, Ibn Majah,      Tirmidzi, Nasa'i).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="textexposedshow"  style="font-size:85%;"&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Arial;"&gt;"Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala      tidak menerima shalat seseorang yang melakukan &lt;i&gt;Isbal&lt;/i&gt;." (HR.      Abu Dawud)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="textexposedshow"  style="font-size:85%;"&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Arial;"&gt;Dengan mengacu pada beberapa hadis di atas dan beberapa riwayat lain yang tidak saya sebutkan di sini, pendapat ini berkeyakinan bahwa larangan (keharaman) memanjangkan kain di bawah mata kaki bersifat mutlak.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:85%;"   lang="SV"&gt;Sedangkan pendapat yang membolehkan perilaku &lt;i&gt;isbal&lt;/i&gt; dengan syarat tertentu mengacu pada adanya &lt;i style=""&gt;illat&lt;/i&gt; pengharaman yang tertuang pada sabda Rasul kepada Abu Bakar: ”&lt;span class="textexposedshow"&gt;Barangsiapa yang memanjangkan pakaiannya karena sombong, maka ALLAH tidak akan memandang kepadanya pada hari Kiamat”. Maka Abu Bakar berkata: ”Sesungguhnya pakaianku sering turun”, lalu Rasulullah Salallahu alaihi wassalam bersabda : ”Kamu tidak termasuk dari mereka”. Dalam riwayat lain dikatakan : ”Kamu bukan orang yang melakukannya karena sombong”.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="textexposedshow"  style="font-size:85%;"&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Arial;"&gt;Dari &lt;i&gt;dlohir&lt;/i&gt; hadis ini, pendapat kedua memahami bahwa &lt;i style=""&gt;illat &lt;/i&gt;atau adanya &lt;i style=""&gt;taqyid &lt;/i&gt;”sombong” menjadi penyebab diharamkannya &lt;i&gt;isbal&lt;/i&gt;. Artinya, pendapat ini berkeyakinan bahwa sejauh pelaku &lt;i&gt;isbal&lt;/i&gt; tidak melakukannya dengan sombong, maka perilaku &lt;i&gt;isbal&lt;/i&gt; tidaklah diharamkan dan hukumnya mubah. Demikian misalnya yang diyakini oleh Imam Syafi’i, Imam Nawawi, dan Ibnu Abdil Barr sebagaimana direkam dengan sangat baik oleh Ibnu Rajab dalam kitab "Fathul Bari li Ibn Hajar" pada hadis nomor 5345. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span class="textexposedshow"  style="font-size:85%;"&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span class="textexposedshow"  style="font-size:85%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span class="textexposedshow"  style="font-size:85%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Arial;"&gt;Titik Perbedaan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:85%;"   lang="SV"&gt;Dari pemaparan di atas, dapat kita lihat bahwa perbedaan pendapat mengenai hukum &lt;i&gt;isbal&lt;/i&gt; ini terletak pada perbeadaan ada tidaknya &lt;i style=""&gt;taqyid &lt;/i&gt;atau &lt;i style=""&gt;illat &lt;/i&gt;pengharaman &lt;i&gt;isbal&lt;/i&gt;. Hadis tentang Abu Bakar ini memang menjadi polemik yang sedikit banyak menjadi cikal bakal lahirnya perbedaan ini. Bagi yang tidak sepakat dengan adanya &lt;i style=""&gt;taqyid &lt;/i&gt;dalam hadis ini berargumentasi bahwa Abu Bakar melakukan &lt;i&gt;isbal&lt;/i&gt; dengan tanpa sengaja. Abu Bakar sudah berhati-hati untuk menjaga sarung yang dipakainya tidak turun. Oleh karenanya, Nabi tidak menganggapnya sebagai perbuatan sombong. Berbeda dengan yang meyakini adanya &lt;i style=""&gt;taqyid &lt;/i&gt;sombong, &lt;i&gt;dlohir&lt;/i&gt; hadis ini menunjukkan bahwa dengan sangat jelas Nabi menggaris bawahi sifat sombong sebagai penyebab keharaman &lt;i&gt;isbal&lt;/i&gt;. Nabi juga memberikan pemahaman &lt;i style=""&gt;mafhum muwafaqah&lt;/i&gt; bahwa karena perbuatan yang tidak sombong itu, Abu Bakar tidak berdosa melakukannya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:85%;"   lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Arial;"&gt;Bagaimana Bersikap&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:85%;"   lang="SV"&gt;Perbedaan pendapat dalam ranah yang tidak termasuk dalam kategori &lt;i style=""&gt;ats-Tsawabit&lt;/i&gt; atau &lt;i style=""&gt;al-Ma’lum min al-Din bi al-Dloruroh&lt;/i&gt; adalah hal yang wajar. Masing-masing yang berbeda harus saling menghormati antar satu dengan yang lain. Demikianlah kewajiban dalam Islam dalam menyikapi perbedaan. Meyakini bahwa pendapat kita yang paling benar tidaklah bermasalah, tapi meyakini bahwa perbuatan orang lain adalah salah dapat menjadi sumber masalah. Menganggap bahwa yang memakai celana ”cingkrang” adalah teroris, Islam garis keras, atau Islam tradisional yang harus dijauhi sama berdosanya dengan meyakini bahwa orang yang &lt;i&gt;isbal&lt;/i&gt; telah berbuat sesuatu yang haram dan tidak menjalankan &lt;i&gt;syari’at&lt;/i&gt; Rasulullah. Sekali lagi saya tekankan bahwa keduanya memiliki landasan argumen dan tokoh yang kuat. Mengunggulkan pendapat yang satu, tidaklah sama sekali mengurangi kekuatan pendapat yang lain. Meyakini kebenaran satu pendapat tidak sama sekali menghapus kebenaran pendapat yang berbeda. Demikian kaidah dalam persoalan ijtihad, ”&lt;i&gt;al-Ijtihadu la yanqudu bi al-ijtihadi&lt;/i&gt;”.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:85%;"   lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Arial;"&gt;Menjawab Berbagai Pernyataan Salah Kaprah&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;link rel="File-List" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CNewtech%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtml1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;    &lt;w:usefelayout/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" latentstylecount="156"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:Batang; 	panose-1:2 3 6 0 0 1 1 1 1 1; 	mso-font-alt:바탕; 	mso-font-charset:129; 	mso-generic-font-family:auto; 	mso-font-format:other; 	mso-font-pitch:fixed; 	mso-font-signature:1 151388160 16 0 524288 0;} @font-face 	{font-family:"\@Batang"; 	panose-1:0 0 0 0 0 0 0 0 0 0; 	mso-font-charset:129; 	mso-generic-font-family:auto; 	mso-font-format:other; 	mso-font-pitch:fixed; 	mso-font-signature:1 151388160 16 0 524288 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-parent:""; 	margin:0cm; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-language:EN-US;} @page Section1 	{size:612.0pt 792.0pt; 	margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt; 	mso-header-margin:36.0pt; 	mso-footer-margin:36.0pt; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; 	mso-para-margin:0cm; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:#0400; 	mso-fareast-language:#0400; 	mso-bidi-language:#0400;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:130%;"   lang="SV"&gt;Bila kita berselisih dalam satu hal maka kita kembalikan pada al-Quran dan Hadis sebagaimana perintah Allah (&lt;i style=""&gt;Farudduhu Ila Allah wa al-Rasul&lt;/i&gt;)&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:85%;"   lang="SV"&gt;Cukup panjang untuk dijawab dengan lengkap. Saya akan buat Tulisan dan pemaparan tersendiri untuk menjawab pernyataan ini, Insya Allah. Tapi intinya, bahwa term kembali ke al-Quran dan Sunnah sangat mudah kita melafalkannya, tapi sangat sulit mengaplikasikannya. Lalu benarkah ayat tersebut dapat ditafsirkan demikian?&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;link rel="File-List" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CNewtech%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtml1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;    &lt;w:usefelayout/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" latentstylecount="156"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:Batang; 	panose-1:2 3 6 0 0 1 1 1 1 1; 	mso-font-alt:바탕; 	mso-font-charset:129; 	mso-generic-font-family:auto; 	mso-font-format:other; 	mso-font-pitch:fixed; 	mso-font-signature:1 151388160 16 0 524288 0;} @font-face 	{font-family:"\@Batang"; 	panose-1:0 0 0 0 0 0 0 0 0 0; 	mso-font-charset:129; 	mso-generic-font-family:auto; 	mso-font-format:other; 	mso-font-pitch:fixed; 	mso-font-signature:1 151388160 16 0 524288 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-parent:""; 	margin:0cm; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-language:EN-US;} @page Section1 	{size:612.0pt 792.0pt; 	margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt; 	mso-header-margin:36.0pt; 	mso-footer-margin:36.0pt; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; 	mso-para-margin:0cm; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:#0400; 	mso-fareast-language:#0400; 	mso-bidi-language:#0400;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:130%;"   lang="SV"&gt;Tidak ada ulama yang mengatakan bahwa pakaian di atas mata kaki bukan syariat Islam&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:85%;"   lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span class="textexposedshow"  style="font-size:85%;"&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Arial;"&gt;Argumentasi ini benar tapi tidak serta merta dapat dipahami &lt;i style=""&gt;mafhum mukholafahnya&lt;/i&gt; bahwa pakaian di bawah mata kaki bukan syariat Islam. Buktinya tidak semua ulama sepakat secara mutlak terhadap pengharaman pakaian di bawah mata kaki atau sepakat dengan tanpa &lt;i style=""&gt;taqyid&lt;/i&gt;. Dalam bahasa yang lebih sederhana, ”Benar tidak ada ulama yang berkata bahwa yang di atas mata kaki adalah bukan syariat Islam, sebagaimana juga benar bahwa tidak semua ulama mengharamkan pakaian di bawah mata kaki”, sebagaimana penjelasan sebelumnya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;link rel="File-List" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CNewtech%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtml1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;    &lt;w:usefelayout/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" latentstylecount="156"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:Batang; 	panose-1:2 3 6 0 0 1 1 1 1 1; 	mso-font-alt:바탕; 	mso-font-charset:129; 	mso-generic-font-family:auto; 	mso-font-format:other; 	mso-font-pitch:fixed; 	mso-font-signature:1 151388160 16 0 524288 0;} @font-face 	{font-family:"\@Batang"; 	panose-1:0 0 0 0 0 0 0 0 0 0; 	mso-font-charset:129; 	mso-generic-font-family:auto; 	mso-font-format:other; 	mso-font-pitch:fixed; 	mso-font-signature:1 151388160 16 0 524288 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-parent:""; 	margin:0cm; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-language:EN-US;} @page Section1 	{size:612.0pt 792.0pt; 	margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt; 	mso-header-margin:36.0pt; 	mso-footer-margin:36.0pt; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; 	mso-para-margin:0cm; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:#0400; 	mso-fareast-language:#0400; 	mso-bidi-language:#0400;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:130%;"   lang="SV"&gt;Bila terjadi perbedaan pendapat, sebagai bentuk kehati-hatian hendaknya kita tidak mengambil yang paling ringan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="textexposedshow"  style="font-size:85%;"&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 27pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span dir="ltr"  style="font-size:85%;"&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Arial;"&gt;&lt;bila&gt;&lt;/bila&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;link rel="File-List" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CNewtech%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtml1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;    &lt;w:usefelayout/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" latentstylecount="156"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:Batang; 	panose-1:2 3 6 0 0 1 1 1 1 1; 	mso-font-alt:바탕; 	mso-font-charset:129; 	mso-generic-font-family:auto; 	mso-font-format:other; 	mso-font-pitch:fixed; 	mso-font-signature:1 151388160 16 0 524288 0;} @font-face 	{font-family:"\@Batang"; 	panose-1:0 0 0 0 0 0 0 0 0 0; 	mso-font-charset:129; 	mso-generic-font-family:auto; 	mso-font-format:other; 	mso-font-pitch:fixed; 	mso-font-signature:1 151388160 16 0 524288 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-parent:""; 	margin:0cm; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-language:EN-US;} @page Section1 	{size:612.0pt 792.0pt; 	margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt; 	mso-header-margin:36.0pt; 	mso-footer-margin:36.0pt; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; 	mso-para-margin:0cm; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:#0400; 	mso-fareast-language:#0400; 	mso-bidi-language:#0400;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;&lt;span dir="ltr"  style="font-size:85%;"&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Arial;"&gt;&lt;bila&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/bila&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:85%;"   lang="SV"&gt;Sekilas argumentasi ini tampak cukup kokok, meski sebenarnya cukup banyak celah yang masih harus kita pertanyakan. Kehati-hatian itu tidak identik dengan mengambil yang lebih berat. Meski dalam beberapa contoh kasus &lt;i style=""&gt;fiqh &lt;/i&gt;demikian, namun juga cukup banyak kasus &lt;i style=""&gt;fiqh&lt;/i&gt; yang bertolak belakang. Misalnya, kalau kita ragu apakah kita sudah sampai pada rakaat ketiga atau keempat dalam shalat Dluhur, maka kita harus meyakini tiga rakaat. Bila kita ragu sudah wudlu atau belum, berarti kita dianggap belum wudlu. Itu artinya mengambil yang lebih berat. Kasus semacam ini hanya bisa digunakan dalam konteks kehati-hatian yang bersifat non-dalil, atau keragu-raguan dan perbedaan pendapat yang berada pada wilayah &lt;i style=""&gt;’aqly&lt;/i&gt;. Tidak demikian halnya, dalam hal perbedaan pendapat yang bersifat &lt;i style=""&gt;naqly &lt;/i&gt;atau penafsiran terhadap &lt;i style=""&gt;naqly&lt;/i&gt;. Misalnya, apakah kita lebih baik mengikuti Imam Malik membasuh seluruh kepala saat berwudlu karena lebih berat ketimbang Imam Syafi’i yang menetapkan cukup minimal beberapa rambut saja terbasahi? Terus, apakah juga lebih baik melakukan tarawih 20 rakaat yang lebih berat daripada 8 rakaat, sementara ulama masih berbeda pendapat tentang hal ini? Jawabannya tentu bukan baik atau tidak baik, bukan pula harus atau tidak harus.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:85%;"   lang="SV"&gt;Jadi, tidaklah lebih baik –dengan mengatasnamakan kehati-hatian- menggunakan celana di atas mata kaki. Penggunaan pakaian di atas mata kaki tidak bisa menggunakan teori kehati-katian (&lt;i style=""&gt;ihtiyath&lt;/i&gt;). Keyakinan anti-&lt;i&gt;isbal&lt;/i&gt; berlaku karena berpegang pada argumen yang saya paparkan sebelumnya. Itu artinya, orang yang tidak berpakaian di atas mata kaki bukan berarti tidak berhati-hati dalam memilih pendapat, tapi karena memang demikianlah keyakinan dan penafsiran mereka terhadap persoalan ini. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:85%;"   lang="SV"&gt;Siapa sich Imam yang paling terkenal dengan teori &lt;i style=""&gt;ihtiyath&lt;/i&gt;? Jawabnya, Imam Syafi’i. Lalu dimanakah letak pendapat Imam Syafi’i? Sebagaimana saya kemukakan di atas, Imam Syafi’i justru masuk dalam kelompok kedua, yaitu kelompok yang tidak mengharamkan &lt;i&gt;isbal&lt;/i&gt;&lt;i style=""&gt; &lt;/i&gt;secara mutlak. Kalaupun pada akhirnya pendapat kedua dianggap lebih ringan dari yang pertama, ya dimana letak salahnya? Di samping itu, hukum pendapat kedua ini bukanlah hukum yang dibuat-buat hanya karena tuntutan fashion semata, karena kita ketahui bersama Imam Syafi’i dkk jauh hidup pada masa lalu. ”&lt;i style=""&gt;ad-Dinu Yusrun&lt;/i&gt;”, bukankah demikian. Nah, kalau ”&lt;i style=""&gt;taysir ad-din&lt;/i&gt;”&lt;i style=""&gt; &lt;/i&gt;barulah itu tidak benar.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span dir="ltr"  style="font-size:85%;"&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Arial;"&gt;&lt;orang&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Isbal tidak mengikuti syariat Islam atau syariat Nabi&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/orang&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:85%;"   lang="SV"&gt;Pernyatan semacam ini tidak perlu saya jawab panjang lebar, karena mudah-mudahan sudah bisa dipahami dari pemaparan saya di atas. Intinya, &lt;span class="textexposedshow"&gt;Syaikh Abdul Aziz Ibn Abdullah Ibn Bazz&lt;/span&gt; (pendapat pertama) atau Imam Syafi’i (pendapat kedua) tidak ada yang meragukan keduanya dalam menjalankan syariat Islam. B&lt;span class="textexposedshow"&gt;eranggapan –apalagi meyakini- bahwa yang &lt;i&gt;isbal&lt;/i&gt; adalah pasti salah –misalnya dianggap tidak mengikuti dan &lt;i style=""&gt;iltizam&lt;/i&gt; terhadap Sunnah Nabi- tentu tidaklah bisa diterima dengan fakta perbedaan tafsir sebagaimana yang telah saya paparkan. &lt;i&gt;Wallahu a’lam&lt;/i&gt;.&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:85%;"   lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span  lang="FI" style="font-family:Arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span  lang="FI" style="font-family:Arial;"&gt;Lalu Saya termasuk Kelompok mana?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:85%;"   lang="FI"&gt;Bagi saya, persoalan &lt;i&gt;isbal &lt;/i&gt;ini adalah bukan persoalan &lt;i&gt;fiqh&lt;/i&gt; semata, melainkan juga amat kental nuansa tasawwufnya (hati dan niat). Persoalan &lt;i&gt;fiqh&lt;/i&gt; dalam hadis ini -sekali lagi menurut pendapat saya- hanya menyangkut perihal menjaga pakaian dari najis saja. Bersih dari najis adalah syarat mutlak dalam beribadah, disamping memang kebersihan juga merupakan ajaran yang ditekankan Islam. Larangan &lt;i&gt;isbal&lt;/i&gt; amat terkait dengan kekhawatiran melekatnya najis pada pakaian seseorang saat pakaian itu terlalu dekat dengan tanah. Akibatnya, pakaian itu menjadi kotor dan tidak sah untuk digunakan beribadah yang menyaratkan kesucian pakaian.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:85%;"   lang="SV"&gt;Selebihnya, persoalan &lt;i&gt;isbal &lt;/i&gt;ini berkaitan dengan hati dan niat. Bagaimana kita mengatur keduanya -tidak terkecuali dalam konteks berpakaian- sangat menentukan haram tidaknya perbuatan yang sedang kita lakukan. Kata &lt;i&gt;khuyala’ &lt;/i&gt;atau &lt;i&gt;makhilah &lt;/i&gt;yang banyak ditemui dalam hadis-hadis nabi tentang &lt;i&gt;isbal &lt;/i&gt;menyiratkan sekaligus menyuratkan perihal niat ini. Besar kemungkinan (mohon maaf saya belum dapat referensi sejarah yang valid) pada zaman Nabi, pakaian yang sampai menyapu tanah mengindikasikan sebuah kesombongan, sebagaimana lazim dipakai para raja-raja, sehingga nabi melarangnya. Pertama, melarang karena akan menyebabkan pakaian itu najis. Kedua, melarang karena perbuatan tersebut tanda kesombongan. Analisis saya ini diperkuat oleh hadis nabi berikut:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="rtl" style="text-align: justify; direction: rtl; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;color:black;"   lang="AR-SA"&gt;اِرْفَعْ ثَوْبك فَإِنَّهُ أَنْقَى لِثَوْبِك وَأَتْقَى لِرَبِّك&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr" style=";font-family:Arial;font-size:85%;"   lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="rtl" style="text-align: right; direction: rtl; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span dir="ltr" style=";font-family:Arial;font-size:85%;"   lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:85%;"   lang="SV"&gt;”Angkatlah pakaianmu. Sesungguhnya hal itu lebih bersih untuk pakaianmu dan (dipandang) lebih bertakwa di hadapan Tuhanmu”.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:85%;"   lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:85%;"   lang="SV"&gt;Hadis ini sangat jelas menunjukkan adanya dua dimensi yang saya maksudkan, dimensi fiqih (baca: najis) dan dimensi tasawwuf (baca: takwa/niat). Oleh karenanya, Imam Syafi’i juga memilih untuk lebih menyarankan mengangkat pakaian yang kita pakai sampai setengah betis. Namun sekali lagi, Imam Syafi’i tidak mengharamkan bagi yang memakai pakaian di bawah mata kaki tapi tidak disertai kesombongan. Keharaman berpakaian yang disertai kesombongan dalam dimensi tasawwuf juga bisa di-&lt;i&gt;qiyas&lt;/i&gt;-kan pada hal di luar &lt;i&gt;isbal&lt;/i&gt;. Memakai surban kalau sombong maka hukumnya juga haram, memakai kopyah atau baju koko bila di hati ada niatan &lt;i&gt;khuyala’&lt;/i&gt;, maka juga haram. Begitu juga, bila kita tidak &lt;i&gt;isbal &lt;/i&gt;dengan mengangkat pakaian kita sampai betis dengan ada niatan &lt;i&gt;riya’&lt;/i&gt; dan &lt;i&gt;takabbur&lt;/i&gt; maka itupun juga haram.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11;"   lang="SV"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Jadi dalam pandangan saya, dalam konteks pakaian normal (pakaian santai, etc), asal tidak disertai kesombongan, tidak masalah menggunakan pakaian yang menutupi mata kaki. Namun bila pakaian (celana, etc) itu memanjang sampai menyapu tanah sebaiknya dihindari, karena akan menyebabkan najis. Islam sangat menganjurkan umatnya untuk membersihkan diri dari najis. Sedangkan untuk pakaian yang akan dipakai untuk ibadah yang menyaratkan kesucian pakaian, maka wajib hukumnya mengangkat pakaian itu sampai selamat dari kemungkinan najis. &lt;i&gt;Wallahu a’lam&lt;/i&gt;.&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11;"   lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Georgia;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5715123733357252427-290009720025128257?l=robitfirdaus.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://robitfirdaus.blogspot.com/feeds/290009720025128257/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://robitfirdaus.blogspot.com/2009/08/hukum-isbal.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5715123733357252427/posts/default/290009720025128257'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5715123733357252427/posts/default/290009720025128257'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://robitfirdaus.blogspot.com/2009/08/hukum-isbal.html' title='HUKUM ISBAL'/><author><name>Robitul Firdaus</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15873571037972114090</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_dAbyJD8_VgQ/SJFTl1jwoNI/AAAAAAAAADU/KelUHDoWq8c/S220/Aku.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5715123733357252427.post-760841021747986527</id><published>2009-06-17T11:52:00.000+07:00</published><updated>2009-06-17T12:07:31.555+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Robit Menjawab'/><title type='text'>Bangunan Tinggi Tanda Kiamat</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Seorang mahasiswi dari arsitek bertanya: Bagaimana yang dimaksud dengan salah satu hadis Nabi bahwa salah satu tanda kiamat adalah didirikannya bangunan tinggi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelumnya telah saya kutipkan Hadis yang dimaksud dalam email yang saya kirimkan pada penanya. Hadis tersebut saya temukan dalam kitab Shohih Bukhori. Hadis ini sebenarnya secara umum berbicara bukan tentang tanda-tanda kiamat. Yang menjadi titik tekannya menurut saya adalah persoalan keimanan. Asumsi saya ini semakin diperkuat dengan fakta bahwa hadis ini juga terletak pada bab Iman di kitab shohih Bukhori. Sementara kiamat adalah satu hal dari beberapa hal yang mendapat porsi dalam keimanan. Nabi sendiri tidak merinci bagaimana kiamat itu terjadi. Nabi hanya menjelaskan beberapa tanda ketika kiamat itu akan tiba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hadis ini Nabi menyebutkan dua tanda: Ketika seorang budak melahirkan tuannnya dan ketika para pengembala unta berlomba-lomba meninggikan gedung-gedung milik mereka. Tanda kiamat yang lain sebenarnya banyak dituturkan Nabi dalam hadis yang lain. Misalnya: Merajalelanya kebodohan (moral), lelaki menyerupai wanita dan sebaliknya, Quran tinggal tulisan, Islam tinggal nama, serta tanda-tanda lain yang begitu banyak tersurat dalam beberapa hadis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanda-tanda tersebut akan diartikan dan diimani secara tekstual juga boleh-boleh saja. Hanya saja, ada beberapa hal yang menurut saya akan lebih baik kalau direnungkan ketika mencoba menginterpretasikan hadis-hadis tentang tanda kiamat ini. Hal ini terkait bagaimana menjelaskan tanda-tanda tersebut secara akademis dan ilmiah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, Hadis atau Sunnah tidaklah hidup di ruang yang kosong. Ia lahir dan hidup pada satu waktu, satu tempat, dan satu kondisi sosial sendiri. Begitu juga hadis tentang tanda-tanda kiamat. Menurut saya, ada beberapa tanda yang harus diterjemahkan tidak secara tekstual, karena sangat berbau &lt;span style="font-style: italic;"&gt;local genius&lt;/span&gt; saat hadis itu dilahirkan. Sehingga pemaknaannya untuk masa kini dengan masa, tempat, dan kondisi sosial yang berbeda juga semestinya menyesuaikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, kalau saya perhatikan dan saya teliti, sebenarnya beberapa tanda-tanda kiamat yang disampaikan dalam beberapa hadis Nabi yang berbeda dan tersebar dalam kitab-kitab hadis yang berbeda mengerucut pada satu hal. Tanda itu adalah “ketika dunia sudah tidak lagi menjalankan hukum alam (sunnatullah –ada juga yang menyebutnya dengan syari’ah), maka terjadilah kiamat”. Dalam bahasa hukumnya, kiamat terjadi ketika apa yang seharusnya dan idealnya berlaku tidak terjadi pada kenyataannya (Das sollen tidak sesuai dengan Das sein).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini cukup panjang untuk dijelaskan. Ok, agar supaya lebih fokus dan lebih mudah, kita langsung saja ambil contoh tanda kiamat, “didirikannya bangunan-bangunan yang menjulang tinggi”. Sepengetahuan saya, ada dua hadis terkenal yang mengaitkan akhir zaman dengan bangunan.&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Hadis yang saya kutipkan di atas. Hadis itu menyebutkan bahwa ketika pengembala unta berlomba-lomba mendirikan bangunan tinggi, itu menjadi pertanda tibanya kiamat. Tanda yang ini sangat local genius Arab, terlihat dari pengambilan unta –hewan ternak di Arab- sebagai contoh. Oleh karenanya, diharuskan memahami kondisi sosial pada saat itu untuk bisa mengambil ibroh (pelajaran). Pengembala unta pada masa itu identik dengan orang Badui (orang udik) yang kehidupannya nomaden atau sangat terpencil jauh dari peradaban kota (untuk mendapat keterangan ini baca karya Ibnu Khaldun “Muqaddimah”). Sehingga kalau mereka sampai membangun bangunan yang tinggi dan megah adalah satu fenomena yang dianggap menyalahi kebiasaan (hukum alam/sunnatullah). Seolah dunia sudah terbalik. Jadi hadis ini, akan lebih pas menurut saya kalau dipahami secara konstektual. Intinya ada pada pengingkaran terhadap sunnatullah. Contohnya, kalau hutan itu ditebang, sunnatullah-nya memang akan terjadi beberapa efek domino yang ujungnya akan melahirkan bencana. Oleh karenanya, jangan merusak sistem sunnatullah yang telah meletakkan alam ini secara seimbang.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Hadis yang menyebutkan bahwa di akhir zaman “bangunan masjid megah dan ramai namun jauh dari petunjuk Allah”. Nah, untuk hadis yang ini, sah-sah saja kalau akan diartikan secara tekstual. Masjid itu adalah tempat beribadah, tempat bersilaturrahmi, tempat belajar, dan fungsi-fungsi kemasyarakatan yang lain. Namun yang terjadi akhir-akhir ini, banyak sekali masjid yang dibangun dengan dana mahal dan arsitektur modern, tapi tidak menjalankan fungsi masjid dengan baik. Secara hukum alam, masjid itu bukan tempat tidur. Ia adalah tempat sholat dan tempat ilmu. Ia juga bukan sekedar tempat rekreasi guna memamerkan keindahan bangunannya saja. Ketika hukum alam itu tidak lagi dijalankan, maka itu pertanda akhir zaman.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;br /&gt;Demikian, semoga dapat bermanfaat.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5715123733357252427-760841021747986527?l=robitfirdaus.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://robitfirdaus.blogspot.com/feeds/760841021747986527/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://robitfirdaus.blogspot.com/2009/06/bangunan-tinggi-tanda-kiamat.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5715123733357252427/posts/default/760841021747986527'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5715123733357252427/posts/default/760841021747986527'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://robitfirdaus.blogspot.com/2009/06/bangunan-tinggi-tanda-kiamat.html' title='Bangunan Tinggi Tanda Kiamat'/><author><name>Robitul Firdaus</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15873571037972114090</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_dAbyJD8_VgQ/SJFTl1jwoNI/AAAAAAAAADU/KelUHDoWq8c/S220/Aku.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5715123733357252427.post-1072827278827017818</id><published>2009-06-14T01:27:00.000+07:00</published><updated>2009-06-14T01:59:43.458+07:00</updated><title type='text'>Dialog "Cinta" Bersama SO7</title><content type='html'>&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;link rel="File-List" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CNewtech%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtml1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;    &lt;w:usefelayout/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" latentstylecount="156"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:Batang; 	panose-1:2 3 6 0 0 1 1 1 1 1; 	mso-font-alt:바탕; 	mso-font-charset:129; 	mso-generic-font-family:auto; 	mso-font-format:other; 	mso-font-pitch:fixed; 	mso-font-signature:1 151388160 16 0 524288 0;} @font-face 	{font-family:"\@Batang"; 	panose-1:0 0 0 0 0 0 0 0 0 0; 	mso-font-charset:129; 	mso-generic-font-family:auto; 	mso-font-format:other; 	mso-font-pitch:fixed; 	mso-font-signature:1 151388160 16 0 524288 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-parent:""; 	margin:0cm; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:Batang; 	mso-ansi-language:IN; 	mso-no-proof:yes;} @page Section1 	{size:612.0pt 792.0pt; 	margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt; 	mso-header-margin:36.0pt; 	mso-footer-margin:36.0pt; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; 	mso-para-margin:0cm; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:#0400; 	mso-fareast-language:#0400; 	mso-bidi-language:#0400;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;link rel="File-List" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CNewtech%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtml1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;    &lt;w:usefelayout/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" latentstylecount="156"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:Batang; 	panose-1:2 3 6 0 0 1 1 1 1 1; 	mso-font-alt:바탕; 	mso-font-charset:129; 	mso-generic-font-family:auto; 	mso-font-format:other; 	mso-font-pitch:fixed; 	mso-font-signature:1 151388160 16 0 524288 0;} @font-face 	{font-family:"\@Batang"; 	panose-1:0 0 0 0 0 0 0 0 0 0; 	mso-font-charset:129; 	mso-generic-font-family:auto; 	mso-font-format:other; 	mso-font-pitch:fixed; 	mso-font-signature:1 151388160 16 0 524288 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-parent:""; 	margin:0cm; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:Batang; 	mso-ansi-language:IN; 	mso-no-proof:yes;} @page Section1 	{size:612.0pt 792.0pt; 	margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt; 	mso-header-margin:36.0pt; 	mso-footer-margin:36.0pt; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; 	mso-para-margin:0cm; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:#0400; 	mso-fareast-language:#0400; 	mso-bidi-language:#0400;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;link rel="File-List" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CNewtech%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtml1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;    &lt;w:usefelayout/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" latentstylecount="156"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:Batang; 	panose-1:2 3 6 0 0 1 1 1 1 1; 	mso-font-alt:바탕; 	mso-font-charset:129; 	mso-generic-font-family:auto; 	mso-font-format:other; 	mso-font-pitch:fixed; 	mso-font-signature:1 151388160 16 0 524288 0;} @font-face 	{font-family:"\@Batang"; 	panose-1:0 0 0 0 0 0 0 0 0 0; 	mso-font-charset:129; 	mso-generic-font-family:auto; 	mso-font-format:other; 	mso-font-pitch:fixed; 	mso-font-signature:1 151388160 16 0 524288 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-parent:""; 	margin:0cm; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:Batang; 	mso-ansi-language:IN; 	mso-no-proof:yes;} @page Section1 	{size:612.0pt 792.0pt; 	margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt; 	mso-header-margin:36.0pt; 	mso-footer-margin:36.0pt; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; 	mso-para-margin:0cm; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:#0400; 	mso-fareast-language:#0400; 	mso-bidi-language:#0400;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;" lang="FI"&gt;Aku tak akan tenang bila kewarasanku kembali datang. Bila harus kembali mengingat bahwa hanya dirimu yang bisa meramaikan kesepianku. Kalau hanya dirimu yang sanggup membangunkanku. Saat ketidakwarasanku yang datang, dinding-dinding kamarku ini menjadi teman yang begitu setia menjadi &lt;i&gt;tajalli &lt;/i&gt;dirimu. Tanpa kehadiranmu, aku justru semakin bisa menghayati keberadaanmu. Tanpa bisa menyentuhmu, kurasakan kedekatanmu dihatiku. Tanpa bibirku bergerak, detakan hatiku berjalan ke arahmu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;" lang="FI"&gt;&lt;br /&gt; &lt;!--[if !supportLineBreakNewLine]--&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;" lang="FI"&gt;Belum pernah kebahagiaan seperti ini menghinggapiku. Jatuh hati kepadamu. Tumbuhkan nyaliku tuk katakan padamu, aku cinta padamu. Kuyakin kau tahu perasaanku padamu. Hanya saja seolah kau tak tahu kaulah yang sedang kutuju. Akan kunantikan hatimu mengiyakanku. Saat itu, setiap langkah yang kupijak kulalui bersamamu. Setiap tintaku hanya akan menulis atas namamu. Aku mau kau tahu, tiap tetes tatapmu padaku selalu mengiringi tanyaku, ”kapan kau jadi milikku?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;" lang="FI"&gt;&lt;!--[if !supportLineBreakNewLine]--&gt;&lt;br /&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;" lang="FI"&gt;Sadarkah kau kusayangi, sadarkah untukmu aku kan banyak berbuat sesuatu. Diamku bukanlah tidak menginginkanmu. Sayang kau tidak mendengar degup jantungku yang kian berisik saat ku melihatmu. Itu tanda perasaan cintaku. Aku kan selalu mendampingimu, bila bahagia yang akan kau tuju, bila cahaya bimbingan yang kau harap kan menemanimu. Jangan hanya diriku yang tahu aku mencintaimu. Kuminta jadilah warna hidupku. Maukah hidup bersamaku?&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:10;"   lang="FI"&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5715123733357252427-1072827278827017818?l=robitfirdaus.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://robitfirdaus.blogspot.com/feeds/1072827278827017818/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://robitfirdaus.blogspot.com/2009/06/dialog-cinta-bersama-so7.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5715123733357252427/posts/default/1072827278827017818'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5715123733357252427/posts/default/1072827278827017818'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://robitfirdaus.blogspot.com/2009/06/dialog-cinta-bersama-so7.html' title='Dialog &quot;Cinta&quot; Bersama SO7'/><author><name>Robitul Firdaus</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15873571037972114090</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_dAbyJD8_VgQ/SJFTl1jwoNI/AAAAAAAAADU/KelUHDoWq8c/S220/Aku.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5715123733357252427.post-6118920798296265014</id><published>2009-03-11T21:38:00.000+07:00</published><updated>2009-03-12T13:51:06.651+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Agama Cinta (in seasons)'/><title type='text'>Agama Cintaku</title><content type='html'>&lt;div&gt;Bukan untukmu aku menuliskan ini. Bukan juga untuk meng'aku'kan ke'aku'anku akhirnya aku memutuskan untuk merangkai kata ini. Bagiku, dirimu -di satu sisi pandanganku- tidak sama sekali berbeda dengan makhluk lainnya. Meski harus kuakui kalau -di sisi yang lain- dirimu tentu sangatlah berbeda. Perbedaan yang terkadang menuntut banyak orang berbuat berbeda. Perbedaan yang sesekali melahirkan sakit hati. Perbedaan yang sudah pasti membawa sempit makna 'cinta' yang sebenarnya keluasannya tak mampu terdefinisikan secara hakiki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cinta adalah kata suci bagi semua agama. Tak ada satu pun ajaran agama rela disebut anti-cinta. Ia selalu membawa pesan damai, indah, dan menenangkan. Ia tempat teduh di tengah kekeringan sahara. Ia obor gelap gulita malam. Ia pundak yang begitu nyaman dijadikan tempat bersandar saat kelelahan. Hakikat cinta adalah membawa amanah perlindungan dan kedamaian. Perlindungan dari penderitaan dan kedamaian dari kegundahan. Inilah agama hakiki, agama cinta. Inilah yang dimaksudkan "Ingatlah dengan mengingat Allah, hati kan menjadi tenang".  Jangan kau sebut agama, ajaran yang tidak melawan penderitaan. Jangan kau sebut agama,  hubungan yang justru menyakiti. Itu bukan cinta. Yakinlah itu bukan cinta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Bimbinglah aku mendapat cinta hakiki Gusti... Biarkan kuasa-Mu membimbingku mencintai-Mu. Cinta yang mungkin kau jadikan para peminta, pemulung, ibu jompo menjadi &lt;span&gt;wasilah&lt;/span&gt;-Nya. Cinta yang mungkin juga kan mengantarkanku pada dia yang mampu mengenalkanku sifat &lt;span&gt;jamaliyah&lt;/span&gt;-Mu.  Cinta seperti ini yang kuinginkan Gusti... Aku berlindung dari-Mu atas kesesatan-kesesatan atas nama cinta, atas keindahan-keindahan yang tidak memberikanku ketenangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harus kuakui, cinta yang ideal memang ketika aku mencintai -dengan sangat- wujud yang- juga dengan sangat- mencintaiku. Bukan aku saja yang membuncah mencintainya atau wujud itu saja yang dengan tanpa batas mencintaiku. Namun, ketika harus memilih, apakah wujud yang kucintai ataukah wujud yang mencintaiku untuk kupilih. Maka,  wujud yang -dengan sangat- mencintaiku menjadi jawabanku. Lebih baik aku menangis karena aku belum bisa mencintai -dengan sangat- wujud yang begitu mencintaiku, daripada harus kualirkan air mataku karena wujud yang -dengan sangat- kucintai tidaklah mencintaiku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku kan memilih berjuang mencintai-Nya daripada harus berjuang mengemis cintanya. Tiada Tuhan yang tidak mencintai umat-Nya, meski jarang sekali umat yang berjuang mencintai-Nya. Bagiku, cinta bukanlah pemberian, tapi ia adalah perjuangan. Bukan bagaimana mendapat cintanya, tetapi bagaimana mencintainya. Lebih baik aku belajar mencintainya daripada aku berbuat sesuatu mengejar cintanya. Itulah mengapa aku harus mencintai-Nya, karena sejatinya Ia telah terlebih dahulu sangat mencintaiku. Aku memilih yang mencintaiku....   &lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5715123733357252427-6118920798296265014?l=robitfirdaus.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://robitfirdaus.blogspot.com/feeds/6118920798296265014/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://robitfirdaus.blogspot.com/2009/03/agama-cinta.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5715123733357252427/posts/default/6118920798296265014'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5715123733357252427/posts/default/6118920798296265014'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://robitfirdaus.blogspot.com/2009/03/agama-cinta.html' title='Agama Cintaku'/><author><name>Robitul Firdaus</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15873571037972114090</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_dAbyJD8_VgQ/SJFTl1jwoNI/AAAAAAAAADU/KelUHDoWq8c/S220/Aku.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5715123733357252427.post-8684949536124019855</id><published>2009-03-06T09:45:00.000+07:00</published><updated>2009-03-06T11:14:11.166+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Curhat'/><title type='text'>Bermimpi Menulis Mimpi</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Mulanya, saya tidak pernah berpikir untuk punya keinginan menulis tentang ini, tentang tulisan fiksi. Ada banyak alasan kenapa saya tidak &lt;span style="font-style: italic;"&gt;enjoy&lt;/span&gt; menulis fiksi. Pertama, mungkin karena sudah sekian lama jari jemari saya terbiasa menulis dan mengetik atas dasar perintah otak kiri.. Tingkat kemampuan membahasakan hasil imajinasi saya ke dalam bentuk paragraf bisa dibilang tidak begitu bisa saya banggakan.. Pertanyaan yang terus ditekankan otak kiri saya saat menulis adalah, "ilmiah &lt;span style="font-style: italic;"&gt;ga'&lt;/span&gt; &lt;span style="font-style: italic;"&gt;nich&lt;/span&gt;?". Selama belum sampai pada taraf ilmiah -tentu saja dalam batasan subjektivitas saya- maka usaha meng"ilmiah"kannya akan semaksimal mungkin saya lakukan. Kedua, Saya tergolog orang yang tidak biasa melakukan tindakan persuasif dengan pendekatan fiksi. Saya yakin, semua penulis memiliki usaha mempengaruhi pembaca dalam setiap tulisannya. Nah, saya termasuk orang yang selama bertahun-tahun dilatih untuk melakukan "usaha mempengaruhi" itu dengan cara berpikir ilmiah.. (Ini sama sekali tidak saya maksudkan bahwa semua karya fiksi tidaklah ilmiah)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya bukannya tidak pernah menulis fiksi. Saya pernah, meski saya sendiri tidak yaikin apakah layak disebut tulisan. Saya juga tidak mengatakan kalau saya tidak suka karya fiksi (novel, cerpen, puisi, dll). Saya bahkan sangat suka menikmati beberapa karya fiksi.. Penulis seperti Cak Nun dan Pramoedya sangat saya kagumi.. Karena dalam banyak hal saya akui berhasil "dipengaruhi" oleh tulisan-tulisan mereka. Namun bukan mereka yang pada akhirnya menyebabkan saya berubah pikiran. Bukan Cak Nun atau Mas Pram yang mengilhami saya ingin menulis karya fiksi berdimensi sosial. Novel kang Abik juga tidak terlalu banyak memberikan spirit menulis novel Islam pada batin saya..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Trus kenapa dong akhirnya saya tertarik menulis fiksi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semalam, saya membaca beberapa tulisan teman "baru" saya dalam blognya.. Tulisannya memang semacam beberapa hasil pengalaman dan imajinasi yang ia tuliskan.. Secara akademis, teman saya ini masih dua tahun di bawah saya.. Tapi, harus saya akui, saya kagum pada kualitas tulisan dan gaya bahasa yang dia gunakan.. Indah, mengalir, dan bahasanya bisa membunuh ego para pembacanya (Saya biasa menyebutnya, tulisan berkekuatan "magis").. Tentu bukan hanya itu alasannya. Tapi, juga karena saya kenal dengan penulisnya, sehingga tentu saja menambah kekuatan "magis" tulisan yang saya baca.. (Ok.. ini tentu subjektif, tapi bagaimana kalau ada 2 sahabat saya yang berpendapat sama??)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baiklah temanku, itu sementara yang bisa kupelajari darimu.. Setidaknya "rumah"ku ini akhirnya bisa terisi lagi oleh tulisanku setelah sekian lama tak kurawat.. Mimpiku harus terwujud.. Aku harus mampu menuliskan mimpi-mimpiku seperti atau lebih baik darimu menuliskannya...&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5715123733357252427-8684949536124019855?l=robitfirdaus.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://robitfirdaus.blogspot.com/feeds/8684949536124019855/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://robitfirdaus.blogspot.com/2009/03/bermimpi-menulis-mimpi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5715123733357252427/posts/default/8684949536124019855'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5715123733357252427/posts/default/8684949536124019855'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://robitfirdaus.blogspot.com/2009/03/bermimpi-menulis-mimpi.html' title='Bermimpi Menulis Mimpi'/><author><name>Robitul Firdaus</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15873571037972114090</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_dAbyJD8_VgQ/SJFTl1jwoNI/AAAAAAAAADU/KelUHDoWq8c/S220/Aku.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5715123733357252427.post-354018115073786630</id><published>2008-10-16T09:43:00.000+07:00</published><updated>2008-10-16T09:55:14.047+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tafakkur'/><title type='text'>MAAF OH.. MAAF</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Semua orang mafhum bahwa meminta maaf jauh lebih mudah daripada memaafkan. Mungkin karena itu juga, banyak orang yang dengan mudah meminta maaf setelah ia melakukan kesalahan. Permintaan maaf seolah menjadi penawar atas semua racun kesalahan yang telah ditebarkan. Anehnya permintaan maaf acap kali diidentikkan banyak orang dengan sekedar mengucapkan beberapa kata saja. Akibatnya jelas permintaan maaf tidak lagi menjadi perbuatan sakral yang harus dilakukan dengan sepenuh hati dan dengan niat sungguh-sungguh. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Cukup berkata, "Aku Minta Maaf" maka semua persoalan seolah selesai. Yang terlambat jadi ditoleransi, Bahkan yang selingkuh bisa langsung saat itu juga dimaafkan. Tidak perduli ia sudah seringkali terlambat atau ia sudah lebih dari sekali selingkuh. Sangat beralasan memang kalau tiga kata di atas disebut "kata yang berbau magis" oleh seorang sahabatku. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;[Maaf menyela perhatian pembaca sebentar: Sebenarnya fenomena ini saya rasa banyak terjadi pada sebagian besar kaum perempuan -maaf kalau saya bahkan menyebut semua perempuan- Saya heran kenapa wanita begitu mudah memberikan maaf? Mengapa wanita begitu sulit mengucapkan kata cinta namun begitu mudah memberikan rasa maaf? Kata seorang sahabatku, tidak ada kesalahan pria yang tidak bisa dimaafkan oleh wanita. Pria yang pernah melakukan kesalahan besar pada kekasihnya cukup mengucapkan, "Maafkan aku, Aku memang bersalah", maka penerimaan maaf pun pasti langsung meluncur dari mulut sang wanita dan hilanglah kesalahan pria. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Entah sudah berapa banyak pria yang menggunakan kata-kata ampuh tersebut untuk kembali dan kembali melukai wanita. Bagi wanita, asal mengaku bersalah dan berjanji tidak mengulangi kembali, semua permalahan akan selesai. Padahal bagi pria, untuk sekedar mengaku bersalah bukanlah persoalan yang terlalu hebat dan besar untuk dilakukan. Apalagi kalau si pria memang benar-benar bersalah. Jadi yang terpenting sekarang adalah bagaimana para wanita bisa dengan teliti bisa membedakan permohonan maaf yang tulus dan permohonan maaf yang hanya sekedar di mulut saja]. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Baiklah kita kembali ke issue semula. Kelihatannya memang persoalan maaf ini sepele, namun tidak demikian sebenarnya bila ini dibawa ke ranah hubungan kita dengan kekasih kita yang sebenarnya, Allah SWT. Apa jadinya bila semua orang dengan sangat mudah membaca istighfar atas kesalahan yang telah ia perbuat. Sementara ia kembali dan kembali mengulangi kesalahan yang sama. Sebuah iklan TV menyindir kebiasaan ini dengan pernyataan, "karena maaf jadi gampang, jadi gampang bikin salah". &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Tuhan memang Maha Pemaaf. Namun tidakkah sebagai kekasih, Tuhan akan lebih suka kalau kita setia kepada-Nya. "Janganlah kita menjadi playboy di hadapan Tuhan". Kata sahabat saya. Bisanya hanya terus-terusan meminta maaf, tapi tidak pernah belajar untuk setia. Ingatlah sahabatku, "Permintaan maaf hanya akan menjadi berarti kalau diiringi dengan komitmen kesetiaan", dan "Istighfar akan lebih bermakna di hadapan-Nya bila ada keimanan dan penyesalan yang mendalam menyertainya". Mudah-mudahan di hari yang fitri ini tidak banyak orang yang hanya membunyikan kalimat maaf, tanpa ungkapan tulus dari dalam hati, baik kepada sesamanya, maupun kepada Penciptanya. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;My House, 1 Syawal 1429 H.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5715123733357252427-354018115073786630?l=robitfirdaus.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://robitfirdaus.blogspot.com/feeds/354018115073786630/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://robitfirdaus.blogspot.com/2008/10/maaf-oh-maaf.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5715123733357252427/posts/default/354018115073786630'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5715123733357252427/posts/default/354018115073786630'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://robitfirdaus.blogspot.com/2008/10/maaf-oh-maaf.html' title='MAAF OH.. MAAF'/><author><name>Robitul Firdaus</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15873571037972114090</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_dAbyJD8_VgQ/SJFTl1jwoNI/AAAAAAAAADU/KelUHDoWq8c/S220/Aku.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5715123733357252427.post-3398041212539510766</id><published>2008-08-21T08:57:00.000+07:00</published><updated>2008-08-22T15:16:16.437+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tafakkur'/><title type='text'>SENGSARA MEMBAWA NIKMAT (Catatan di Suatu Pagi)</title><content type='html'>Hari ini Allah kembali mengingatkanku bahwa semua orang sebenarnya memiliki jatah waktu yang sama dalam hidupnya. Allah tidak pernah melebihkan satu detikpun antara umat yang satu dengan umat yang lain. Sehari semalam tetaplah 24 jam. Satu jam tidak pernah lebih dari 60 menit, dan satu menit tidak pernah kurang dari 60 detik. Lalu mengapa tidak semua orang bisa sukses dalam hidupnya? Toh mereka memiliki kesempatan waktu yang sama? Ternyata benar, jawabannya adalah karena kesalahan dalam memanfaatkan waktu. Tentu saja waktu bukanlah faktor utama, tapi tetaplah menjadi aktor terpenting yang menentukan baik buruknya masa depan seseorang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ceritanya begini, hari ini aku bisa masuk kantor, tempat aku mengabdi, tepat pukul 08.20. Biasanya sich aku baru menginjakkan kakiku di ruangan ini sekitar pukul 10-an. Mungkin tiba di kantor jam 8-an bukanlah sesuatu yang hebat dan patut dibesar-besarkan, tapi yang membuat ini semua berbeda adalah karena aku baru terbangun dari tidurku pada pukul 8 kurang 10 menit (tidurnya habis sholat subuh pastinya). Padahal waktu tempuh dari tempatku tinggal ke kantor paling cepat sekitar 25 menit. Bisa para sahabat hitung berapa lama waktu yang kubutuhin untuk mandi, ganti baju, merapikan diri, dan menyiapkan peralatan, termasuk motor. Cuman sekitar 10 - 15 menit. Hebat bukan? padahal dalam keadaan normal, semua itu baru bisa terselesaikan dalam jangka waktu 45 menit. Lebih efektif 30 menit toh?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang kemudian jadi pertanyaanku adalah, kenapa aku bisa sedemikian ikhlas lari tunggang langgang dan aku membuat waktu seefektif mungkin untukku? Baru aku menemukan jawabannya, ternyata faktor motivasi dan tujuan menjadi kunci aku bisa hidup lebih efektif dan lebih menghargai waktu hari ini. Tidak perlu kujelasin lebih detail apa motivasi dan tujuanku hari ini. Yang terpenting, sahabat sekalian harus memiliki motivasi dan tujuan yang kuat serta jelas ketika akan melakukan sesuatu. Memiliki komitmen untuk datang &lt;em&gt;on time&lt;/em&gt; pada setiap jadwal kegiatan atau janji yang telah kita buat adalah contoh dari motivasi yang seharusnya dimiliki oleh setiap orang, namun ternyata banyak dilupakan oleh bangsa kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akibatnya jelas, katanya kalau &lt;em&gt;ga' &lt;/em&gt;jam karet malah bukan Indonesia banget. Satu lelucon yang harusnya tidak hanya mampu menyindir, namun juga menyadarkan dan membangunkan bangsa ini dari kebiasaan buruknya. Bagaimanapun juga, meski pagi ini terpendam rasa kecewa di hatiku, tapi aku bahagia karena pagi yang satu ini memberikan banyak pelajaran untukku. Matur nuwun Gusti...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5715123733357252427-3398041212539510766?l=robitfirdaus.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://robitfirdaus.blogspot.com/feeds/3398041212539510766/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://robitfirdaus.blogspot.com/2008/08/sengsara-membawa-nikmat.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5715123733357252427/posts/default/3398041212539510766'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5715123733357252427/posts/default/3398041212539510766'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://robitfirdaus.blogspot.com/2008/08/sengsara-membawa-nikmat.html' title='SENGSARA MEMBAWA NIKMAT (Catatan di Suatu Pagi)'/><author><name>Robitul Firdaus</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15873571037972114090</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_dAbyJD8_VgQ/SJFTl1jwoNI/AAAAAAAAADU/KelUHDoWq8c/S220/Aku.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5715123733357252427.post-5841977744162652653</id><published>2008-08-20T16:14:00.000+07:00</published><updated>2008-08-20T16:15:46.489+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Curhat'/><title type='text'>UNTUKMU PEREMPUANKU</title><content type='html'>Perempuanku...&lt;br /&gt;Aku tahu betapa dirimu menyayangiku melebihi semua yang kaumiliki&lt;br /&gt;Kau mencurahkan seluruh perhatianmu padaku&lt;br /&gt;Kau begitu setia menemani kesepian dan keluh kesahku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perempuanku...&lt;br /&gt;Aku berjanji kan selalu membuatmu tersenyum seumur hidupmu&lt;br /&gt;Aku tak akan pernah sedikitpun membuatmu merasa tersakiti&lt;br /&gt;Pundakku kan selalu anda untuk tempatmu bersandar, tempatmu menumpahkan segala kegundahan hatimu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perempuanku...&lt;br /&gt;Aku tahu sucinya cinta yang kau suguhkan padaku&lt;br /&gt;Betapa tulusnya tanganmu membelai rambut dan dadaku&lt;br /&gt;Betapa putihnya senyuman yang kau lempar padaku dibalik wajah lelahmu mengurus anak-anakku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perempuanku...&lt;br /&gt;Umurku kan ada hanya untuk membahagiakanmu&lt;br /&gt;Waktuku hanya akan ada sebagai pengindah bagi waktumu&lt;br /&gt;Dan kebahagianku hanya untuk merayakan kemenanganmu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perempuanku...&lt;br /&gt;Aku hanya butuh kata sayang yang tulus kau bisikkan di telingaku&lt;br /&gt;Air matamu adalah kebahagianku&lt;br /&gt;Tak kan kubiarkan ia mengalir dari kedua mata indahmu&lt;br /&gt;Tak kan pernah ada kata menyesal keluar dari mulutmu karena telah mengenalku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perempuanku...&lt;br /&gt;Kapan aku bisa menemukan dan tahu siapa dirimu&lt;br /&gt;Biar bisa kusaksikan keagungan-Nya lewat ranum wajah dan senyum manismu&lt;br /&gt;Aku tidak akan berusaha mencarimu&lt;br /&gt;Biar Dia yang mengetuk hati dan mengirimmu padaku&lt;br /&gt;Saat itu tiba kan kubuktikan semua janjiku padamu&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5715123733357252427-5841977744162652653?l=robitfirdaus.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://robitfirdaus.blogspot.com/feeds/5841977744162652653/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://robitfirdaus.blogspot.com/2008/08/untukmu-perempuanku.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5715123733357252427/posts/default/5841977744162652653'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5715123733357252427/posts/default/5841977744162652653'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://robitfirdaus.blogspot.com/2008/08/untukmu-perempuanku.html' title='UNTUKMU PEREMPUANKU'/><author><name>Robitul Firdaus</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15873571037972114090</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_dAbyJD8_VgQ/SJFTl1jwoNI/AAAAAAAAADU/KelUHDoWq8c/S220/Aku.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5715123733357252427.post-8351875509665680486</id><published>2008-08-20T15:05:00.000+07:00</published><updated>2008-08-20T16:16:41.889+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tafakkur'/><title type='text'>PEREMPUAN DAN CINTA</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:180%;"&gt;A&lt;/span&gt;da seseorang yang berkata, ”Hanya satu seni yang dikuasai perempuan, yaitu mencintai dan dicintai”. Itulah agaknya yang menjadi sebab sehingga Allah menganugerahi perempuan kemampuan menangis, cemburu, dan berduka, serta kesediaan berkorban untuk kekasih –menganugerahi mereka hal-hal tersebut- melebihi anugerah-Nya kepada lelaki karena air mata mengundang kasih dan cinta, pengorbanan menyuburkannya, cemburu menghangatkannya, sedangkan duka cinta tidak terobati kecuali dengan cinta pula. Cinta kepada lawan jenis bagi perempuan adalah kisah romantis yang pelakon utamanya adalah perempuan, walau sutradaranya adalah lelaki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi perempuan, cinta adalah harapan, bahkan hidup adalah cinta, sehingga perempuan bersedia berkorban demi cintanya. Dia bersedia meninggalkan ayah dan ibu serta saudara-saudaranya demi mengikuti suami atau kekasih yang dicintainya. Bagi perempuan, pengorbanan demi cinta bukanlah kematian, tetapi kehidupan, karena tanpa cinta perempuan tak dapat hidup. Kematian bagi mereka adalah hidup tanpa cinta. Lelaki yang mencintai biasanya menuntut yang banyak atau memberi dengan perhitungan, tetapi perempuan yang bercinta mempersembahkan tanpa batas dan, karena mereka tidak mengenal batas dalam pemberian, mereka mneyerahkan diri mereka kepada siapa yang mereka cintai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh saat ironis bila saat ini justru banyak perempuan yang tersakiti karena cinta. Padahal merekalah makhluk yang paling berhak atas cinta. Kalau mau belajar cinta, belajarlah dari perempuan. Merekalah yang paling mengerti bagaimana caranya mencinta dan dicinta. Sekali ada wanita tersakiti, maka sebenarnya cintalah yang akan marah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cinta ibarat pohon yang tumbuh subur di dalam hati. Akarnya adalah kerendahan hati kepada kekasih, batangnya adalah pengenalan kepadanya, dahannya adalah rasa takut kepada Tuhan dan kepada makhluk –jangan sampai ada yang menodainya -dedaunannya adalah rasa malu –malu mempermalukan dan dipermalukan- buahnya adalah kesatuan hati yang melahirkan kerja sama, sedangkan air yang menyiraminya adalah mengingat dan menyebut-nyebut namanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cinta bukanlah permintaan untuk memenuhi keinginan sesaat, tetapi ia adalah pemberian, kedermawanan, dan pengorbanan tanpa pamrih. Hal-hal mana sudah sangat langka pada masa ini. Korban yang paling banyak di sini adalah perempuan, makhluk yang mestinya paling tinggi dan dalam rasa cintanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terima kasih buat semua orang yang mengajariku banyak tentang cinta dan kehormatan perempuan. Semua guru mayaku, semua kekasih imajinerku, dan seorang sahabat yang akhir-akhir ini telah menyadarkanku. Kepada kalian kupersembahkan rasa kagum dan cintaku.....&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5715123733357252427-8351875509665680486?l=robitfirdaus.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://robitfirdaus.blogspot.com/feeds/8351875509665680486/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://robitfirdaus.blogspot.com/2008/08/perempuan-dan-cinta.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5715123733357252427/posts/default/8351875509665680486'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5715123733357252427/posts/default/8351875509665680486'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://robitfirdaus.blogspot.com/2008/08/perempuan-dan-cinta.html' title='PEREMPUAN DAN CINTA'/><author><name>Robitul Firdaus</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15873571037972114090</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_dAbyJD8_VgQ/SJFTl1jwoNI/AAAAAAAAADU/KelUHDoWq8c/S220/Aku.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5715123733357252427.post-302367461770417811</id><published>2008-08-11T15:48:00.000+07:00</published><updated>2008-08-11T16:27:19.118+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tafakkur'/><title type='text'>Dream Is Mirror</title><content type='html'>Begitu banyak orang menyepelekan mimpi. Bagi mereka mimpi hanya dianggap bunga tidur. Padahal bagiku mimpi adalah tempat dimana kita bebas berekspresi, tempat dimana tidak seorang pun dapat menutupi kotornya jiwa atau putihnya hati yang kita miliki. Lihat saja berapa kali nabi mendapat wahyu melalui mimpi, berapa kali para ulama mendapat ilham saat mereka tertidur. Ini adalah bukti bahwa mimpi pada dasarnya adalah cerminan diri kita seutuhnya dan sebenar-benarnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para penakut mungkin bisa jadi lebih sering memimpikan hantu atau apapun yang semisal. Anak-anak kecil sering bermimpi bisa terbang jadi superman. Itu sejatinya dikarenakan sekali lagi mimpi adalah cerminan masing-masing pribadi. Jadi kalau anda masih suka bermimpi yang aneh-aneh, itu artinya ada yang masih "aneh" dalam diri anda. Bukankah fitrah manusia lahir dalam keadaan suci? maka bila kesucian itu telah anda kotori dengan ke"aneh"an "aneh"an tersebut, Jangan marah bila mimpi anda seringkali aneh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi orang yang sedang jatuh cinta, mungkin ia akan sering terganggu dengan kehadiran pujaan hatinya. Begitulah yang selama ini terjadi pada orang-orang yang kasmaran. Kalau kekasih anda tidak pernah memimpikan anda, mungkin perlu dipertanyakan besarnya cintanya pada anda?&lt;br /&gt;Begitu pula sebaliknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin anda selama ini bertanya-tanya, bagaimana sich orang-orang yang 'alim itu menyalurkan hasrat seksualnya saat belum menikah (maaf ini ilmiah.. jangan diinterpretasikan berlebihan)? Ada seorang teman penulis yang berawal dari pertanyaan ini kemudian berani membuat kesimpulan bahwa sealim apapun orang tersebut berperangai pasti ia pernah melakukan "dosa seksual" dalam hidupnya. Hanya mungkin porsi dan kualitasnya saja yang membedakannya dengan orang yang bejat. Kesimpulan ini ia ambil berdasar pada asumsi bahwa hasrat seksual adalah hasrat mendasar yang juga menempati posisi teratas untuk dipenuhi kebutuhannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tidak dalam posisi menyalahkan atau membenarkan argumentasi teman saya tersebut. Namun yang pasti alam mimpi juga menyediakan fasilitas bagi semua manusia untuk menyalurkan hasrat seksualnya. Apa yang haram dilakukan di dunia nyata (berciuman, berpelukan, atau mungkin melakukan hubungan intim dengan lain jenis yang tidak terikat pernikahan) hukumnya &lt;em&gt;halalan thoyyiban&lt;/em&gt; (boleh-boleh saja) dilakukan dalam dunia mimpi. Oleh karenanya, kesimpulan teman saya di atas bisa jadi cukup lemah dengan fakta ini. Orang-orang 'alim sangat mungkin mempercayakan pada dunia mimpi untuk mengatur pemenuhan kebutuhan hasrat seksual mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, bukan berarti yang mimpi basah hanya orang-orang 'alim saja. Logikanya tidak bisa dibalik seperti itu. Kealiman tentu saja sama sekali tidak memiliki korelasi dengan sering tidaknya seseorang tersebut mimpi basah. &lt;em&gt;wallahu a'lam.&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5715123733357252427-302367461770417811?l=robitfirdaus.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://robitfirdaus.blogspot.com/feeds/302367461770417811/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://robitfirdaus.blogspot.com/2008/08/dream-is-mirror.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5715123733357252427/posts/default/302367461770417811'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5715123733357252427/posts/default/302367461770417811'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://robitfirdaus.blogspot.com/2008/08/dream-is-mirror.html' title='Dream Is Mirror'/><author><name>Robitul Firdaus</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15873571037972114090</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_dAbyJD8_VgQ/SJFTl1jwoNI/AAAAAAAAADU/KelUHDoWq8c/S220/Aku.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5715123733357252427.post-7434576608973905919</id><published>2008-08-05T16:11:00.000+07:00</published><updated>2008-08-05T16:31:44.809+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tasawwuf'/><title type='text'>Amanah Hidup</title><content type='html'>Hari ini saya membaca satu pesan menarik dalam kitab "Syarhul Hikam" yang ingin saya bagi kepada sahabat semua. Entah di halaman berapa saya membacanya, saya hanya menemukannya tanpa disengaja saat membolak-balik lembar demi lembar kitab tersebut. Pesannya begini, "Sedikitlah berbahagia saat menerima sesuatu yang menyenangkan, niscaya kau akan merasakan sedikit kesedihan saat kehilangannya"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pesan yang tidak terlalu panjang, tapi cukup membuat saya bergetar membacanya. Saya bisa membaca realitas masyarakat yang seringkali rela mati karena kehilangan benda yang dicintainya. Bahkan ada yang dengan tega melakukan pembunuhan karena kahawatir kehilangan sesuatu yang dianggapnya berharga. padahal kesedihan, rasa tidak rela yang berlebihan itu hanya akan timbul bila kita memiliki benda tersebut dengan berlebihan. Dalam bahasa nabi, mungkin seringkali kita dengar kata bijak, "Cintailah seseorang sekedarnya saja dan bencilah seseorang sekedarnya pula".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, bila kita diberi nikmat oleh Allah, jangan terlalu bahagia atau berlebihan memiliki nikmat tersebut, sehingga enggan berbagi dengan orang lain. Bukti bahwa kita tidak berlebihan dalam memilikinya adalah dengan berbagi terhadap sesama. Sedikit remeh memang, tapi ini sangat penting untuk kita lakukan mengingat kita tidak tahu kapan sesuatu berharga yang menjadi milik kita akan meninggalkan kita. Semua yang kita cintai pasti akan pergi, baik karena mereka pergi dari kita atau kita yang lebih dulu meninggalkan mereka. Semua hanyalah persoalan proses dan cara saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi para sahabat semua, ingatlah bahwa apa yang ada dan akan ada dalam kehidupanmu adalah amanah. Jagalah amanah itu sebaik mungkin. Maka kebahagiaan dan cinta kan selalu menyertaimu dimana, kapan dan bersama siapapun kau berada.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5715123733357252427-7434576608973905919?l=robitfirdaus.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://robitfirdaus.blogspot.com/feeds/7434576608973905919/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://robitfirdaus.blogspot.com/2008/08/amanah-hidup.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5715123733357252427/posts/default/7434576608973905919'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5715123733357252427/posts/default/7434576608973905919'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://robitfirdaus.blogspot.com/2008/08/amanah-hidup.html' title='Amanah Hidup'/><author><name>Robitul Firdaus</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15873571037972114090</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_dAbyJD8_VgQ/SJFTl1jwoNI/AAAAAAAAADU/KelUHDoWq8c/S220/Aku.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5715123733357252427.post-3243266721655703876</id><published>2008-07-03T12:45:00.000+07:00</published><updated>2008-07-03T13:10:46.511+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Curhat'/><title type='text'>Buah Tangan Munaqasah</title><content type='html'>Akhirnya hari ini tiba juga, hari saat aku harus mempertahankan skripsiku di depan majelis penguji. Satu jam lebih aku berdialog bersama 3 penguji di depanku.. Tapi bukan itu yang ingin kuceritakan.. Aku memang lulus dengan prediakat sangat memuaskan. Namun ada hal lain yang menurutku jauh lebih berarti buatku..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku sama sekali tidak &lt;em&gt;nervous &lt;/em&gt;menghadapi ujian ini, karena aku memang udah terbiasa presentasi dan berdialog dengan tim penguji. Hanya saja hari ini ada yang terasa berbeda bagiku. Itu terjadi sesaat setelah aku dinyatakan lulus dengan nilai A. Seorang penguji, salah satu dosenku, memberikan wejangan yang nyentuh dan ngena banget...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ingat untuk memperjuangkan Islam, Peganglah Al-Quran dan Sunnah sebagai pedomanmu. Jangan terlalu mengikuti jiwa mudamu, Aku bangga punya 'anak' sepertimu. Kalau aku baru bisa doktor di umur 50 tahun, kamu sudah harus bisa meraihnya di umur 30 tahun". Dengan mata yang berbinar dan intonasi seraya memanjaatkan doa, Aku tanpa henti terus mengamini keinginan dan harapa darinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya Allah berikan aku kekuatan untuk membuat orang tua yang mengajariku dan para guru yang mendidikku serta semua orang di sekitarku bangga dan tersenyum melihatku. Aku ingin melihat senyum di bibir mereka semua. Aku ingin mereka tahu bahwa dukungan mereka sangat berarti buatku. &lt;em&gt;Allahumma ij'al lii mahbuban fi qulubil muslimin wal muslimat...&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5715123733357252427-3243266721655703876?l=robitfirdaus.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://robitfirdaus.blogspot.com/feeds/3243266721655703876/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://robitfirdaus.blogspot.com/2008/07/buah-tangan-munaqasah.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5715123733357252427/posts/default/3243266721655703876'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5715123733357252427/posts/default/3243266721655703876'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://robitfirdaus.blogspot.com/2008/07/buah-tangan-munaqasah.html' title='Buah Tangan Munaqasah'/><author><name>Robitul Firdaus</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15873571037972114090</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_dAbyJD8_VgQ/SJFTl1jwoNI/AAAAAAAAADU/KelUHDoWq8c/S220/Aku.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5715123733357252427.post-2880583547563847289</id><published>2008-06-24T13:52:00.001+07:00</published><updated>2008-06-25T15:35:47.761+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Curhat'/><title type='text'>My Angel</title><content type='html'>&lt;div align="center"&gt;Duh Gusti Aku merindukan senyumannya&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;Aku merindukan gaya tertawanya&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;Aku merindukan perhatiannya&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;Apalagi kemanjaannya&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;Kuingin dia menjadi wasilah menggapai cinta-Mu&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;Kuingin dia yang menemani kesepianku&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;Kuingin dia ada dan nyata&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;di hadapanku&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;Meski itu keinginanku&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;Selebihnya aku bertawakkal pada takdir-Mu&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5715123733357252427-2880583547563847289?l=robitfirdaus.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://robitfirdaus.blogspot.com/feeds/2880583547563847289/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://robitfirdaus.blogspot.com/2008/06/my-angel.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5715123733357252427/posts/default/2880583547563847289'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5715123733357252427/posts/default/2880583547563847289'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://robitfirdaus.blogspot.com/2008/06/my-angel.html' title='My Angel'/><author><name>Robitul Firdaus</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15873571037972114090</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_dAbyJD8_VgQ/SJFTl1jwoNI/AAAAAAAAADU/KelUHDoWq8c/S220/Aku.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5715123733357252427.post-2924352167627709100</id><published>2008-06-11T11:39:00.000+07:00</published><updated>2008-06-11T11:40:33.845+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Robit Menjawab'/><title type='text'>Syarat Kufu' dalam Pernikahan</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Beberapa hari yang lalu ada seorang pria yang bertanya tentang maksud dan arti kufu’ pada saya. ceritanya dia ini seorang yang katanya telah memiliki pekerjaan mapan. Suatu saat dia berencana mengajak perempuan yang dicintainya untuk menikah. Namun sayangnya, perempuan itu menyatakan diri belum siap dan menggunakan dasar kufu’ sebagai alasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Problem semacam ini mungkin memang sering terjadi, bahkan tidak menutup kemungkinan itu bisa terjadi pada anda. ok, so here it is the explanation.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kufu’ secara bahasa berarti sepadan atau kesepadanan. Dalam konteks nikah, tentu yang dimaksud adalah kesepadanan antara calon mempelai pria dan wanita.  Islam memang tidak memberikan penjelasan mendetail mengenai hal ini. Oleh karenanya, dalam pandangan saya, penentuannya memang akan sangat bergantung dari kondisi sosiologis yang ada. Indonesia sendiri memiliki beragam corak budaya yang berbeda satu daerah dengan daerah yang lain. Itu artinya tidak bisa ada standar tunggal untuk menilai atau memberikan standar kufu’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penentuannya akan sangat ditentukan budaya yang berjalan di suatu daerah, sejauh budaya tersebut tidak bertentangan dengan syara’. Dalam Islam ketentuan ini dikenal melalui kaidah al-adah muhakkamah (kebiasaan atau budaya itu merupakan hukum). Hanya saja, menikah dan memilih pasangan adalah wilayah private (pribadi) masing-masing personal. Itu artinya tidak boleh ada sektor publik yang memberikan tekakan dalam wilayah ini. Sehingga standar kufu’ dari suatu daerah tertentu hanya bisa dijadikan bahan pertimbangan saja. Sifatnya tidaklah imperatif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misalnya, seorang perempuan diperbolehkan menolak khitbah seorang pria dengan alasan pelamar tidak memenuhi kualifikasi atau syarat kufu’ sebagaimana dalam budaya perempuan tersebut. Namun demikian, pihak perempuan juga diperbolehkan untuk tidak mengindahkan ”peraturan budaya” tersebut. Ia bisa saja menerima pelamar dengan kualifikasi di  bawah standar yang ditetapkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nabi pernah memberikan pernyataan membolehkan umatnya untuk memilih pasangan hidup dengan empat kriteria: harta kekayaan, fisik, nasab, dan agamanya. Akan tetapi syarat kufu’ dengan berpegang pada empat kriteria ini menurut saya masih perlu didiskusikan ulang. Tiga kriteria pertama terlalu riskan untuk masih dipertahankan. Disamping tampak diskriminatif, juga sama sekali tidak mencerminkan ajaran Islam yang egaliter. Kalaupun toh masih akan dipakai, maka sifatnya tidak mengikat. Ia kembali pada selera masing-masing personal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atas dasar itu, syarat kufu’ yang dimaksud dalam Islam dan hukumnya imperatif menurut saya hanya satu, yaitu kesepadanan dalam hal agama, sebagaimana penekanan yang diberikan nabi pada kelanjutan hadis di atas. Syarat kesesuaian agama kedua mempelai juga menjadi ijma´(kesepakatan) para imam madzhab. Di luar itu, tidak ada syarat kufu’ yang bisa bersifat imperatif.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5715123733357252427-2924352167627709100?l=robitfirdaus.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://robitfirdaus.blogspot.com/feeds/2924352167627709100/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://robitfirdaus.blogspot.com/2008/06/syarat-kufu-dalam-pernikahan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5715123733357252427/posts/default/2924352167627709100'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5715123733357252427/posts/default/2924352167627709100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://robitfirdaus.blogspot.com/2008/06/syarat-kufu-dalam-pernikahan.html' title='Syarat Kufu&apos; dalam Pernikahan'/><author><name>Robitul Firdaus</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15873571037972114090</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_dAbyJD8_VgQ/SJFTl1jwoNI/AAAAAAAAADU/KelUHDoWq8c/S220/Aku.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5715123733357252427.post-159028207038770795</id><published>2008-06-11T11:00:00.000+07:00</published><updated>2008-06-11T11:03:06.056+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Buletin'/><title type='text'>BERSATU DAN BERSAUDARA</title><content type='html'>&lt;div align="center"&gt;&lt;em&gt;“Berpeganglah kamu semua pada tali (agama) Allah dan janganlah bercerai berai, ingatlah kenikmatan Allah yang melimpah kepadamu ketika kamu semuanya bermusuh-musuhan, kemudian Allah melembutkan hati-hatimu sehingga dengan itu kamu menjadi bersaudara”&lt;/em&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;(QS. Al-Imron : 103)&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuhan mengajarkan dalam Al-Qur’an kepada kaum muslimin supaya mereka berpegang teguh dan berpedoman kepada agama Allah, ajaran dan petunjukNya yang telah digariskannya dalam kitab suci Al-Qur’an. Diperintahkannya supaya bersatu, bersaudara, jangan berpecah belah dan bermusuh-musuhan antara satu sama lain. Boleh berbeda pendapat dalam hal-hal yang kecil dan ranting syari’at, bukan dalam pokok-pokok keagamaan, tetapi perbedaan itu tidak boleh memecah persaudaraan dan tidak menyebabkan putusnya persaudaraan antara umat seagama.&lt;br /&gt;Perbedaan itu hendaklah dipandang sebagai hasil kemerdekaan berpikir dan melahirkan pikiran. Masing-masing dapat menguji alasan dan kebenaran pendapatnya, dibanding dengan pendapat orang lain. Sehingga kalau ada yang lupa, ingatkan dia, atau ada yang tergelincir, Bantu ia bangkit agar semua dapat bergantung kepada tali (agama) Allah. Ingatlah karunia tuhan yang telah menyatukan hati umat Islam. Dengan mengenangkan nikmat tuhan, timbullah perasaan syukur, menghargai dan memelihara nikmat itu, langsung menghargai tuhan yang telah memberikan nikmat. Nikmat yang paling besar ialah menghilangkan permusuhan dan melenyapkan persengkataan, sehingga tumbuh rasa persatuan dan persaudaraan yang teguh dan kuat.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Persatuan dan persaudaraan adalah dua modal dasar yang tidak boleh tidak harus dimiliki oleh masyarakat yang mendambakan terciptanya masyarakat madani (civil society) dalam kehidupannya. Dengan bermodal dua hal tersebut, diharapkan tujuan akhir kita umat Islam yakni kebahagiaan di dunia dan akhirat akan dapat terealisasi dan tidak hanya menjadi slogan yang dimuseumkan dalam angan-angan semata, mengingat apa yang ada saat sekarang ini di kalangan kaum muslimin menunjukan gejala seperti itu. Mereka tahu akan arti penting sebuah persatuan dan persaudaraan, tetapi mereka masih saja mengikuti hawa nafsu mereka masing-masing.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Fenomena perpecahan di kalangan kaum muslimin sendiri sering kali menjadi headline media massa pada beberapa tahun terakhir, seiring dengan rentangnya konflik yang timbul akibat perbedaan partai politik di antara mereka. Jelas kasus ini bukan hal yang biasa-biasa saja, oleh karena kredibilitas agama yang mereka anut akan sangat mempengaruhi persepsi orang dalam menilai suatu ajaran. Jangan sampai orang di luar Islam memiliki asumsi bahwa agama Islam adalah agama yang melegitimasi perpecahan serta mengesahkan umatnya untuk berjalan sendiri-sendiri tanpa ada ikatan ukhwah sedikitpun.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Umar RA. Menceritakan sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Bukhori Muslim, bahwasannya Rasulullah SAW bersabda: “Muslim satu adalah saudara bagi muslim lain yang tidak boleh saling menganiaya. Barang siapa yang membantu kebutuhan saudaranya, maka allah akan juga membantu kebutuhannya. Sedang orang yang melonggarkan kesulitan saudaranya, maka Allah akan berbuat hal serupa di hari pembalasan nanti. Begitu juga bagi orang yang tidak membuka aib saudaranya, Allah pun akan menutupi aibnya nanti di hari kiamat.   &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;          &lt;br /&gt;Di zaman nabi di Madinah, ada dua suku penduduk madinah, yaitu “Auz” dan “Khazraj” yang telah bermusuhan dan berbunuh-bunuhan. Setelah nabi Muhammad SAW hijrah ke Madinah dan berkembangnya agama Islam pada penduduk Madinah, mereka menjadi bersatu dan bersaudara. Dengan persatuan dan kerjasama antara kedua  suku Auz dan Khazraj itu, bukan saja mendatangkan keselamatan dan perdamaian bagi kedua suku itu, melainkan berjasa bagi perkembangan agama Islam dan penyusunan masyarakat Islam.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Apabila kepercayaan berlainan, pandangan hidup tidak sama, seorang yang satu hendak memaksakan kepercayaan dan cara hidupnya kepada yang lain dan satu golongan merasa lebih tinggi dari golongan yang lain, sudah tentu pertentangan tidak dapat dihindarkan. Jalan satu-satunya untuk mencapai persatuan yang teguh kuat ialah berpegang pada ajaran Allah dan menumbuhkan persaudaraan, menghindarkan diri dari permusuhan dan dendam antara yang satu dengan yang lain.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Dalam mengatasi perseteruan di kalangan ummatnya, Islam memiliki konsep Islah sebagai salah satu media penyelesaian friksi, terutama dalam lingkup intern keagamaan. Konsep ini dalam pengejawantahannya selalu mengedepankan prinsip musyawarah dan meletakkan ajaran Al-Qura’an dan hadits sebagai acuan dalam mengambil satu keputusan. Islam adalah agama humanis yang sangat mengecam lahirnya permusuhan dalam kehidupan umat manusia. Bahkan untuk mewujudkan hal tersebut, Islam mengikat seluruh pengikutnya dengan suatu jalinan persaudaraan. Allah berfirman: “Sesungguhnya orang-orang mukmin itu adalah bersaudara, maka berdamailah antar sesama  saudara”.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Tidak aneh kalau Islam memberikan penekanan yang sedemikian besar terhadap persatuan dan persaudaraan, karena sifat alamiah manusia yang dipenuhi keburukan dan perilaku kerimbaan dapat muncul sewaktu-waktu tanpa dapat dikendalikan. Oleh sebab itu kontrol sosial dari sesama saudara seiman akan sangat berpengaruh dan memberikan kontribusi besar dalam usaha menstabilkan kondisi kehidupan yang berjalan. Semua itu akan sangat sulit terwujud bila umat Islam masih belum mampu menyeragamkan persepsinya mengenai arti penting persatuan dan persaudaraan itu sendiri. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Hanya seorang saudara yang sangat paham pada penderitaan dan keinginan saudaranya yang lain. Perbedaan ideologi dan kultur tidak menyebabkan lalu sekelompok umat tidak dapat dipersatukan dan diberi ikatan persaudaraan. Justru perbedaan itu harus mampu dimanage agar supaya menjadi suatu kelebihan yang akan banyak memberikan manfaat pada perjalanan umat tersebut nantinya. Sangatlah mahal arti persatuan untuk dapat dihancurkan dan dicerai beraikan hanya dengan suatu perbedaan yang lahirnya pun berawal dari nafsu manusia saja.&lt;br /&gt;Sekarang seharusnya kita bertanya pada diri kita masing-masing. Sudahkah kita melakukan suatu hal yang bermanfaat bagi saudara-saudara kita yang tersebar di seluruh pelosok negeri ini?. Bukankah budaya cuek dan tidak mau tahu  penderitaan orang lain sudah menjadi virus yang menghinggapi hampir sebagian besar umat kita?. Lalu bagaimana kita akan bisa berbuat sesuatu bagi mereka, sedangkan untuk tidak berbuat kerusakan dan kerusuhan saja kita tidak mampu. Padahal keduanya merupakan cikal bakal dari perpecahan yang seharusnya wajib kita hindari.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Menyimpang dari jalan yang benar, jalan yang telah digariskan oleh Allah dan rasulNya serta hidup dalam perpecahan, akibatnya sangat membahayakan, terutama melemahkan semangat perjuangan dan hilangnya kekuatan. Firman Allah dalam Al-Anfal ayat 46 “Taat dan patuhlah kepada Allah dan rasulNya dan janganlah saling berselisih yang menyebabkan kamu gagal dan hilang kekuatanmu serta bersabarlah. Allah sungguh berada di pihak orang yang bersabar”&lt;br /&gt;Akhirnya, kita sebagai umat Islam dituntut untuk bisa melakukan muhasabah atau introspeksi terhadap perilaku kita selama ini. Jangan lagi kita mengabaikan ukhuwah Islamiyah dan hanya mementingkan hal-hal yang bersifat pribadi dan kenikmatan sejenak saja. Agama ini akan sulit untuk mencapai kejayaan dunia apabila tidak ada lagi persatuan dan persaudaraan di kalangan umatnya. Hal itu harus mulai kita tumbuhkan dari diri kita sendiri sebagai bagian terkecil dari umat Islam. Kita juga memohon pada Allah untuk menjaga keutuhan umat ini dan menjauhkannya dari perpecahan. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Bersatu kita teguh, bercerai kita rubuh, bersatu dalam iman kepada Allah dan rasul, bersatu dalam tujuan dan pandangan hidup yang sama.  &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5715123733357252427-159028207038770795?l=robitfirdaus.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://robitfirdaus.blogspot.com/feeds/159028207038770795/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://robitfirdaus.blogspot.com/2008/06/bersatu-dan-bersaudara.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5715123733357252427/posts/default/159028207038770795'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5715123733357252427/posts/default/159028207038770795'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://robitfirdaus.blogspot.com/2008/06/bersatu-dan-bersaudara.html' title='BERSATU DAN BERSAUDARA'/><author><name>Robitul Firdaus</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15873571037972114090</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_dAbyJD8_VgQ/SJFTl1jwoNI/AAAAAAAAADU/KelUHDoWq8c/S220/Aku.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5715123733357252427.post-4830291110999378411</id><published>2008-06-09T13:53:00.001+07:00</published><updated>2008-08-05T16:09:31.782+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Curhat'/><title type='text'>Dariku untuk-Mu</title><content type='html'>Ya allah jadikanlah aku golongan dari hamba-Mu yang istiqomah&lt;br /&gt;Jangan kau biarkan aku berlumur kenistaan&lt;br /&gt;Tutupilah aibku.... Sungguh hanya Engkau Dzat yang mampu menutup aib sebanyak yang kupunya&lt;br /&gt;Izinkan aku mengambil faidah dari setiap hari yang kulalui&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya Rahman.... Belas kasih-Mu masih terus keharapkan&lt;br /&gt;Ya Ghaffar..... Ampunan dari-Mu tak kan pernah berhenti kupinta&lt;br /&gt;Ya Haadi..... Hanya petunjuk-mu yang bisa menyelematkan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku sadar belum menjadi hamba-Mu yang terbaik&lt;br /&gt;Tapi aku yakin Engkau kan selalu ada saat kubutuhkan&lt;br /&gt;Aku rindu kasih sayang-Mu&lt;br /&gt;Aku menantikan ampunan-Mu&lt;br /&gt;Kan kucari petunjuk-Mu&lt;br /&gt;Di malam, saat dunia tak lagi menggangguku, saat dunia tersenyum padaku&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5715123733357252427-4830291110999378411?l=robitfirdaus.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://robitfirdaus.blogspot.com/feeds/4830291110999378411/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://robitfirdaus.blogspot.com/2008/06/dariku-untuk-mu.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5715123733357252427/posts/default/4830291110999378411'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5715123733357252427/posts/default/4830291110999378411'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://robitfirdaus.blogspot.com/2008/06/dariku-untuk-mu.html' title='Dariku untuk-Mu'/><author><name>Robitul Firdaus</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15873571037972114090</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_dAbyJD8_VgQ/SJFTl1jwoNI/AAAAAAAAADU/KelUHDoWq8c/S220/Aku.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5715123733357252427.post-6608396756675988248</id><published>2008-06-05T12:51:00.000+07:00</published><updated>2008-06-05T15:27:03.624+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Robit Menjawab'/><title type='text'>Habib Rizieq: Siapa Sich Lhoo</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Sekali lagi kita diramaikan dengan aksi brutal Front Pembela Islam (FPI) saat menyelesaikan masalah. Aksi yang terjadi di Monas bukanlah aksi pertama yang menyita perhatian banyak kalangan. Sebelumnya, dari club malam sampai kantor majalah playboy pernah menjadi sasaran amuk massa FPI. Tampaknya budaya penegakan masalah dengan penyerangan dan pengerusakan telah menjadi modus operandi tersendiri bagi mereka. Bedanya insiden Monas di &lt;em&gt;publish &lt;/em&gt;habis-habisan oleh media karena kelompok yang mereka serang saat itu adalah kelompok yang memiliki basis massa besar. Dalam hal ini tentu saja yang saya maksud adalah Nahdlatul Ulama.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Banyak kalangan yang berpraduga bahwa insiden ini sengaja didesain sedemikian rupa agar fokus masyarakat pada kenaikan BBM menjadi beralih. Kemungkinan tersebut memang selalu terbuka untuk menjadi kenyataan. Hanya saja, kita juga jangan sampai lupa bahwa aksi kekerasan tersebut tetaplah sebuah kejahatan yang harus dipertanggung jawabkan oleh para pelakunya. Apapun alasan massa penyerang, tetaplah tindakan mereka tidak bisa dibenarkan dari sudut pandangan manapun. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Kalau Habib Rizieq mengatakan bahwa massa penyerang terprovokasi karena sebutan laskar setan dari orang-orang yang menjadi korban penyerangan. Kemudian menghalalkan mereka untuk melakukan penyerangan. Maka apakah Habib Rizieq juga layak dipukuli massa pendukung gusdur, karena menyebut gusdur buta mati&lt;em&gt; &lt;/em&gt;dan buta hati, bahkan dituduh antek yahudi (wawancara TVone)? tentu bukan itu solusinya. Padahal, Kecuali buta mata, tuduhan Habib Rizieq yang lain pada gusdur pasti akan masih perlu diperdebatkan kebenarannya. Makanya banyak warga NU di bawah yang bereaksi pada insiden tersebut.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Susahnya memang, ketika mereka membawa-bawa nama jihad dalam setiap aksi penyerangan yang mereka lakukan. Jadi, mereka dibunuh sekalipun pasti merasa mati dalam keadaan syahid. Padahal perintah penyerangan dalam Jihad berdasarkan aturan syara' harus dilakukan melalui perintah Imam. Pertanyaannya, apakah Habib Rizieq layak untuk disebut Imam? Tak pernah gentar memang ciri yang harus dimiliki imam yang ideal. Tapi tak pernah gentar tentu tidak identik dengan keras kepala, apalagi berpikir singkat sebelum berbuat. Belum lagi fakta ungkapan tidak baik yang pernah ia lontarkan pada orang lain. Siapapun orangnya, tentu ungkapan-ungkapan tersebut tidak pernah dicontohkan Rasulullah.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Bagaimanapun juga, Bukankah Allah menjamin orang yang masih ada keimanan walau sebesar &lt;em&gt;dzarrah &lt;/em&gt;dalam dirinya akan tetap masuk syurga? Lalu atas dasar apa kita tidak menganggap orang lain, apalagi yang jelas-jelas seiman sebagai saudara, sementara Allah masih bersedia menjanjikan syurga-Nya padanya.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5715123733357252427-6608396756675988248?l=robitfirdaus.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://robitfirdaus.blogspot.com/feeds/6608396756675988248/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://robitfirdaus.blogspot.com/2008/06/habib-rizieq-siapa-sich-lhoo.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5715123733357252427/posts/default/6608396756675988248'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5715123733357252427/posts/default/6608396756675988248'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://robitfirdaus.blogspot.com/2008/06/habib-rizieq-siapa-sich-lhoo.html' title='Habib Rizieq: Siapa Sich Lhoo'/><author><name>Robitul Firdaus</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15873571037972114090</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_dAbyJD8_VgQ/SJFTl1jwoNI/AAAAAAAAADU/KelUHDoWq8c/S220/Aku.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5715123733357252427.post-7998092305433462905</id><published>2008-04-30T12:45:00.000+07:00</published><updated>2008-04-30T12:51:01.095+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tafakkur'/><title type='text'>WAJAH PEREMPUAN DALAM DUNIA POLITIK INDONESIA</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;strong&gt;Polemik perempuan sebagai seorang pemimpin&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Diskusi mengenai boleh tidaknya perempuan menjadi pemimpin tetap menjadi isu yang menarik perhatian kaum Muslim di Indonesia. Kenyataan bahwa Negara ini pernah dipimpin seorang perempuan justru menambah topik tersebut semakin hangat untuk diperbincangkan. Apalagi setelah pemimipin perempuan tersebut dianggap “gagal” dalam menanggulangi krisis Bangsa, maka seolah-olah pendapat jumhur ulama yang melarang wanita untuk menjadi pemimipin (Imam atau khalifah) mendapatkan legitimasi empiris. Meski dalam prakteknya, mayoritas Muslim Indonesia tidak mempermasalahkan hal tersebut, namun secara ideologi, tampaknya mereka lebih suka untuk tidak bertentangan dengan Jumhur. Sebagai Negara dengan asas pancasila dan demokrasi, hal seperti ini sangat wajar terjadi. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Polemik seputar kepemimpinan perempuan semakin menjadi-jadi ketika fakta sejarah dan dalil-dalil dalam Islam tampak saling bertentangan dan tumpang tindih. Di satu sisi, sebagaimana diyakini jumhur, nabi pernah bersabda “Lan yufliha qoumun wallau amrohum imro’atan” (tidak akan beruntung suatu kaum yang menyerahkan urusan mereka kepada perempuan), sementara di sisi lain, sebagaimana diklaim pejuang kesetaraan gender, Aisyah R.A. ternyata pernah memimpin pasukan dalam perang jamal. Belum lagi kalau kita membaca al-Quran surat al-Hujurat ayat 31 yang secara eksplisit menyatakan kesetaraan laki-laki dan perempuan di hadapan Allah, maka klaim pejuang kesetaraan gender pun serasa menemukan kebenarannya. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Banyak juga yang mencoba menganalisis larangan perempuan menjadi pemimpin melalui pendekatan psikologis. Namun tampaknya usaha tersebut juga tidak banyak berhasil. Karena ketika dibawa pada analisis duniawi, maka logika yang digunakan adalah logika sebab atau illat. Artinya hukumnya bisa sangat fleksibel. Persoalannya adalah apakah larangan nash tersebut bersifat ta’abbudy (taken for granted) yang harus diterima dalam kondisi apapun atau hanya larangan yang bersifat temporal dan kondisional, menyesuaikan dengan kondisi saat itu? &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Tafsir terhadap sebuah nash bagaimanapun juga diyakini sangat dipengaruhi oleh faktor budaya, sosial, kecendrungan politik dan faktor psikologis penafsir. Banyak kalangan berasumsi bahwa pembatasan terhadap perempuan sarat dengan budaya patriarkhi di kalangan arab saat itu. Persoalannya sekali lagi adalah apakah budaya patriarkhi yang dimaksud hanya bersifat temporal dan kondisonal atau jangan-jangan patriarkhi adalah sistem yang dianggap Islam paling sesuai diterapkan di tengah masyarakat, karena merupakan tabi’at (fitrah) manusia? &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) sendiri sebagai kelompok yang memperjuangkan berdirinya Khilafah Islamiyah tidak sepakat dengan pemimpin perempuan. Dalam pasal 19 bab sistem pemerintahan Rancangan Undang-Undang Dasar Islam yang disusun oleh Syekh Taqiyyuddin al-Nabhani, pendiri Hizbut Tahrir, disebutkan “tidak dibenarkan seorang pun berkuasa atau menduduki suatu jabatan apa saja yang berkaitan dengan kekuasaan, kecuali seorang laki-laki merdeka, adil dan beragama Islam”. Ini tentu juga akan menjadi tanda tanya sendiri bagi kaum Muslim. Akankah ini menandakan bahwa perempuan memiliki hak-hak terbatas dalam Negara Islam yang dicita-citakan Hizbut Tahrir?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Realitas Posisi Perempuan dalam Panggung Politik Indonesia&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;Ada fakta menarik yang terjadi pada era reformasi saat ini. Semakin menguatnya Islam fundamentalis (non-sekuler) ternyata tidak berbanding lurus dengan posisi perempuan di Indonesia. Sekali lagi, dalam dunia politik hal yang demikian sangat wajar terjadi. Fakta bahwa setiap partai harus memberikan kuota 30 persen terhadap caleg perempuan dinilai sebagai terobosan yang berani dalam perjuangan kesetaraan gender. Bahkan PKS yang dianggap mewakili basis massa Islam non-sekuler dan secara “ideologi” biasanya menentang peran perempuan yang berlebihan, termasuk untuk menjadi pemimpin, tampak tidak bisa berbuat banyak dan cenderung menyepakatinya. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Ketika dalam sebuah dialog di stasiun televisi, seorang fungsionaris PKS ditanya mengenai hukum pemimpin wanita, ia sama sekali tidak memberikan jawaban yang tegas. Meskipun tampak lebih mendekati opini yang tidak setuju terhadap pemimipin perempuan, jelas ke”abu-abu”an PKS dalam hal ini sarat dengan pertimbangan politis. Itu artinya seolah-olah kemajuan peran perempuan dalam dunia politik di Indonesia hanya didapat atas dukungan politik “kepentingan” saja, tanpa dukungan nyata dari moral keagamaan. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Namun, tampaknya posisi kekuatan dan kepercayaan publik terhadap perempuan akhir-akhir ini semakin menguat. Misalnya Jawa timur yang memiliki basis massa Islam tradisional terbesar di Indonesia justru salah satu Calon Gubernurnya adalah perempuan. Terlepas dari kemungkinan menang dan kalah, fakta ini bisa jadi merupakan kemajuan yang menarik untuk dianalisa. Belum lagi beberapa kader perempuan yang memang nyata-nyata telah menjadi pemimpin di beberapa daerah, semisal yang terjadi di Kabupaten Karang Anyar, Jawa tengah.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Bagaimanapun juga, ranah sosial politik dan sosial keagamaan adalah dua ranah yang berbeda. Dalam etika politik tentu tidak ada masalah dengan pemimpin perempuan. Namun secara etis keagamaan, pemimpin perempuan tetaplah sebuah polemik. Menjembatani hal ini, jalan dialog mutlak diperlukan. Disadari atau tidak, dua ranah yang berbeda tersebut tetap saling mempengaruhi satu dengan yang lain. Ujung-ujungnya perdebatan semacam ini memang memaksa semua Muslim untuk berpikir sekuler. Persoalannya apakah dengan jalur berpikir sekuler semuanya bisa terselesaikan? &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5715123733357252427-7998092305433462905?l=robitfirdaus.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://robitfirdaus.blogspot.com/feeds/7998092305433462905/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://robitfirdaus.blogspot.com/2008/04/wajah-perempuan-dalam-dunia-politik.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5715123733357252427/posts/default/7998092305433462905'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5715123733357252427/posts/default/7998092305433462905'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://robitfirdaus.blogspot.com/2008/04/wajah-perempuan-dalam-dunia-politik.html' title='WAJAH PEREMPUAN DALAM DUNIA POLITIK INDONESIA'/><author><name>Robitul Firdaus</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15873571037972114090</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_dAbyJD8_VgQ/SJFTl1jwoNI/AAAAAAAAADU/KelUHDoWq8c/S220/Aku.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5715123733357252427.post-6639927695070352908</id><published>2008-04-25T10:24:00.000+07:00</published><updated>2008-04-25T10:32:12.022+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tafakkur'/><title type='text'>Hukum Bekerja di Bank Konvensional</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Ada seorang sahabat yang bertanya, Bagaimana hukum bekerja di bank konvensional yang notabene menjalankan praktek riba dalam operasionalnya? &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;Jawaban&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin menghukumi bekerja di perbankan konvensional sebagai pekerjaan yang diharamkan karena dua alasan:&lt;br /&gt;1. Membantu melakukan riba. Bila demikian, maka menurutnya, pekerja tersebut termasuk ke dalam laknat yang telah diarahkan kepada individu sebagaimana telah terdapat hadits yang shahih dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, bahwasanya beliau: "Artinya: melaknat pemakan riba, pemberi makan dengannya, penulisnya dan kedua saksinya". Beliau mengatakan. "Artinya: Mereka itu sama saja".&lt;br /&gt;2. Bila tidak membantu, berarti setuju dengan perbuatan itu dan mengakuinya. Oleh karena itu, tidak boleh hukumnya bekerja di bank-bank yang bertransaksi dengan riba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan Syeikh al-Ustadz al-Duktur (kalau istilah Indonesianya Prof. Dr.) Yusuf Qardlawi menghukumi &lt;em&gt;mubah&lt;/em&gt; (boleh) bekerja di bank konvensional dengan alasan sebagai berikut:&lt;br /&gt;1. persoalan riba dalam perbankan konvensional sudah demikian mapan menjadi sebuah sistem. Kondisi seperti ini tidak akan bisa dirubah hanya dengan melarang seluruh orang Islam bekerja di Bank konvensional.&lt;br /&gt;2. pengharaman hanya akan menyebabkan dampak negatif bagi banyak pihak (guncangan ekonomi), terutama bagi para pekerja Muslim yang terpaksa harus menjadi pengangguran, padahal ada keluarga yang harus mereka pikirkan masa depannya&lt;br /&gt;3. tidak semua produk dan jasa perbankan konvensional itu seluruhnya bersifat haram. Banyak di antaranya yang telah sesuai dengan syariah seperti penitipan (istilah syariahnya wadi’ah) misalnya.&lt;br /&gt;4. apabila kita melarang semua muslim bekerja di bank, maka dunia perbankan dan sejenisnya akan dikuasai oleh orang-orang non-Muslim seperti Yahudi dan sebagainya. Pada akhirnya, negara-negara Islam akan dikuasai mereka.&lt;br /&gt;5. perubahan tetap harus dilakukan, namun secara bertahap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sendiri lebih sepakat dengan Syeikh Yusuf Qardlawi. Pertimbangan saya lebih kepada efek negatif (mudlarat) yang ditimbulkan bila bekerja di bank konvensional dihukumi sebagai sebuah keharaman. Fakta bahwa ribuan Muslim saat ini bekerja di sana tidak bisa tidak harus kita pertimbangkan. Membantu menyuburkan aktivitas bunga bank memang menimbulkan mudlarat, tapi memotong mata pencaharian keluarga juga sebuah mudlarat. Apalagi bila satu-satunya income keluarga memang datang dari pekerjaan tersebut. Maka dalam hal ini berlaku kaidah fikih&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;اذا تعارضت المفسدتان روعي اعظمهما ضررا بارتكاب اخفهما&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;“Bila dua mafsadat atau mudlarat bertentangan, maka perhatikanlah yang mudlaratnya lebih besar dengan melaksanakan yang mudlaratnya lebih kecil”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan pendapat Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin menurut saya kurang relevan untuk diterapkan pada konteks saat ini dengan alasan sebagai berikut:&lt;br /&gt;Mayoritas orang Muslim yang bekerja di perbankan konvensional tidak sedikitpun memiliki niatan untuk menyuburkan bunga atau riba. Umumnya mereka bekerja atas nama profesionalitas dan melakukan pekerjaan yang sesuai dengan basic keilmuwan yang mereka miliki.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Jika karena bertransaksi sesuatu yang melanggar syara’, kemudian orang yang bekerja di dalamnya juga dianggap melarang syara’, maka hampir dipastikan begitu banyak model pekerjaan yang haram di negeri ini. Misalnya bekerja di perusahaan televisi (banyak tayangan yang berbau non-Syara’), bekerja di seluruh departemen negara (sarang korupsi), termasuk mungkin bekerja menjadi pejabat Negara (karena meyakini negara ini masih negara kafir).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun yang perlu dicatat bahwa hukum mubah ini sama sekali tidak bersifat final. Hukum mubah ini menurut saya menyesuaikan dengan kondisio sosio-politik dan sosio-kultural yang empiris saat ini. Perjuangan untuk menegakkan sistem ekonomi Islam tetap harus digelorakan. Hukum Islam sangat adaptable. Bila suatu saat nanti, sistem syariah benar-benar telah terwujud dengan mapan, sehingga begitu banyak pilihan pekerjaan di perbankan maupun lembaga keuangan syariah, maka bukan tidak mungkin, hukum mubah ini dapat berubah menjadi makruh atau bahkan haram.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;تغير الاحكام بتغيرالامكنة والازمنة&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;“Hukum itu berubah sesuai dengan tempat dan waktu (yang mengitarinya)”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Wallahu a’lam bi al-showab.&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5715123733357252427-6639927695070352908?l=robitfirdaus.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://robitfirdaus.blogspot.com/feeds/6639927695070352908/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://robitfirdaus.blogspot.com/2008/04/hukum-bekerja-di-bank-konvensional.html#comment-form' title='7 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5715123733357252427/posts/default/6639927695070352908'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5715123733357252427/posts/default/6639927695070352908'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://robitfirdaus.blogspot.com/2008/04/hukum-bekerja-di-bank-konvensional.html' title='Hukum Bekerja di Bank Konvensional'/><author><name>Robitul Firdaus</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15873571037972114090</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_dAbyJD8_VgQ/SJFTl1jwoNI/AAAAAAAAADU/KelUHDoWq8c/S220/Aku.jpg'/></author><thr:total>7</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5715123733357252427.post-5009357342066477651</id><published>2008-03-19T15:55:00.000+07:00</published><updated>2008-03-19T15:58:32.529+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tafakkur'/><title type='text'>Minum Air, Syirik?</title><content type='html'>"Rob, ada anak kos yg keilangan uang trs ada anak madiun yg bw air putih yg udah didoain dr kyai. Qt semua minum. Kl yang ambil rasany air beda. Itu musyrik ga rob?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu teks sms dari salah seorang temen saya. Pertanyaan semacam ini seringkali ditanyakan banyak teman. Mungkin karena mereka menilai opini dari publik juga masih simpang siur tentang kasus seperti ini. Ada yang menggapnya syirik, tapi ada juga yang menganggapnya boleh, dengan alasan tidak jarang kaum agamawan juga mengamini budaya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sendiri menjawab sms temen saya itu dengan teks begini, "klo pun ada yang beda rasax, itu ttp tdk bs djdkn bukti pncurian smp adax pngkuan at bkti lain. Slama tdk myakni adax kkuatan yg mnyamai Tuhan d air itu ya g syirik"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawaban itu mungkin juga masih membingungkan bagi sebagian orang. Maksud saya begini, hal-hal ghaib itu tidak bisa dijadikan alat bukti dalam persidangan. Orang yang kemudian merasa air yang dia minum rasanya tidak wajar, tidak bisa dihukumi lagsung dia bersalah. karena tidak ada relasi rasional (jelas) antara pencurian dan perubahan rasa air tersebut. Kecuali kemudian setelah minum air, ia lalu mengaku, maka ia bisa dikenakan sanksi pidana. itu pun bukan karena rasa yang berbeda pada air tersebut saat ia minum, tapi karena faktor pengakuan yang ia lakukan. &lt;em&gt;inna nahkumu bi al-dhowahir wallahu yatawalla as-sarair&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian saya tidak berani mengatakan perbuatan tersebut syirik karena beberapa pertimbangan. Label Syirik atau kafir menurut saya seminimal mungkin digunakan kaetika menghakimi seseorang. Apalagi dalam hal yang masih belum jelas maksud dan tujuannya. Kemudian untuk kasus teman saya di atas, harus dilihat kondisi sosiologis dimana ia tinggal. Ia tinggal di kos. Tentunya semua penghuni kos itu turut memiliki peluang untuk dituduh sebagai pencuri. Bisa anda bayangkan kalau teman saya kemudian menolak permintaan meminum air tersebut. Besar kemungkinan justru dia yang akan dituduh sebagai pencurinya. Padahal ia sama sekali tidak melakukan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syirik berarti menyekutukan tuhan. Menyekutukan tidak hanya dalam artian mempercayai ada dua dzat Tuhan, tetapi juga mempercayai adanya kekuatan yang menyerupai atau sama dengan Tuhan. Kita semua tahu bahwa tuhan adalah laisa kamitslihi syai'un. Sehingga percaya ada kekuatan yang sama dengan Tuhan juga masuk dalam kategori syirik. Sementara bila tidak sampai pada tingkatan itu, maka label syirik juga belum pas untuk disematkan dalam perbuatan tersebut. &lt;em&gt;wallahu a'lam bi al-showab&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5715123733357252427-5009357342066477651?l=robitfirdaus.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://robitfirdaus.blogspot.com/feeds/5009357342066477651/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://robitfirdaus.blogspot.com/2008/03/minum-air-syirik.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5715123733357252427/posts/default/5009357342066477651'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5715123733357252427/posts/default/5009357342066477651'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://robitfirdaus.blogspot.com/2008/03/minum-air-syirik.html' title='Minum Air, Syirik?'/><author><name>Robitul Firdaus</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15873571037972114090</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_dAbyJD8_VgQ/SJFTl1jwoNI/AAAAAAAAADU/KelUHDoWq8c/S220/Aku.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5715123733357252427.post-7205311213389825055</id><published>2008-03-18T11:41:00.000+07:00</published><updated>2008-03-18T12:31:47.814+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tafakkur'/><title type='text'>BANGSA MISTIS; BANGSA STATIS</title><content type='html'>Bangsa ini mungkin adalah bangsa yang sangat kental dengan dunia ghaib. Hitung saja ada berapa film horor yang laris manis di pasaran. Belum lagi kalau kita ikut menghitung paranormal yang mencari makan di negeri ini. Semua itu seolah mengindikasikan lekatnya bangsa ini dengan dunia mistis. Untuk membunuh seorang musuh, aktor-aktor film laga Indonesia tidak perlu senjata besar atau laras panjang seperti yang dipakai dalam Rambo atau Predator, mereka hanya butuh ajian ghaib yang digambarkan dapat memberikan efek yang tak kalah besar dengan teknologi supercanggih sekalipun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya bukannya tidak percaya dengan yang ghaib. Bagaimana mungkin saya tidak mempercayai sesuatu yang Agama memerintahkan kita untuk mempercayainya (QS. 2: 3). Tapi bukankah beriman tidak harus dengan jalan melihatnya dengan mata telanjang, atau dengan jalan harus divisualkan melalui film?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Film-film horor menurut saya, apapun motivasinya memberikan banyak efek negatif terhadap para penonton pada khususnya dan seluruh bangsa Indonesia pada umumnya. Setidaknya ada tiga efek negatif yang bisa saya sebutkan: Pertama, dari sisi akidah jelas film horor justru akan melahirkan sesuatu yang kontra produktif. Film horor mengajak dan mengajarkan para penonton untuk takut pada hantu atau makhluk halus. Sementara ketakutan pada Tuhan menjadi dinomorduakan. Fim horor dianggap sukses bila berhasil menakuti penonton sejadi-jadinya. Semakin "serem", berarti semakin berkualitas. Bohong kalau dinyatakan film horor dapat bermanfaat untuk mengingat kekuasaan Tuhan. Buktinya, belum ada satu pun fakta seseorang setelah menonton film horor, lalu berkomentar, "maha besar Tuhan". Yang ada komentarnya sudah pasti, "wah filmnya serem banget".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, Film horor menciptakan alam pikir imajinasi dan mimpi yang sama sekali tidak produktif. "Bangsa dan orang yang besar adalah bangsa dan orang yang memiliki mimpi besar" begitu kata orang bijak. Namun, bagaimana mungkin dapat menjadi bangsa besar kalau mimpinya justru tentang hal yang ghaib, tentang pocong, kuntil anak, tuyul dan "makhluk ghaib visual" lainnya? Kita bermimpi untuk memiliki tim sepak bola nasional yang tangguh. Namun bagaimana mungkin bisa terwujud kalau sebelum pertandingan bukannya beriktiar dengan latihan sekuat tenaga kemudian tawakkal, malah justru minta kekuatan pada dukun. Sampai dukun super sakti sekalipun, saat ini tidak akan mampu memenangkan Indonesia kalau melawan tim sekelas Brazil. Mimpi tetap harus ada, tapi harus mimpi yang rasional dan produktif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, Bangsa ini akan terombang-ambing dalam status ketidak jelasan. Disebut bangsa religus, sudah pasti bukan. Apalagi disebut bangsa dengan kecanggihan teknologi. Persoalannya, film horor yang ada di Indonesia, mementahkan dua basis keilmuwan yang dibangun sedemikian mapan. Agama dan Ilmu Pengetahuan. Sehingga bisa dibuktikan, semakin mistis suatu bangsa, pasti semakin jauh bangsa tersebut dari Agama dan Teknologi, atau setidak-tidaknya kemurnian ajaran ajaran agama akan sangat sulit terwujud.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Film horor sebenarnya bisa didesain tanpa harus melibatkan pocong dkk. Seramnya sebuah film memang sangat dipengaruhi budaya masing-masing tempat. Namun kalau tidak produktif untuk masa depan, kanapa mesti dipertahankan? Tengok saja misalnya film horor barat yang berjudul "saw". Meski tanpa adanya makhluk ghaib, tapi film ini menurut saya cukup sukses untuk membuat jantung penonton berdegup kencang. &lt;em&gt;Wallahu a'lam bi al-showab&lt;/em&gt;.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5715123733357252427-7205311213389825055?l=robitfirdaus.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://robitfirdaus.blogspot.com/feeds/7205311213389825055/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://robitfirdaus.blogspot.com/2008/03/bangsa-ini-mungkin-adalah-bangsa-yang.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5715123733357252427/posts/default/7205311213389825055'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5715123733357252427/posts/default/7205311213389825055'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://robitfirdaus.blogspot.com/2008/03/bangsa-ini-mungkin-adalah-bangsa-yang.html' title='BANGSA MISTIS; BANGSA STATIS'/><author><name>Robitul Firdaus</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15873571037972114090</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_dAbyJD8_VgQ/SJFTl1jwoNI/AAAAAAAAADU/KelUHDoWq8c/S220/Aku.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5715123733357252427.post-1474362293885311709</id><published>2008-03-03T16:12:00.000+07:00</published><updated>2008-03-03T16:13:51.648+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tasawwuf'/><title type='text'>RAPUH By OPICK; LAGU BUAT PARA PELUPA TUHAN</title><content type='html'>"Maafkanlah bila hati tak sempurna mencintaimu....."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;itu sepenggal lirik dalam lagu ini. Terus terang beberapa hari ini lagu Opick ini sengaja kubuat menemaniku sepanjang waktu, bahkan sebagai pengantar tidurku. Aku merasa ada sayatan yang luar biasa melukai hatiku saat aku mendengar lagu ini. Aku seolah sadar ada banyak kesalahan yang telah kubuat pada Tuhanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berulangkali dalam hidup ini aku mengejar cinta makhluk-Nya, tapi pernahkan dengan serius aku mengejar cinta-Nya. Aku ragu akan hal itu. Aku seringkali tak kuasa menduakan perasaan cintaku kepada-Nya. Padahal Ia adalah dzat yang paling pencemburu. Ia sangat murka bila diduakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi Jangan salah, Ia juga adalah dzat yang paling setia kepada makhluk-Nya. bahkan ketika sang makhluk berbuat salah pada-Nya, dengan sangat mudah Ia akan memaafkannya. Bila kau bersungguh-sungguh memohon maaf terhadap-Nya. Tak ada yang lebih bisa menyayangimu melebihi apa yang Ia lakukan. &lt;em&gt;Ya tawwab Tub 'Alayya&lt;/em&gt;.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5715123733357252427-1474362293885311709?l=robitfirdaus.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://robitfirdaus.blogspot.com/feeds/1474362293885311709/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://robitfirdaus.blogspot.com/2008/03/rapuh-by-opick-lagu-buat-para-pelupa.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5715123733357252427/posts/default/1474362293885311709'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5715123733357252427/posts/default/1474362293885311709'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://robitfirdaus.blogspot.com/2008/03/rapuh-by-opick-lagu-buat-para-pelupa.html' title='RAPUH By OPICK; LAGU BUAT PARA PELUPA TUHAN'/><author><name>Robitul Firdaus</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15873571037972114090</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_dAbyJD8_VgQ/SJFTl1jwoNI/AAAAAAAAADU/KelUHDoWq8c/S220/Aku.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5715123733357252427.post-1771605869360962049</id><published>2008-03-03T14:24:00.000+07:00</published><updated>2008-03-03T16:02:11.157+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Robit Menjawab'/><title type='text'>Lagi-Lagi Kelaparan; Pemerintah... Belajarlah dari Umar!</title><content type='html'>Hari ini ramai diberitakan kematian seorang Ibu dan anaknya yang misterius. Selidik punya selidik ternyata dua orang dalam satu keluarga tersebut mati akibat kelaparan. Tragis memang, di zaman sekarang masih saja ada berita kelaparan di negeri ini. Alasannya, tentu saja bukan karena kita tidak memiliki lahan yang subur, sehingga seringkali kekurangan stok makanan. Bangsa ini sungguh kaya, bahkan sangat kaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya jadi teringat kisah sebuah keluarga dalam masa khalifah Umar yang juga mengalami kelaparan. Sang Ibu menanak batu hanya untuk meyakinkan anaknya kalau akan ada makanan yang siap mereka santap, sambil berharap sang anak akan tidur dalam masa penungguannya. Khalifah Umar tentu saja menangis melihat ini. Ia tidak tega melihat rakyatnya jauh lebih buruk keadaannya dibanding dirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal kita tahu, Umar juga bukan dari golongan kaya raya. Bahkan dalam sebuah riwayat disebutkan, kalau Umar setiap malam tidur hanya dengan beralaskan pelepah kurma, suatu pemandangan yang pasti tidak lazim dilakukan oleh seorang kepala negara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat ada salah satu rakyatnya yang demikian lapar, Umar pun rela memanggul sendiri bekal makanan yang akan ia berikan pada kelaurga lapar ini. Lagi-lagi pemandangan yang tidak lazim. Umar melakukan semua ini karena ia khawatir tidak dapat mempertanggung jawabkan kepemimpinannya di hadapan Allah kelak. Bahkan ketika masa paceklik tiba, diriwayatkan Umar pernah berkata, "biar aku menjadi orang terakhir yang merasakan lapar dari rakyatku".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu kemana pemimpin sekarang? Saya tahu permasalahan yang dihadapi pemimpin saat ini jauh lebih kompleks dari masa Umar. Namun bukan disitu letak point yang ingin saya tekankan. Gaya pemimpin saat ini saya nilai cenderung lebih elitis dan kurang memasyarakat. Tolak ukur ekonomi yang diperhitungkan hanya dalam batasan ekonomi makro. Jelas saja penderitaan rakyat "cilik" tidak terbaca. Benar, urusan kekuatan nilai tukar rupiah terhadap dolar tetap harus diperhitungkan, tapi bukan berarti distribusi rupiah di kalangan "wong cilik" jadi luput dari perhatian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh hati saya serasa tersayat-sayat mendengar dan membaca berita kelaparan ini. Padahal ini hanya sebagian dari yang terekspos saja. Masih banyak di daerah pedalaman dan daerah terdampak bencana alam yang masyarakatnya mengalami nasib serupa. Saya hanya bisa marah pada diri sendiri karena tidak bisa berbuat apa-apa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lagi-lagi kita harus membuka mata bahwa fenomena ini sangat kontras dengan yang dialami pejabat dan anggota dewan. Mereka bisanya hanya meminta gaji tambahan berupa tambahan tunjangan dengan alasan kepentingan produktivitas. Apa mereka masih "mentolo" makan gaji-gaji itu. Apa mereka tidak takut termasuk dalam firman Allah, "Mereka punya mata, tapi tak melihat. Mereka punya telinga tapi tak mendengar. Mereka punya hati, tapi tak merasa. Mereka seperti binatang, bahkan lebih parah". &lt;em&gt;Kullukum Ro'in wa Kullukum Mas'ulun 'an Ro'iyatihi&lt;/em&gt;.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5715123733357252427-1771605869360962049?l=robitfirdaus.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://robitfirdaus.blogspot.com/feeds/1771605869360962049/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://robitfirdaus.blogspot.com/2008/03/lagi-lagi-kelaparan-pemerintah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5715123733357252427/posts/default/1771605869360962049'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5715123733357252427/posts/default/1771605869360962049'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://robitfirdaus.blogspot.com/2008/03/lagi-lagi-kelaparan-pemerintah.html' title='Lagi-Lagi Kelaparan; Pemerintah... Belajarlah dari Umar!'/><author><name>Robitul Firdaus</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15873571037972114090</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_dAbyJD8_VgQ/SJFTl1jwoNI/AAAAAAAAADU/KelUHDoWq8c/S220/Aku.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5715123733357252427.post-8909272765557495987</id><published>2008-02-28T16:10:00.000+07:00</published><updated>2008-02-28T16:14:21.704+07:00</updated><title type='text'>LUMPUR LAPINDO; LUMPURNYA TUHAN</title><content type='html'>&lt;em&gt;Without correct words, there will be no correct practice&lt;/em&gt;. (Dombrowsky)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rabi Greenberg menuturkan kisah lucunya tahun 1950-an di New York City yang dilanda musim kering dan pemerintah membuat awan buatan sebagai awal teknologi hujan buatan.&lt;br /&gt;Hal ini menyebabkan agamawan bertanya, apakah manusia mengambil alih peran Tuhan? ”Saya ingat sebuah kartun di the New Yorker yang melukiskan sekelompok pendeta yang kelihatan amat cemas sedang duduk mengelilingi meja dan melihat keluar melalui jendela, menyaksikan turunnya hujan. Seorang pendeta berkata, ’Ini hujan kita, atau hujan mereka?’” (John Naisbit, 2001:49)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita membayangkan suasana batin yang mungkin melingkupi Senayan dan Istana terkait peristiwa di Sidoarjo. Karikatur imajiner yang bisa menggambarkan batin penguasa dan rohaniwan Indonesia dengan pertanyaan, ”Ini lumpur Lapindo atau lumpurnya Tuhan?” Kini, dalam realitas, DPR dan pemerintah memerlukan jawaban ”bencana alam atau bencana teknologi”?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam tradisi mendefinisikan/ pendefinisian atas sesuatu, sebuah definisi terdiri dua bagian, yakni kata yang didefinisikan (definiendum) dan kelompok kata atau konsep yang digunakan untuk mendefinisikan (definien). Sebuah definiendum harus bermakna sama dengan definien.&lt;br /&gt;Neil Britton mengatakan, ”Sebagaimana seorang/pihak menafsirkan sesuatu bergantung pada apa yang disyaratkan untuk dilakukan terhadap sesuatu dimaksud.” Namun, Britton mengingatkan definisi bukan sekadar alat bantu berpikir, tetapi juga soal orientasi mental dan emosi, model pemaknaan dan cara pandang pemberi definisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Definisi&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Salinan UU No 24/2007 mendefinisikan, ”bencana adalah peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat yang disebabkan faktor alam dan/atau faktor non-alam maupun faktor manusia, mengakibatkan timbulnya korban jiwa manusia, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda, dan dampak psikologis.”&lt;br /&gt;Karena itu, peristiwa Sidoarjo memenuhi kecirian definisi bencana UU No 24/2007. Jika ditanyakan kepada rakyat yang mengalami, jawabannya, ”rumah terkubur, pekerjaan hilang, aset penghidupan hancur, kerugian nasional mencapai paling sedikit Rp 7 triliun. Orang dari kaya menjadi miskin. Yang miskin makin melarat. Secara psikis tidak ada kata yang bisa menyamai pengalaman mengalami bencana itu.” Definisi ini dikenal dengan definisi situatif.&lt;br /&gt;Pada titik ini, kata ’bencana’ tidak merepresentasikan diri sendiri. Bencana juga tidak sekadar merepresentasikan lingkungan yang rusak. Bencana dan lingkungan yang rusak merepresentasikan manusia dan kepentingan manusia di baliknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Istilah ”bencana alam” bermakna kausalitas. Salinan UU No 24/2007 mengatakan, ”Bencana alam adalah bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau rangkaian peristiwa yang disebabkan oleh alam, antara lain berupa gempa bumi, tsunami, gunung meletus, banjir, kekeringan, angin topan, dan tanah longsor. Bencana non-alam adalah bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau rangkaian peristiwa non-alam, antara lain berupa gagal teknologi, gagal modernisasi, epidemi, dan wabah penyakit.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelemahan paling mendasar UU No 24/2007 adalah tidak memberi ruang atau definisi kausalitas bencana untuk interaksi atau keterkaitan antara yang alami dan buatan manusia. Secara empiris, ini bertentangan karena ada yang dikenal sebagai ”bencana antara”. Peristiwa yang satu men-triger yang lain. Bisa saja kegiatan eksplorasi dan eksploitasi sumber daya yang tidak menjalankan prinsip kehati-hatian men-trigger kejadian alam yang ekstrem. Misal, eksploitasi hutan memicu mudahnya banjir. Sebaliknya, peristiwa alam seperti gempa bisa memicu kecelakaan kebakaran seperti gempa Kobe 1995 atau kecelakaan nuklir di Jepang setahun silam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wapres Jusuf Kalla mengatakan, ”Perlu penelitian mendalam. Saya kira tidak bisa dinyatakan secara politik (oleh DPR). Bencana alam atau bukan, itu bukan masalah politis.” (Kompas, 19/2/2008)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlu diketahui, sains tidak menawarkan kepastian 100 persen. Sains datang dengan skenario, probabilitas, kemungkinan, dan solusi trial and error. Ini yang terjadi dengan sains dalam konteks lumpur di Sidoarjo. Dalam tradisi epistemik di universitas-universitas dunia, sebuah hasil penelitian yang dipublikasikan akan mendapat banyak pertanyaan ketimbang jawaban. Inilah alasannya mengapa seolah IAGI saling ”berseteru” tepatnya setahun silam dalam sebuah workshop internasional. (Tempo Interaktif, 6/3/2007)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Istilah bencana alam&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Karena itu, istilah hitam-putih ”bencana alam” sebenarnya problematik dan masalah utama adalah pada paradigma dan kuasa tafsir atas bencana. Maka, tafsir bencana tidak bisa hanya diserahkan kepada ahli teknis geologis/geofisik saja. Dalam epistemologi bencana, alam adalah alam. Bencana adalah bencana. Bukan alam yang mengeksplorasi migas di Sidoarjo.&lt;br /&gt;Tafsir bencana adalah sebuah konsensus yang seharusnya trans-disiplin (baca: antara pengambil kebijakan dan ahli lintas disiplin, termasuk ilmuwan sosial dan pihak yang dianggap korban/pelaku).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rakyat yang dipersepsikan ”bodoh” tidak bisa menerima begitu saja bahwa ini adalah lumpurnya Tuhan. Ketiadaan konsensus atas bencana di Sidoarjo ternyata mengakibatkan biaya transaksi tinggi. Namun, keputusan tentang penanggung jawab bencana Sidoarjo adalah bukan semata-mata putusan hukum. Diperlukan keputusan politik karena lepas dari faktor kausalitas yang tidak pasti karena keterbatasan sains dan ketidakpastian pengetahuan, ada situasi obyektif menunjukkan, jumlah rakyat miskin di Sidoarjo yang terjadi dalam dua tahun terakhir membutuhkan keberpihakan politik dari penguasa di DPR maupun eksekutif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melemparkan tanggung jawab kepada sains yang tidak pasti adalah sebuah pengkhianatan terhadap amanat yang diberikan rakyat. Dan sains hendaknya dimandatkan untuk tidak merampas mandat pengambilan keputusan yang bersifat politik. Kepastian keberpihakan dari negara diperlukan dalam menyelesaikan ketidakpastian hidup dan penghidupan rakyat di Sidoarjo yang semakin tak menentu. (Kompas, 28/02/08)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5715123733357252427-8909272765557495987?l=robitfirdaus.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://robitfirdaus.blogspot.com/feeds/8909272765557495987/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://robitfirdaus.blogspot.com/2008/02/lumpur-lapindo-lumpurnya-tuhan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5715123733357252427/posts/default/8909272765557495987'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5715123733357252427/posts/default/8909272765557495987'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://robitfirdaus.blogspot.com/2008/02/lumpur-lapindo-lumpurnya-tuhan.html' title='LUMPUR LAPINDO; LUMPURNYA TUHAN'/><author><name>Robitul Firdaus</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15873571037972114090</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_dAbyJD8_VgQ/SJFTl1jwoNI/AAAAAAAAADU/KelUHDoWq8c/S220/Aku.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5715123733357252427.post-6872092458511711564</id><published>2008-02-26T13:58:00.000+07:00</published><updated>2008-02-27T15:28:57.941+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tafakkur'/><title type='text'>Kyai dan Pilgub Jatim</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Beberapa hari ini dan tampaknya juga akan berlanjut pada hari-hari ke depan, Jatim heboh menyambut Pilgub. Sebenarnya kehebohan seperti ini sudah biasa menjelang Pilgub di daerah manapun. Apalagi dengan sistem langsung seperti saat ini. Tapi tentu Jatim memiliki keunikan sendiri yang menjadi ciri khasnya selama ini.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Jatim dikenal sebagai wilayah dengan komunitas santri terbesar di Indonesia. Beberapa daerah di Jawa timur bahkan layak menyandang gelar kota santri. Seperti Situbondo misalnya. Jadi kalau ada perhelatan besar semacam Pilgub, bisa ditebak siapa yang paling sibuk diburu dan dibutuhkan? Tentu saja kaum santri. Santri pada dasarnya tak ubahnya sebagaimana pelajar pada umumnya. Hanya saja concern mereka lebih pada ilmu agama. Yang lebih penting lagi, santri mutlak memiliki panutan yang sering disebut dengan istilah "kyai"&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Kyai adalah seorang guru yang banyak mengamalkan ilmunya pada masyarakat. Oleh karenanya, masyarakat sering kali menjadikannya sebagai pemimpin informal di suatu daerah. Anehnya, ketokohan kyai memang seringkali diukur lewat seberapa besar basis massa yang dimilikinya. Jadi jangan heran kalau Kyai pun memiliki beragam tingkatan. Ada kyai bertaraf desa, kecamatan, kabupaten, nasional, bahkan internasional. Jadi kyai disamping memiliki santri yang sangat menghormatinya, kyai juga punya masyarakat yang siap mendukung semua keputusannya.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Dari fakta ini, sangat wajar bila saya katakan, bahwa siapapun yang paling dekat dengan banyak kyai, maka dialah yang akan menjadi Gubernur di Jatim. Bisa dilihat &lt;em&gt;toh &lt;/em&gt;apa yang terjadi sekarang. Semua yang maju dalam bursa Pilgub Jatim pasti mengaku mendapat restu dari sejumlah Kyai. Ada yang semakin mantap maju karena merasa diperintah oleh Kyai, Tapi ada juga yang tidak mau menjadi orang nomor dua (bacawagub), karena kyai memintanya duduk sebagai calon orang nomor satu. Hebat dan unik bukan!&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Itulah Jawa Timur. Aku tahu dan paham betul, karena disamping aku lahir dan besar di jawa timur, aku juga hidup di kalangan yang tidak jauh dari bau "kyai".&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Mayoritas Jawa timur adalah NU. Jadi segala yang mengusung NU, kemungkinan untuk dapat menarik simpati warga cukup besar. Itu pula yang terjadi saat ini. Tapi sayangnya, PKB yang diharapkan menjadi kendaraan warga NU tampak belum begitu bisa bersimbiosis dengan kepentingan NU. Bagaimanapun juga tentu yang dirugikan dalam hal ini adalah PKB dan NU itu sendiri. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;PKB yang kendalinya dipegang Gus Dur tidak menyetujui memasukkan kader NU menjadi Bacagub. Ia lebih memilih untuk meletakkannya menjadi Bacawagub. NU yang menjadi ABG (Anak Buah Gusdrur) pun tidak bisa apa-apa. Meski demikian, sebagian NU terutama yang tergabung dalam PKNU (pecahan PKB) justru seringkali berbeda pendapat dengan Gusdur. Dulu saat Gusdur menjadi ketua PBNU, tidak ada seorang pun yang berani berbeda dengannya di Jawa Timur. Tapi sekarang, entah mengapa keputusan Gusdur sering tidak sejalan dengan sebagian (besar) warga NU.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Saat ini, menurut saya Kyai NU di Indonesia bisa dikelompokkan dalam tiga macam. Pertama, kyai yang tidak terjun ke politik, bersikap baik dengan Gusdur dan selain Gusdur. Kedua, kyai yang selalu taat kepada keputusan politik Gusdur. Ketiga, kyai yang berani menentang Gusdur dalam konteks politik.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Harus diakui, peperangan politik di Jawa Timur merugikan para kyai, karena perbedaan pendapat mereka dalam wilayah politik seringkali terbawa pada persoalan masyarakat. Saya khawatir peperangan antar kyai akan benar-benar terjadi. Peperangan yang akan menyebabkan perpecahan.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Saran saya, hendaknya kyai tidak perlu memberikan fatwa politik. Kalaupun &lt;em&gt;toh &lt;/em&gt;akan mengeluarkan fatwa semacam itu, harus dijelaskan dulu kapasitasnya sebagai apa? Apa pendapat pribadi, atau jabatan struktural. Kalau terlibat dalam partai, akan lebih baik sebenarnya bila tidak mengatasnamakan pendapat kyai. Karena hal itu justru bertentangan dengan bilai-nilai kultural yang disematkan masyarakat pada kyai. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Jangan sampai ada masyarakat yang bingung bertanya, "Aku harus ikut kyai yang mana?". Bahkan, jujur saya berani katakan, bahwa ulama salaf pada umumnya menjauhi wilayah politik. Itu sebenarnya untuk menjaga &lt;em&gt;muru'ah &lt;/em&gt;mereka sendiri. Jadi wilayahnya memang hanya memberikan saran (fatwa) sesuai dengan tuntunan agama terhadap dunia politik.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5715123733357252427-6872092458511711564?l=robitfirdaus.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://robitfirdaus.blogspot.com/feeds/6872092458511711564/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://robitfirdaus.blogspot.com/2008/02/kyai-dan-pilgub-jatim.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5715123733357252427/posts/default/6872092458511711564'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5715123733357252427/posts/default/6872092458511711564'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://robitfirdaus.blogspot.com/2008/02/kyai-dan-pilgub-jatim.html' title='Kyai dan Pilgub Jatim'/><author><name>Robitul Firdaus</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15873571037972114090</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_dAbyJD8_VgQ/SJFTl1jwoNI/AAAAAAAAADU/KelUHDoWq8c/S220/Aku.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5715123733357252427.post-3360729590888404914</id><published>2008-02-22T13:29:00.000+07:00</published><updated>2008-02-25T11:56:30.378+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Robit Menjawab'/><title type='text'>Mahfudz MD; GOOD!!!!</title><content type='html'>Jawa pos hari ini merilis kalau Mahfudz MD beberapa kali menolak upaya orang luar untuk memaksanya melakukan suap. "Lebih baik saya ga jadi (hakim MK), dari pada melakukan itu (suap)", begitu kata Mahfudz.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada berapa &lt;em&gt;sih &lt;/em&gt;pejabat negara seperti Mahfudz? Pasti cukup mudah menghitungnya. Bukan karena orangnya mudah ditebak, tapi pasti karena orang seperti Mahfudz cukup sedikit. Saking parahnya, Negara ini sampai susah membedakan mana yang hadiah dan mana yang suap. Akhirnya sebagai usaha preventif, hadiah lebaran (parsel) pun dihukumi menjadi sesuatu yang haram diterima dan dikirim oleh pejabat negara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut saya, maraknya kasus korupsi atau suap semacam ini karena lemahnya penegakan hukum di Indonesia. Aturannya saya yakin sudah tersusun sangat rapi dan apik, tapi pelaksanaannya seringkali tidak sejalan dengan apa yang diharapkan. Pernah tidak Indonesia menghukum mati Koruptor? Jawabannya belum pernah. Bukan landasan hukumnya tidak ada, tapi karena proses hukum bagi para koruptor justru dilakukan oleh para koruptor juga. Nah, Jadi susah dan &lt;em&gt;mbulet&lt;/em&gt; kan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lembaga peradilan diduga saat ini menjadi sarang nyaman bagi para mafia peradilan yang statusnya sama saja dengan koruptor. Lalu mana mungkin ada hasil persidangan yang berjalan ideal dan adil? Bahkan terkadang, keluarga maling ayam yang tertangkap dan diadili masih tega juga untuk diperas. Jadi jangan heran kalau kalangan &lt;em&gt;The Have &lt;/em&gt;bisa santai-santai saja menghadapi kesalahan seberat apapun. Seolah-olah semuanya bisa diatur dengan rupiah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Toh pun kalangan &lt;em&gt;The Have &lt;/em&gt;ini tertangkap, kemudian masuk penjara, bukan berarti mereka sangat bersedih. Apa yang tidak bisa mereka beli di penjara. Asalkan punya banyak rupiah, penjara seolah menjadi rumah kedua bagi penjahat berduit ini. &lt;em&gt;Ya Allah maafkanlah dosa bangsamu ini&lt;/em&gt;. Amin.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5715123733357252427-3360729590888404914?l=robitfirdaus.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://robitfirdaus.blogspot.com/feeds/3360729590888404914/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://robitfirdaus.blogspot.com/2008/02/mahfudz-md-good.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5715123733357252427/posts/default/3360729590888404914'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5715123733357252427/posts/default/3360729590888404914'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://robitfirdaus.blogspot.com/2008/02/mahfudz-md-good.html' title='Mahfudz MD; GOOD!!!!'/><author><name>Robitul Firdaus</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15873571037972114090</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_dAbyJD8_VgQ/SJFTl1jwoNI/AAAAAAAAADU/KelUHDoWq8c/S220/Aku.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5715123733357252427.post-376891697230210727</id><published>2008-02-21T15:42:00.000+07:00</published><updated>2008-02-21T16:28:43.197+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Robit Menjawab'/><title type='text'>Heboh... Kartun Nabi Lagi</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Orang Denmark nih emang ada-ada saja. Sudah tahu kalau kartun Nabi itu menyakiti kaum Muslim, eh malah berani-beraninya ditayangin lagi. Apa nunggu kesabaran orang Islam hilang? "Pemuatan kartun itu merupakan penghinaan terhadap Nabi Muhammad Saw", begitu kata kelompok HTI yang berdemo di depan kedutaan besar Denmark, sebagaimana dirilis Jawa Pos.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Bagi saya, dalam dunia global seperti saat ini, akses informasi sudah tidak lagi mengenal batas. Bisa jadi kartun tersebut tidak terlalu bermasalah di Denmark, karena memang populasi muslimnya sedikit. Namun bukankah etika internasional juga harus dijaga? Dunia internasional dapat dengan mudah mengkonsumsi segala hal yang disajikan di belahan dunia manapun. Itu artinya, yang harus diperhitungkan bukan sekedar perasaan masyarakat Denmark, melainkan juga bagaimana respon masyarakat Internasional.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Bukankah kartun tersebut telah dikecam dunia internasional, terutama dunia Islam? Lalu pertanyaannya, atas dasar apa kartun itu dirilis ulang? Apa tujuan yang hendak diperjuangkan atau didapatkan?&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Kalau hanya untuk memproklamasikan kebebasan berekspresi dan kebebasan media, kan tidak harus yang berbau agama. Masih banyak jalan lain. Kecuali kalau memang sengaja berbuat demikian untuk menyerang kelompok Islam. Maka kita sebagai Muslim harus bersikap seperti Lebah, harus berani merespon dan menyerang bila disakiti. Wilayah agama menurut saya termasuk wilayah &lt;em&gt;private&lt;/em&gt;, sama seperti keluarga. Jadi kalau mengusik ketentraman keluarga di luar keluarga kita, sudah pasti akan jadi masalah. Misalnya anda menggambar monyet terus anda tulis nama Bapak teman atau tetangga Anda di atas gambar tersebut, sudah pasti yang bersangkutan akan marah. Sudah untung kalau anda tidak sampai kena bogem mentahnya.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Apalagi dalam konteks agama. So, Jangan diasumsikan Islam tidak menghargai kebebasan berekspresi dan berkarya. Setiap struktur masyarakat memiliki nilai-nilai tertinggi yang harus dihormati. Misalnya UUD di Indonesia. Begitu juga dengan nilai agama. Nabi Muhammad adalah simbol tertinggi nilai-nilai tuhan yang dapat digambarkan (begitu kata tasawwuf) dan dibahasakan serta dicontoh. Jadi ya jangan coba-coba menyalahgunakan! Alasan larangan menjelekkan foto Presiden, ya juga karena itu. Presiden adalah Lambang Negara. Penghinaan terhadap Presiden berarti penghinaan terhadap Negara.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Saya yakin konsep seperti ini juga digunakan oleh negara paling sekuler sekalipun! Jadi tidak ada celah sedikit pun menurut saya untuk membolehkan pemuatan kartun penghinaan terhadap Nabi Muhammad Saw. Aku Mendukungmu HTI (dalam hal ini)!   &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5715123733357252427-376891697230210727?l=robitfirdaus.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://robitfirdaus.blogspot.com/feeds/376891697230210727/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://robitfirdaus.blogspot.com/2008/02/heboh-kartun-nabi-lagi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5715123733357252427/posts/default/376891697230210727'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5715123733357252427/posts/default/376891697230210727'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://robitfirdaus.blogspot.com/2008/02/heboh-kartun-nabi-lagi.html' title='Heboh... Kartun Nabi Lagi'/><author><name>Robitul Firdaus</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15873571037972114090</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_dAbyJD8_VgQ/SJFTl1jwoNI/AAAAAAAAADU/KelUHDoWq8c/S220/Aku.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5715123733357252427.post-1500363166515101665</id><published>2008-02-20T12:43:00.000+07:00</published><updated>2008-02-20T15:57:03.416+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Robit Menjawab'/><title type='text'>Oh... LAPINDO</title><content type='html'>DPR terbelah dua menanggapi kasus Lapindo. Badan Penanggulangan Lumpur Sidoarjo (BPLS) menyimpulkan -setelah melakukan berbagai pengamatan- bahwa bencana Lapindo murni faktor alam. Temuan tim bentukan DPR ini ternyata tidak diamini semua anggota DPR. Sebagian anggota parlemen menganggap semburan lumpur, tidak sekedar sebagai bencana alam, tapi juga ada campur tangan kesalahan Lapindo di dalamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesimpulan BPLS ini tentu akan sangat berpengaruh terhadap nasib ribuan rakyat di sekitar Lapindo. Sebagian mereka memperjuangkan nasibnya melalui jalur hukum. Sebagian lain, memilih untuk memberi &lt;em&gt;support&lt;/em&gt; terhadap upaya hukum dengan jalan berdemo. Nasibnya pun sama. Semua usaha tersebut belum juga melahirkan kebijakan pemerintah yang dapat menenangkan rakyat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejatinya kompensasi yang telah diterima rakyat secara bertahap 20 persen di awal dan 80 persen setahun berikutnya, dapat sedikit membuat rakyat lega. Persoalannya, dampak semburan lumpur ini tak semudah itu terselesaikan. Pertama, perpindahan pendudukan korban lumpur ke tempat yang baru tentu akan melahirkan dampak sosial baru, baik berupa pengangguran ataupun kesenjangan sosial. Kedua, Penduduk tersebut selama ini biasa menggantungkan hidupnya pada bantuan orang lain. Ini bisa berakibat buruk pada perkembangan etos kerja mereka selanjutnya. Ketiga, pemerintah masih belum mampu menghentikan luapan lumpur, sehingga korban-korban berikutnya tinggal menunggu waktu saja. Korban "baru" ini yang tidak teridentifikasi untuk mendapat hak kompensasi kemudian juga merasa berhak atas kompensasi dari Lapindo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persoalan-persoalan ini tentu urgen untuk segera diselesaikan. Jangan hanya terpaku pada perdebatan, apakah ini bencana atau human error. Ada banyak problem yang harus segera dipikirkan oleh pemerintah dari sekedar memperdebatkan status hukumnya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5715123733357252427-1500363166515101665?l=robitfirdaus.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://robitfirdaus.blogspot.com/feeds/1500363166515101665/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://robitfirdaus.blogspot.com/2008/02/oh-lapindo.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5715123733357252427/posts/default/1500363166515101665'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5715123733357252427/posts/default/1500363166515101665'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://robitfirdaus.blogspot.com/2008/02/oh-lapindo.html' title='Oh... LAPINDO'/><author><name>Robitul Firdaus</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15873571037972114090</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_dAbyJD8_VgQ/SJFTl1jwoNI/AAAAAAAAADU/KelUHDoWq8c/S220/Aku.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5715123733357252427.post-4786467776587920763</id><published>2008-02-19T15:12:00.000+07:00</published><updated>2008-02-20T10:16:50.689+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Robit Menjawab'/><title type='text'>PARTAI ISLAM KO!</title><content type='html'>"Bohong itu kalau umat Islam tidak akan memilih partai Islam", begitu kata Suryadharma Ali. Pernyataan itu disampaikan Suryadharma menanggapi usaha sebuah kelompok yang berusaha menggiring opini publik untuk menyatakan partai Islam tidak akan dipilih oleh masyarakat Islam. Menurut saya, baik Suryadharma maupun "kelompok" yang dimaksud ada benar, tapi juga ada salahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pilihan partai adalah hak preogratif individu. Pemaksaan atau pencabutan terhadap hak ini, tentu bertentangan dengan demokrasi. Masing-masing &lt;em&gt;person&lt;/em&gt; memiliki hak kepada siapa ia akan melabuhkan pilihannya. Yang justru menarik dari fakta ini adalah, "mengapa umat Islam justru tidak memilih partai Islam?". Buktinya, posisi dua partai besar pemenang pemilu selalu ditempati partai nasionalis. Padahal mayoritas pemilih beragama Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemungkinannya bisa beragam. Tapi yang pasti, bila kemudian partai Islam berhasil meyakinkan masyarakat bahwa mereka benar-benar berjuang demi rakyat. Saya yakin rakyat akan meresponnya dengan baik. Hanya saja, masyarakat belum mendapatkan kepastian itu. Selama partai Islam cuma "dodolan" agama, ya sampai kapanpun mereka akan terus berada di bawah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"BERJUANG DEMI RAKYAT, OTOMATIS JUGA BERJUANG DEMI AGAMA. TAPI, BERJUANG ATAS NAMA AGAMA, ITU SAMA HALNYA DENGAN MENJUAL AGAMA" [Robitul Firdaus]&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5715123733357252427-4786467776587920763?l=robitfirdaus.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://robitfirdaus.blogspot.com/feeds/4786467776587920763/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://robitfirdaus.blogspot.com/2008/02/bohong-itu-kalau-umat-islam-tidak-akan.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5715123733357252427/posts/default/4786467776587920763'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5715123733357252427/posts/default/4786467776587920763'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://robitfirdaus.blogspot.com/2008/02/bohong-itu-kalau-umat-islam-tidak-akan.html' title='PARTAI ISLAM KO!'/><author><name>Robitul Firdaus</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15873571037972114090</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_dAbyJD8_VgQ/SJFTl1jwoNI/AAAAAAAAADU/KelUHDoWq8c/S220/Aku.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5715123733357252427.post-4055067343723443219</id><published>2008-02-18T12:21:00.000+07:00</published><updated>2008-02-20T10:20:06.186+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Robit Menjawab'/><title type='text'>GUSDUR DAN PILPRES 2009</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Banyak kalangan berkomentar bahwa Gusdur masih akan mencoba peruntungannya dalam pemilu 2009. Gusdur sendiri ketika ditanya mengenai hal itu, jawabnya pasti “tergantung perintah dari para kyai”.&lt;br /&gt;Dalam tradisi NU, kyai memang tempat banyak orang untuk meminta saran (istifta’). Namun, bukankah Gusdur juga seorang kyai? “perintah kyai” yang dimaksud Gusdur bisa jadi justru kemauan Gusdur itu sendiri. Artinya, ya kapan Gusdur mau, dia pasti maju. Kalau tidak mau, ya dipaksa kyai se-Indonesia juga belum tentu Ia mau.&lt;br /&gt;Dalam ranah tasawwuf, kyai sebagai tempat kita meminta saran dan masukan memiliki fungsi yang sama dengan hati. Dalam bahasa yang lebih jelas disebutkan, “Istafti qolbaka” (mintalah saran pada hatimu). Itu berarti “kyai” yang dimaksud Gusdur bisa diartikan hati nurani yang ada dalam dirinya. Karena, memang “bersua” dengan Tuhan hanya bisa dilakukan melalui dimensi ini. Apa yang Tuhan anggap baik pada kita, sebenarnya telah diinformasikan kepada kita melalui hati, hanya saja kemampuan menangkap maksud Tuhan seringkali tidak bisa dilakukan dengan baik oleh semua makhluk-Nya.&lt;br /&gt;Dunia politik tentu tidak menerima logika tersebut. Secara politik, hati nurani yang dimaksud juga akan sangat ditentukan oleh hitungan matematis menang-kalah, untung atau rugi. Itu artinya, Gusdur sudah pasti berhitung dulu sebelum maju. Hitungannya bisa jadi politik praktis, tapi bisa juga politic values.&lt;br /&gt;Gusdur bukan tidak sadar, kalau peluangnya untuk sekali lagi menjadi Presiden sangat kecil. Namun, bisa jadi tujuannya bukan kemenangan dalam defenisi politik praktis. Melainkan jauh di atas itu. Gusdur ingin mengadakan pendidikan politik. Itu yang saya maksud dengan politic values. Gusdur bisa jadi sekedar memberikan pelajaran demokrasi yang seharusnya berjalan di Negeri ini. Dan dalam pandangan saya, pengajaran Gusdur cukup berhasil. Satu torehan sejarah yang tidak akan pernah dilupakan orang adalah keberaniannya menghapus diskriminasi etnis Tionghoa. TOLAK DISKRIMINASI!!!!! Itu yang menurut saya terus lantang Gusdur suarakan dalam perjuangannya. [Robit Firdaus]&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5715123733357252427-4055067343723443219?l=robitfirdaus.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://robitfirdaus.blogspot.com/feeds/4055067343723443219/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://robitfirdaus.blogspot.com/2008/02/gusdur-dan-pilpres-2009.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5715123733357252427/posts/default/4055067343723443219'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5715123733357252427/posts/default/4055067343723443219'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://robitfirdaus.blogspot.com/2008/02/gusdur-dan-pilpres-2009.html' title='GUSDUR DAN PILPRES 2009'/><author><name>Robitul Firdaus</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15873571037972114090</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_dAbyJD8_VgQ/SJFTl1jwoNI/AAAAAAAAADU/KelUHDoWq8c/S220/Aku.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5715123733357252427.post-4949094753957553657</id><published>2008-02-12T14:17:00.000+07:00</published><updated>2008-02-18T13:06:02.061+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Curhat'/><title type='text'>AYOOOO SIAPA MAU PANDAI???</title><content type='html'>"Bila kepandaian menjadi penyebab jauhnya seseorang dari Allah, maka menjadi manusia lugu merupakan alternatif terbaik" begitu kata cak Kuswaidi dalam kajian tasawwuf di PP UII (17/2). Menjadi orang pandai memang seringkali tidak mengenakkan. Karena, secara otomatis hukum alam menyebutkan bahwa orang pandai akan selalu menjadi tempat bergantung orang bodoh. Kalau bahasa film Spiderman mengurainya dengan kalimat, "Seseorang dengan kekuatan besar memiliki tanggung jawab yang besar pula".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nikmat pandai menurut saya sama sekali tidak dimaksudkan Allah untuk kepentingan sendiri. Buktinya orang gila saja bisa mencukupi kebutuhan mereka sehari-hari. Beda pandai dengan gila terletak pada kemampuan berbuat untuk orang lain. Itulah mengapa orang lugu justru banyak yang selamat. Kaum lugu dengan nikmat "terbatas" yang diberikan Allah pada mereka tidak terlampau memiliki tanggung jawab. Sedangkan kaum pandai tanggung jawabnya berjubel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanggung jawab kaum pandai sebenarnya untuk "menyelamatkan" kaum dengan "nikmat terbatas" tadi. Pun&lt;em&gt; &lt;/em&gt;melaksanakan tanggung jawab tersebut, kaum pandai masih juga belum tentu langsung selamat. Kalau mengarahkannya sesuai dengan "kebenaran", mungkin selamat. Nah, kalau salah, sudah pasti lagi-lagi kaum pandai terkena getahnya. Ah..... Susah bener jadi orang pandai!!! (he.. he..)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5715123733357252427-4949094753957553657?l=robitfirdaus.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://robitfirdaus.blogspot.com/feeds/4949094753957553657/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://robitfirdaus.blogspot.com/2008/02/konsep-zuhud-dalam-al-quran-secara.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5715123733357252427/posts/default/4949094753957553657'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5715123733357252427/posts/default/4949094753957553657'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://robitfirdaus.blogspot.com/2008/02/konsep-zuhud-dalam-al-quran-secara.html' title='AYOOOO SIAPA MAU PANDAI???'/><author><name>Robitul Firdaus</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15873571037972114090</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_dAbyJD8_VgQ/SJFTl1jwoNI/AAAAAAAAADU/KelUHDoWq8c/S220/Aku.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5715123733357252427.post-9157304298716246712</id><published>2008-02-12T12:43:00.000+07:00</published><updated>2008-02-18T14:36:18.062+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Buletin'/><title type='text'>MERAYAKAN VALENTINE ALA ISLAM</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;Dari Valentine Ke &lt;em&gt;Yaum al-Rahmah&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;            Tampaknya dalam tulisan ini, saya tidak perlu lagi menjelaskan apa dan bagaimana sejarah valentine. Pembaca sekalian sudah hampir pasti pernah mendapatkannya dari suguhan penulis lain. Versinya bisa beragam, namun pada umumnya mayoritas penulis, terutama yang muslim, mengidentikkan hari valentine dengan budaya barat. Tidak salah memang bila kita melihat suatu budaya berangkat dari mana kebudayaan tersebut muncul dan berkembang. Persoalannya adalah, apakah semua yang dari Barat pasti identik dengan keburukan? Saya yakin semua akan menjawab tidak. Buktinya kita begitu nyaman menggunakan banyak produk barat dalam kehidupan sehari-hari kita, termasuk saya dalam penulisan artikel ini.&lt;br /&gt;            Melalui media ini, sebenarnya saya ingin menyampaikan bahwa yang Islami itu tidak hanya bisa ada di Jazirah Arab atau Indonesia dengan populasi muslim terbesar. Dalam banyak hal kita harus mengakui bahwa Barat lebih bisa mengaplikasikan ”nilai-nilai Islam” dari pada kita. Permasalahan mendapat pahala atau tidak, itu sudah bukan wilayah kita lagi untuk menjawab. Yang pasti saya yakin kita sepakat dengan ungkapan yang sering dikutip Tukul, ”don’t judge a book by it’s cover” (jangan lihat tampang luarnya saja). Saya bukan beranggapan sampul tidak penting, tapi maksudnya ada yang lebih berharga untuk dianalisis dari sekedar memperdebatkan baju luarnya.&lt;br /&gt;            Tidak ada yang menyangkal bahwa Islam adalah agama kasih sayang. Ajaran untuk mengasihi sesama makhluk Allah bisa dengan mudah kita dapatkan dalam al-Quran maupun al-Sunnah. Tapi mengapa kita tidak bisa mengejawantahkannya dengan maksimal? Setiap pribadi pasti memiliki jawaban masing-masing. Saya sempat berpikir kenapa kita tidak menjadikan valentine ini sebagai peringatan hari ’kasih sayang’ dalam makna yang positif. Kalapun toh para pembaca sekalian tidak sepakat dengan istilah valentine, ya kita ganti saja dengan nama ’yaum al-rahmah’ (hari kasing sayang). Pemikiran saya ini tentu akan melahirkan beberapa pertanyaan dan keraguan.&lt;br /&gt;            Pertama, Islam tidak pernah membatasi waktu untuk berbagi kasih sayang dengan sesama, lalu mengapa seolah-olah ada waktu yang spesial? Yang saya maksud bukan demikian. Hari-hari spesial dalam Islam sudah ditentukan oleh nash. Jawaban pertanyaan itu akan saya jawab dengan pertanyaan serupa. Islam mewajibkan kita untuk menghormati seorang Ibu tanpa membatasi waktu, lalu mengapa ada hari Ibu? Apakah itu berarti hormat kepada Ibu hanya dianjurkan saat hari Ibu saja? Jawabannya sama saja. Media adanya peringatan tersebut hanyalah sebagai ajang mengingatkan kembali dan memperkuat ajaran Islam yang seharusnya bisa dipraktekkan kaum Muslim.&lt;br /&gt;            Kedua, bukankah valentine identik dengan budaya maksiat? Jawaban saya ya. Pertunjukan wayang dan gamelan pada masa awal Islam di Indonesia juga identik dengan budaya non-Islam. Tapi, justru dari modal itu dakwah Sunan kalijaga banyak berhasil menaklukkan hati masyarakat. Maksud saya adalah mengapa pada tanggal 14 Februari kita tidak berjihad melawan budaya Barat yang penuh maksiat dengan pedang budaya Islam. Bila sebagian orang pada hari itu sibuk mencari hadiah buat lawan jenis sebagai langkah dan modal awal berbuat maksiat, mengapa kita tidak menandinginya dengan sibuk mencari hadiah untuk di bawa ke panti-panti asuhan, fakir miskin, dan orang-orang yang membutuhkan lainnya. Dengan demikian, akan terjadi pertarungan dua kebiasaan yang bertolak belakang pada saat itu. Siapa pemenangnya? Itu semua kembali pada usaha para pembaca yang budiman. Satu hal yang pasti, siapa yang lebih bersemangat, maka dialah pemenangnya.&lt;br /&gt;            Ketiga, mengapa saya menggantinya dengan istilah ’yaum al-rahmah’? jawabannya tentu karena sebagian orang Islam di Indonesia lebih nyaman dengan istilah arab. Kemudian, kata rahmah sendiri identik dengan perbuatan baik pada semua manusia, tanpa membeda-bedakan jenis agama yang dianut. Begitu yang diyakini Ibnu Abbas ketika menafsirkan ayat “Dan tiadalah kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam” (QS. al-Anbiya’: 107). Itu berarti peringatan hari kasih sayang ini lebih bersifat universal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Perang Ideologi&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;            Saat ini Islam lebih banyak dipersepsikan sebagai agama yang keras dan kaku. Islam dinilai jarang bisa beradaptasi dengan perkembangan zaman yang terus berlangsung. Persepsi dan penilaian seperti ini tidak hanya bersumber dari kalangan non-Islam, saudara-saudara muslim tidak sedikit yang memiliki pandangan serupa. Orang yang mengadakan perayaan bertepatan dengan hari valentine dicap mengamalkan perbuatan kafir. Semuanya selalu dikait-kaitkan dengan sejarah valentine itu sendiri.&lt;br /&gt;            Semestinya memang budaya yang berasal dari manapun sesuai dengan amanah surat al-Hujurat ayat 6 haruslah diteliti terlebih dahulu. Apakah substansi amalannya sesuai dengan Islam. Idul Fitri adalah hari raya yang bersumber dari Islam, tapi apakah semua perayaan atas nama Idul Fitri bisa dibenarkan dalam Islam? Bagaimana dengan yang merayakannya di pantai-pantai bersama lawan jenis lalu berbuat maksiat?&lt;br /&gt;            “Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” [Al-Hujurat: 6].&lt;br /&gt;            Telah banyak analisis menyatakan bahwa ideologi Barat berhasil menjalar masuk ke wilayah pemikiran Islam. Menjamurnya paham liberalisme, pluralisme, sekulerisme, dan isme-isme kebarat-baratan lainnya di dunia Islam ditengarai sebagai wujud nyata dari hal itu. Sayangnya, menurut saya menanggapi fenomena ini umat Islam saat ini lebih banyak berlaku defense (bertahan). Isme-isme tersebut hanya dilawan dengan dalil-dalil dan logika Islam. Untuk membentengi mungkin berhasil, tapi untuk maju tentu akan sangat susah.&lt;br /&gt;            Lalu apa yang harus dilakukan? Menurut saya, sudah saatnya perilaku defense yang sudah dilakukan saat ini harus dibarengi dengan paradigma offense (menyerang). Artinya, bentuk perlawanan kita harus semakin ditingkatkan. Bila peperangan ideologi biasanya banyak bermain dalam wilayah teoritis, maka sudah saatnya meningkat pada dataran praktis.&lt;br /&gt;            Maksud saya, jangan hanya kita bisa berkata bahwa budaya valentine itu tidak Islami dengan memaparkan keburukan perayaannya. Tapi, kita juga harus bisa menunjukkan bagaimana perayaan valentine yang Islami. Perubahan gradual (tadrijy) yang demikian ini diharapkan juga lebih bisa diterima masyarakat Indonesia yang majemuk. Untuk menghilangkan budaya valentine secara total dengan memfatwakannya sebagai acara yang diharamkan tentu tidak produktif dilakukan. Apalagi bila kemudian terjadi kekerasan akibat fatwa haram tersebut. Sudah pasti bukan itu yang kita inginkan.&lt;br /&gt;           Pada dasarnya, hampir pasti dikatakan tidak ada yang menolak upaya untuk mengingatkan kembali pentingnya kasih sayang antar manusia. Bahkan melalui media valentine sekalipun. Hanya saja, mungkin contentnya yang perlu dibicarakan ulang. Mengingat kebiasaan yang sudah berjalan pada acara valentine memang identik dengan kegiatan negatif (maksiat). Itulah kebiasaan yang harus kita rubah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Epilog&lt;/strong&gt;            &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Seorang istri atau suami yang telah lama menikah mungkin sudah rindu ungkapan kasih sayang dari pasangannya. Fakir miskin dan anak yatim piatu bisa jadi bosan menunggu uluran tangan kita hingga ramadlan atau idul fitri tiba. Bahkan, tetangga kita bisa jadi kembali kelaparan setelah lama ditinggal Idul Adha. Kenapa valentine ini tidak dijadikan ajang untuk mengingatkan kita semua bahwa ada banyak orang yang merindukan uluran kasih sayang yang kita miliki? Mari kita tebarkan kasih sayang ini kepada sebanyak-banyak kaum dluafa’ dan orang-orang lain yang membutuhkan. &lt;em&gt;Wallahu a’lam bi al-showab.&lt;/em&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_dAbyJD8_VgQ/R7E91xXirLI/AAAAAAAAABE/iJ8EZcPLiTc/s1600-h/JIL_Aminah_Wadud-b2.jpg"&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5715123733357252427-9157304298716246712?l=robitfirdaus.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://robitfirdaus.blogspot.com/feeds/9157304298716246712/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://robitfirdaus.blogspot.com/2008/02/mengkaji-tafsir-feminis-ala-amina-wadud.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5715123733357252427/posts/default/9157304298716246712'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5715123733357252427/posts/default/9157304298716246712'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://robitfirdaus.blogspot.com/2008/02/mengkaji-tafsir-feminis-ala-amina-wadud.html' title='MERAYAKAN VALENTINE ALA ISLAM'/><author><name>Robitul Firdaus</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15873571037972114090</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_dAbyJD8_VgQ/SJFTl1jwoNI/AAAAAAAAADU/KelUHDoWq8c/S220/Aku.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5715123733357252427.post-8142942130083979390</id><published>2008-02-12T12:02:00.000+07:00</published><updated>2008-02-18T13:11:24.040+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tasawwuf'/><title type='text'>KUTEMUKAN KEAGUNGAN-MU DALAM SETIAP KEINDAHAN-MU</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_dAbyJD8_VgQ/R7FFkBXirMI/AAAAAAAAABM/fa_bV_hYGJI/s1600-h/icon_JIL1.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5165986732715453634" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_dAbyJD8_VgQ/R7FFkBXirMI/AAAAAAAAABM/fa_bV_hYGJI/s200/icon_JIL1.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;em&gt;Karena keagungan-Mu yang benar-benar agung&lt;br /&gt;Engkau menjadi dzat yang Maha Indah&lt;br /&gt;Dan karena keindahan-Mu yang benar-benar indah&lt;br /&gt;Engkau menjadi dzat yang Maha Agung&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;(Robit El Firdaus)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#3366ff;"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;اللهم اسألك التوفيق لمحابك من الاعمال وصدق التوكل عليك وحسن الظن بك والغنية عمن سواك . الهى يا لطيف يا رزاق يا ودود يا قوي يا متين اسألك تألها بك واسترزاقا فيك ولطفا شاملا من لدنك ورزقا واسعا هنيئا مريئا و سنا طويلا وعملا صالحا فى الايمان واليقين . وملازمة فى الحق والدين . وعزا وشرفا يبقى ويتأبد لا يشوبه تكبر ولا عتو ولا فساد انك سميع قريب &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#3366ff;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;نقل من دعـاء سيدنا الفقيه المقدم&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;محمد ابن على باعلوى&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5715123733357252427-8142942130083979390?l=robitfirdaus.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://robitfirdaus.blogspot.com/feeds/8142942130083979390/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://robitfirdaus.blogspot.com/2008/02/kutemukan-keagungan-mu-dalam-setiap.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5715123733357252427/posts/default/8142942130083979390'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5715123733357252427/posts/default/8142942130083979390'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://robitfirdaus.blogspot.com/2008/02/kutemukan-keagungan-mu-dalam-setiap.html' title='KUTEMUKAN KEAGUNGAN-MU DALAM SETIAP KEINDAHAN-MU'/><author><name>Robitul Firdaus</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15873571037972114090</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_dAbyJD8_VgQ/SJFTl1jwoNI/AAAAAAAAADU/KelUHDoWq8c/S220/Aku.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_dAbyJD8_VgQ/R7FFkBXirMI/AAAAAAAAABM/fa_bV_hYGJI/s72-c/icon_JIL1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5715123733357252427.post-8400328794449819106</id><published>2008-02-11T10:18:00.000+07:00</published><updated>2008-02-11T15:21:53.973+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tafakkur'/><title type='text'>SUNNI-SYIAH, AYO BERSATU!</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_dAbyJD8_VgQ/R6_ZbhXirGI/AAAAAAAAAAY/JrLetiTbH_4/s1600-h/iran_Prodemo-1.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5165586364454055010" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 154px; CURSOR: hand; HEIGHT: 147px" height="295" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_dAbyJD8_VgQ/R6_ZbhXirGI/AAAAAAAAAAY/JrLetiTbH_4/s400/iran_Prodemo-1.jpg" width="210" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Sesungguhnya Abu Hanifah adalah Syi’ah dalam kecendrungan dan pendapatnya tentang penguasa di zamannya. Yakni, Ia melihat bahwa khalifah haruslah diserahkan pada keturunan Ali dan Fatimah; dan bahwa para khalifah yang sezaman dengan mereka telah merampas haknya dan karena itu mereka zalim.&lt;br /&gt;(Abu Zahrah)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekiranya mencintai keluarga Rasul itu Syi'ah, biarlah seluruh jin dan manusia tahu bahwa aku Syi'ah&lt;br /&gt;(Imam Syafi’i)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Membaca Pertarungan ‘Abadi’ dalam Sejarah&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Perjalanan sejarah umat Islam mencatat bahwa gerakan Syiah dan Sunni telah memberikan kontribusi yang besar bagi perkembangan pemikiran Islam. Kedua golongan ini telah dapat memainkan peranan yang cukup besar dalam panggung sejarah Muslim. Bahkan kedua golongan ini bisa disebut memiliki andil yang besar ketika Islam mencapai masa kejayaannya (the golden age). Persoalannya baru muncul, manakala sejarah juga mencatat bahwa pertikaian dan pertentangan kedua golongan ini tampak “abadi” dan seolah-olah dilakukan secara turun temurun. Artinya, bahwa perubahan yang diciptakan kedua golongan ini di satu sisi menghadirkan warna baru bagi perkembangan pemikiran Islam, sedang di sisi lain juga merupakan racun yang mendatangkan malapetaka bagi integritas yang telah diraih umat Islam.&lt;br /&gt;Doktrin kepemimpinan (imamah), keadilan sahabat (‘adalah as-sahabat), dan madzhab fiqih adalah beberapa contoh di antara sekian banyak persoalan yang sering membenturkan Sunni-Syiah. Banyak sekali tokoh-tokoh hebat dari kedua golongan yang syahid karena doktrin-doktrin tersebut. Imam Syafi’i dalam satu riwayat disebutkan pernah diseret dari Hijaz ke Syiria dalam belenggu besi hanya karena ia dicurigai syiah. Abu Hanifah pernah dipenjara dan disiksa oleh Manshur Dawaniqi dan Ahmad bin Hanbal juga pernah dicambuk olehnya. Imam Shadiq bahkan setelah disiksa dengan keji, dibunuh dengan racun.&lt;br /&gt;Perkembangan Sunni dan Syiah dalam sejarahnya memang sangat dipengaruhi oleh kekuatan pemerintah yang berkuasa. Sunni memang sering kali dianggap kelompok yang paling dominan memanfaatkan peluang kekuasaan. Banyak ulama Syiah yang diklaim syahid di tangan penguasa Sunni. Padahal penguasa Syiah dalam sejarahnya juga pernah tercatat melakukan pembunuhan terhadap kelompok non-Syiah. Politik memungkinkan semua hal untuk terjadi. Meski kental aroma politiknya, namun perbedaan doktrin ’ideologi’ yang memang sudah terbangun dengan sangat kuat semakin membuat pertarungan dua golongan ini semakin sulit untuk dihentikan, tidak terkecuali pada realitas dewasa ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Sunni-Syiah Bersatu; Menatap Politik Islam Masa Depan&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Meski Syiah dalam sejarah sering kali menjadi kelompok yang tersudutkan dan menjadi musuh penguasa, namun sejarah juga mencatat bahwa kaum Syiah juga pernah berkuasa secara mantap dan gemilang sekurang-kurangnya pada dua dinasti. Pertama dinasti Fatimiyyah di Mesir yang mendirikan kota Kairo dan masjid universitas Al-Azhar, dan kedua dinasti Shafawiyah di Iran dengan ibu kota Isfahan, konon kota paling indah di muka bumi, yang ikut membuat Iran yang semula Sunni menjadi Syi’i. belum lagi kemenangan revolusi kaum Syiah di Iran yang menurut almarhum Nurcholis Madjid (1989) merupakan titik balik perkembangan Islam di dunia, yaitu dengan dirasakannya secara nyata kehadiran syi’isme dalam dunia politik Islam.&lt;br /&gt;Kembali eksisnya Syiah di panggung politik ternyata cukup berdampak negatif dalam dunia politik Islam. Negara-negara di timur tengah khususnya, yang mayoritas berpaham Sunni, tampak belum bisa menerima kehadiran mereka secara penuh. Akhirnya, hubungan tidak harmonis antar negara-negara di timur tengah menjadi akibat yang tidak lagi bisa dielakkan. Hubungan Iran dan Irak, Iran dan Arab Saudi, adalah contoh perpecahan tersebut. Platform tauhid seolah tidak mampu menengahi pertikaian yang didasari pada perbedaan paham ini.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Idealnya perbedaan ideologi Sunni-Syiah adalah satu hal yang harus dipandang secara proporsional dan dewasa. Masing-masing golongan harus belajar saling menerima eksistensi kelompok yang lain. Dalam ranah politik, hendaknya kedua golongan ini juga belajar melepaskan diri dari ‘catatan kelam’ politik masa lalu. Tujuannya untuk memperkuat politik Islam menghadapi hegemoni barat dalam dunia politik internasional. Harus diakui, bahwa merealisasikan hal ini tidaklah mudah, mengingat memang sulit untuk melakukan pembicaraan secara terpisah antara teori politik dan doktrin ideologi dalam kajian sejarah pemikiran Islam. Namun, setidaknya dua golongan ini memiliki satu kesamaan politik yang ingin diwujudkan dan bisa menjadi alat pemersatu, yaitu melepaskan diri dari bayang-bayang politik barat (baca: non-Islam).&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Bila salah satu penyebab lahirnya Syiah dan pertentangannya dengan Sunni adalah faktor politik, setidaknya demikian yang diisyaratkan oleh Nouruzzaman Shiddiqi (1985), maka mengapa Sunni-Syiah tidak mencoba bersatu melalui politik. Apalagi dalam pembicaraan politik, banyak sekali perbedaan-perbedaan yang bisa dikompromikan. Usaha yang dilakukan oleh presiden Iran Ahmadinejad misalnya, dengan politik anti-Amerika terbukti banyak mendapatkan simpati dari negara Islam dan tokoh-tokoh yang berpaham Sunni. Maka bukan tidak mungkin, bila persatuan Sunni-Syiah yang saat ini sulit terwujud justru disebabkan kekahawatiran dunia barat (baca: Amerika Cs.) terhadap kekuatan politik ini. Sehingga persatuan Sunni-Syiah menjadi agenda yang mereka anggap harus digagalkan. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Oleh karenanya, persatuan kaum muslim di bawah platform tauhid adalah satu hal yang melebihi semua kepentingan dan harus menjadi cita-cita bersama. “muslim yang satu dengan muslim yang lain bagaikan satu bangunan yang saling menguatkan antara sebagian mereka dengan sebagian yang lain”. Akhirnya, mengutip Dr. O Hashem, dalam sebuah buku pembelaannya terhadap kaum syiah, Ia berkata, “Bila dalam sepuluh hal kita berbeda dalam tiga hal, mengapa kita tidak mencoba berjalan bersama-sama di atas tujuh hal yang lain?”. Wallahu A’lam bi ash-Showab. [kang_obit]&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Yogyakarta, Januari 2008&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5715123733357252427-8400328794449819106?l=robitfirdaus.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://robitfirdaus.blogspot.com/feeds/8400328794449819106/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://robitfirdaus.blogspot.com/2008/02/sunni-syiah-ayo-bersatu.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5715123733357252427/posts/default/8400328794449819106'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5715123733357252427/posts/default/8400328794449819106'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://robitfirdaus.blogspot.com/2008/02/sunni-syiah-ayo-bersatu.html' title='SUNNI-SYIAH, AYO BERSATU!'/><author><name>Robitul Firdaus</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15873571037972114090</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_dAbyJD8_VgQ/SJFTl1jwoNI/AAAAAAAAADU/KelUHDoWq8c/S220/Aku.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_dAbyJD8_VgQ/R6_ZbhXirGI/AAAAAAAAAAY/JrLetiTbH_4/s72-c/iran_Prodemo-1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5715123733357252427.post-5588119067506503420</id><published>2008-02-11T10:17:00.000+07:00</published><updated>2008-02-11T15:19:48.921+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tafakkur'/><title type='text'>SESAT VERSI MUI HANYA SETENGAH-SETENGAH</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_dAbyJD8_VgQ/R6_YWhXirFI/AAAAAAAAAAQ/jeP_L7gl35s/s1600-h/ahmadiyah-01.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5165585179043081298" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_dAbyJD8_VgQ/R6_YWhXirFI/AAAAAAAAAAQ/jeP_L7gl35s/s320/ahmadiyah-01.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Fatwa MUI menjadi obyek yang cukup terkenal dalam beberapa tahun terakhir. Ini tidak lepas dari fakta bahwa fatwa MUI sering menimbulkan persoalan. Satu diantaranya yang menyita perhatian adalah fatwa tentang Aliran Ahmadiyah. Fatwa ini dinilai tidak produktif oleh banyak kalangan. Meskipun fatwa ini telah dikeluarkan pada tahun 2005, namun kekerasan terhadap Ahmadiyah terus berlangsung hingga sekarang. Senang tidak senang menurut saya fatwa MUI tersebut cukup memberi kontribusi pada aksi-aksi anarkis terhadap kelompok Ahmadiyah.&lt;br /&gt;Pengingkaran terhadap kenabian Muhammad memang bisa menyebabkan seseorang dihukumi murtad dalam Islam. Begitu juga pengakuan adanya Rasul pasca Muhammad. Siapapun bila meyakini kedua hal tersebut layak dihukumi sesat. Hanya saja persoalannya, menurut saya MUI masih setengah-setengah dalam menerapkan konsep murtad sebagaimana ajaran Islam.&lt;br /&gt;Riddah (kemurtadan) dalam Islam tidak hanya terjadi pada orang Islam yang menolak atau merubah doktrin Islam yang bersifat qoth’iy (pasti), namun dia masih mengaku muslim. Kemurtadan juga bisa terjadi pada seseorang yang nyata-nyata keluar dari Islam dan berpindah agama. Itu juga kalau MUI masih mendasarkan ideologinya pada Islam. Lalu apakah Islam tidak mengenal kebebasan beragama?&lt;br /&gt;Islam tentu mengakui kebebasan beragama, hanya saja kebebasan beragama dalam Islam bersifat ibtidaiy (permulaan), dan tidak intiha’iy (diakhir). Artinya, seseorang pada awalnya dibebaskan untuk memilih agama yang ia yakini. Islam juga tidak memaksa umat agama lain untuk memeluk Islam. Pada tingkatan inilah, Islam mengakui kebebasan beragama. Setelah seseorang memeluk Islam, maka berarti ia telah mengikatkan dirinya pada Islam. Ia tidak lagi memiliki kebebasan untuk keluar Islam, termasuk mengingkari doktrin-doktrin umum dalam Islam. Seperti Muhammad sebagai nabi terakhir, kewajiban sholat, keesaan Allah dan lain sebagainya.&lt;br /&gt;MUI saya sebut setengah-setengah karena definisi sesat hanya MUI tujukan pada orang yang “menghina” Islam dengan mengacaukan doktrin utama dalam Islam. Sementara orang yang jelas-jelas keluar dari Islam sama sekali tidak direspon. Bahkan ada orang yang ngawur berkata, “kalau orang Ahmadiyah keluar dari Islam dan mengaku tidak muslim sih tidak apa-apa”. Itu kan namanya menyarankan orang untuk menjadi murtad. Jelas saja, orang Ahmadiyah tidak mau.&lt;br /&gt;Rumusan kebebasan beragama dalam Islam seperti yang saya utarakan berbeda dengan konsep HAM Barat. Article 18 The Universal Declaration of Human Rights menyatakan, “Everyone has the right to freedom of thought, conscience and religion; this right includes freedom to change his religion or belief, and freedom, either alone or in community with others and in public or private, to manifest his religion or belief in teaching, practice, worship and observance”. Bandingkan dengan aturan Islam dalam article 10 “Cairo Declaration on Human Rights in Islam” yang menyatakan: “Islam is the religion of true unspoiled nature. It is prohibited to exercise any form of pressure on man or to exploit his poverty or ignorance in order to force him to change his religion to another religion or to atheism.”&lt;br /&gt;Kecuali tunduk pada aturan HAM versi Barat, maka seharusnya MUI juga mengutuk orang Islam yang berpindah agama. Bahkan hukum pidana Islam menetapkan hukum bunuh bagi orang yang yang beralih agama (murtad). Tentu saya bukan menyarankan untuk menerapkan hukuman tersebut, karena ulama pun masih berbeda pendapat dalam penerapannya. Saya hanya ingin menunjukkan keseriusan Islam menyikapi kesucian ajaran-ajarannya. Bila diukur dari segi kualitas, kesesatan orang yang nyata-nyata keluar dari Islam tentu lebih besar dari pada orang Ahmadiyah.&lt;br /&gt;Indonesia sendiri, dalam pandangan saya tampaknya lebih condong kepada aturan HAM versi barat. Di sini saya tidak akan berdebat tentang posisi Indonesia sebagai sebuah Negara dalam kaca mata Islam. Saya hanya ingin mengembalikan MUI pada posisi yang seharusnya. Usaha preventif melalui pembinaan umat Islam tetap harus terus diutamakan. Namun, pemberian kecaman –seperti yang dilakukan pada Ahmadiyah- juga harus dilakukan. Hal ini penting untuk pemberian efek “special deterrence” (pencegahan khusus, agar pelakunya kapok dan bertaubat) dan “general deterrence” (pencegahan umum, agar masyarakat tidak ikut-ikutan).&lt;br /&gt;Kalaupun memang harus berlawanan dengan penguasa, menurut saya kebenaran Islam tetap harus disuarakan. Jangan setengah-setengah. Persoalan ditanggapi atau tidak oleh penguasa, itu sudah di luar kewajiban MUI. Bahkan kalau boleh saya mengutip Hasan Basri, ketua umum MUI ketiga, ia menyebutkan bahwa MUI hendaknya bertugas ”selaku penjaga agar jangan ada undang-undang di negeri ini yang bertentangan dengan ajaran Islam”.&lt;br /&gt;Buya Hamka, ketua pertama MUI telah mencontohkan keteguhannya pada ajaran Islam. Ia berani mundur dari jabatan ketua MUI karena keyakinannya mengharamkan perayaan natal bersama ditentang oleh pemerintah. Ia tidak mau tunduk pada penguasa bila bertentangan dengan ajaran Islam. Ia meniru keberanian Ibnu Taymiah dan ulama-ulama madzhab dalam berhadapan dengan penguasa. Sekarang, masih adakah penerus perjuangan Buya Hamka di MUI…………. [kang_obit]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yogyakarta, Februari 2008&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5715123733357252427-5588119067506503420?l=robitfirdaus.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://robitfirdaus.blogspot.com/feeds/5588119067506503420/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://robitfirdaus.blogspot.com/2008/02/sesat-versi-mui-hanya-setengah-setengah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5715123733357252427/posts/default/5588119067506503420'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5715123733357252427/posts/default/5588119067506503420'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://robitfirdaus.blogspot.com/2008/02/sesat-versi-mui-hanya-setengah-setengah.html' title='SESAT VERSI MUI HANYA SETENGAH-SETENGAH'/><author><name>Robitul Firdaus</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15873571037972114090</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_dAbyJD8_VgQ/SJFTl1jwoNI/AAAAAAAAADU/KelUHDoWq8c/S220/Aku.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_dAbyJD8_VgQ/R6_YWhXirFI/AAAAAAAAAAQ/jeP_L7gl35s/s72-c/ahmadiyah-01.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5715123733357252427.post-4965224568775126783</id><published>2008-02-11T10:13:00.000+07:00</published><updated>2008-02-12T14:17:03.799+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tafakkur'/><title type='text'>CORAK KEISLAMAN DI INDONESIA; MENGAMATI SEPAK TERJANG PEMBELA SYARIAH</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_dAbyJD8_VgQ/R7FH5xXirNI/AAAAAAAAABU/l6ngDWn0cBI/s1600-h/s_K7a01904_high_thumb.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5165989305400863954" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_dAbyJD8_VgQ/R7FH5xXirNI/AAAAAAAAABU/l6ngDWn0cBI/s200/s_K7a01904_high_thumb.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Dalam sebuah artikelnya “Religon and The Indonesian constitution; Recent Debate” (2005), Nadirsyah Hosen menganggap bahwa pendekatan Islam Substantif masih menjadi corak keislaman Indonesia. Kesimpulan tersebut Ia ambil setelah melihat fakta bahwa ternyata perjuangan memasukkan tujuh kata “berbau syariat formalistik” dalam konstitusi Indonesia menuai kegagalan. Tujuh kata yang berbunyi ‘dengan kewajiban menjalankan Syariat Islam bagi pemeluknya’ yang diusulkan partai-partai berbasis Islam diamasukkan dalam pasal 29 ditolak parlemen.&lt;br /&gt;Partai-partai seperti PPP, PBB, maupun PKS yang membawa misi tersebut menurut Hosen ingin menjadikan syariah sebagi satu-satunya sumber hukum di Indonesia (bagi umat Islam). Ini yang tidak masuk akal. Menurut Hosen, akan lebih bisa diterima kalau syariah hanya dijadikan salah satu sumber hukum Indonesia, layaknya hukum adat. Artinya bahwa hukum belanda, hukum adat, dan hukum Islam disejajarkan sebagai tiga komponen hukum Indonesia. Usulan yang lebih masuk akal ini pun juga masih belum tentu bisa diterima&lt;br /&gt;Sejauh hubungan Islam dan Negara, dalam pemahaman saya, ada tiga corak kelompok yang bersilang pendapat: pertama, kelompok yang beranggapan syariah Islam adalah agama yang syamil (mencakup semua hal) dan kamil (sempurna ajarannya). Kelompok ini meyakini bahwa Islam memiliki aturan baku yang lengkap untuk modal penyelenggaraan sebuah Negara. Aturan itu bisa dipahami langsung dari teks al-Quran ataupun sejarah kepemimpinan Rasulullah di Madinah yang mereka anggap sebagai representasi Negara Islam. Sehingga bagi kelompok ini tidak ada alasan untuk tidak menjadikan syariah Islam sebagai sau-satunya sumber hukum dalam pengelolaan Negara. Kelompok ini diantaranya didukung oleh pemikiran Abul a’la al-Maududi dan Hizbut Tahrir.&lt;br /&gt;Kedua, kelompok yang sama sekali ingin memisahkan peran agama dan Negara. Kelompok seperti ini biasa disbut dengan kelompok sekuler. Bagi mereka, kesepakatan penggunaan jenis konstitusi Negara harus disepakati oleh seluruh masyarakat. Kesepakatan itu juga harus terlepas dari pengaruh agama yang melekat pada diri masyarakat tersebut. Agar lebih obyektif, doktrin-dokrin agama harus dilepas dari pengambilan keputusan tentang mana yang baik dan mana yang tidak. Artinya doktrin Agama harus ditanggalkan dalam diskusi mengenai Negara. Pemikiran seperti ini menurut saya tidak jauh dari pemikiran Abdullahi Ahmad an-naim.&lt;br /&gt;Kelompok ketiga, kelompok Islam substantif. Kelompok ini meyakini Islam telah memiliki ajaran-ajaran pokok yang bisa diterapkan secara umum dalam sebuah Negara. Ajaran pokok ini berasal dari hasil induksi nash. Dalam istilah Islam liberal biasa dikenal dengan istilah nash umum atau nash non-verbal. Ajaran-ajaran tersebut seperti keadilan, kemerdekaan, persamaan hak, dan lain sebagainya. Kelompok ini yang menurut Hosen menjadi favorit di Indonesia.&lt;br /&gt;Setidaknya, kesimpulan yang diambil Hosen juga bisa dimaknai sebagai pemahamannya terhadap peran Islam dalam publik. Menurut saya, walaupun kemudian Islam melalui syariahnya tidak menjadi konstitusi Indonesia, namun bukan berarti Islam sama sekali tidak berperan dalam wilayah publik (public sphere). Justru disinilah menurut saya wilayah Islam bermain. Artinya selama dalam konstelasi politik elit, saya rasa benar kalau Islam sunstantif masih dominan. Itu menurut saya tidak lepas dari komposisi partai yang duduk di parlemen. Meski, mayoritas beragama Islam, namum umumnya mereka nasionalis, sehingga sangat beralasan kalau Islam substanif menjadi favorit.&lt;br /&gt;Yang menarik menurut saya adalah justru pertarungan kepentingan ‘syariah’ dan ‘non-syariah’ di tingkat daerah. Untuk wilayah ini,saya rasa kesimpulan dari Hosen bahwa Islam substanif menjadi favorit tampaknya tidak bisa digunakan. Fakta bahwa ‘syariah’ gagal masuk konstitusi Negara memang tidak bisa kita pungkiri. Sebaliknya, bahwa ‘syariah’ telah berhasil masuk dalam bentuk Perda juga sebuah fakta yang harus diterima, apapun alasannya. Inilah yang semakin memperkuat asumsi saya bahwa pada wilayah ruang publik, ‘syariah’ masih punya cukup tenaga untuk bersuara lantang.&lt;br /&gt;Ini juga membuktikan bahwa perjuangan memasukkan ‘syariah’ formalistik dalam konstitusi sebagaimana dilakukan oleh PKS Cs memiliki basis dukungan dari bawah. Salah kalau orang beranggapan keinginan untuk memperjuangkan syariah bersumber dari segelintir orang yang elitis saja. Lalu bukankah kekuasan pembuatan Perda berada di tangan Bupati atau DPRD setempat (kaum elit)? Jawabannya benar. Namun, bukankah mereka juga dipilih rakyat? Artinya,kita juga tidak bisa memungkiri mereka sebagai representasi dari rakyat. Dan yang penting menurut saya, secara logika dapat dikatakan bahwa tingkat representasi rakyat di tingkat daerah jauh lebih besar dari pada yang ada di parlemen pusat.&lt;br /&gt;Sejauh perubahan terhadap konstiusi juga dilakukan dengan konsitusional, saya rasa itu cukup fair untuk dilakukan. Kalaupun ada yang salah dengan peraturan undang-undang, bukankah kita punya Mahkamah Konstiusi untuk menilai. Saya kira pejuang syariah tetap akan terus menabuh gendering peperangannya. Apalagi mereka tidak hanya melakukanya melalui jalur politik, tapi juga non-politik seperi Hizbut Tahrir. Bagi saya, masing-masing jalur memiliki kelemahan dan kelebihan. Fakta banyak kalangan akademisi juga menjadi pejuang syariah saya rasa cukup menarik untuk dicermati, gerakan intelektual yang mereka lakukan bisa jadi indikasi dari kebangkitan perjuangan penegakan ‘syariah’&lt;br /&gt;Saya bukan berarti pendukung syariah. Bagi saya, biarkan publik yang menilai itu semua. Publik sudah cukup cerdas unuk memilih yang terbaik. Dalam bahasa An-naim biasa disebut dengan dialog internal kebudayaan. Kita lihat saja bagaimana diskusi-diskusi itu berlanjut. Tidak hanya dalam wilayah akademik, tapi mungkin juga di warung-warung kopi, café, ataupun angkringan (kaki lima khas yogya), setidaknya demikian yang saya pahami dari konsep public sphere ala Habermas. [kang_obit]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yogyakarta, 1 Februari 2008&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5715123733357252427-4965224568775126783?l=robitfirdaus.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://robitfirdaus.blogspot.com/feeds/4965224568775126783/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://robitfirdaus.blogspot.com/2008/02/corak-keislaman-di-indonesia-mengamati.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5715123733357252427/posts/default/4965224568775126783'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5715123733357252427/posts/default/4965224568775126783'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://robitfirdaus.blogspot.com/2008/02/corak-keislaman-di-indonesia-mengamati.html' title='CORAK KEISLAMAN DI INDONESIA; MENGAMATI SEPAK TERJANG PEMBELA SYARIAH'/><author><name>Robitul Firdaus</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15873571037972114090</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_dAbyJD8_VgQ/SJFTl1jwoNI/AAAAAAAAADU/KelUHDoWq8c/S220/Aku.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_dAbyJD8_VgQ/R7FH5xXirNI/AAAAAAAAABU/l6ngDWn0cBI/s72-c/s_K7a01904_high_thumb.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5715123733357252427.post-6922902905585381791</id><published>2008-02-06T15:33:00.000+07:00</published><updated>2008-02-11T14:57:07.948+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Curhat'/><title type='text'>UNTUKMU YANG KRONIS MENJOMBLO</title><content type='html'>&lt;em&gt;Apa yang kau inginkan?&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Laki-laki lugu yang memahami kemauanmu&lt;br /&gt;Laki-laki lurus yang tidak pernah berbuat aneh&lt;br /&gt;Laki-laki yang mengerti seluruh keluh kesahmu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Apa yang kau inginkan?&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Laki-laki lucu yang bisa membuatmu tertawa&lt;br /&gt;Laki-laki yang enak diajak ngobrol&lt;br /&gt;Laki-laki yang bisa kau jadikan teman curhat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Apa yang kau inginkan?&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Laki-laki cerdas yang bisa menyelesaikan persoalanmu&lt;br /&gt;Laki-laki yang bisa menuntunmu&lt;br /&gt;Laik-laki yang bisa jadi guru bagimu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Apa yang kau inginkan?&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Laki-laki tampan yang bisa kau kenalkan pada teman-temanmu&lt;br /&gt;Laki-laki kuat yang bisa menjaga dirimu&lt;br /&gt;Laki-laki setia yang tidak akan menduakanmu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku memang tidak setampan Yusuf&lt;br /&gt;Aku juga tidak memiliki kekuasaan sehebat Daud&lt;br /&gt;Aku juga pasti tidak sesetia Adam&lt;br /&gt;Apalagi sesempurna Muhammad&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah untuk mendapatkanmu aku harus menuruti semua keinginanmu&lt;br /&gt;Tidak cukupkah apa yang ada pada diriku sekarang&lt;br /&gt;Aku juga merindukan kesempurnaan&lt;br /&gt;Tapi apa yang kau miliki sudah cukup sempurna bagiku&lt;br /&gt;Saat ini aku hanya ingin mendapatkanmu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;[Robitul Firdaus]&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lantai II PP UII, Februari 2008&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5715123733357252427-6922902905585381791?l=robitfirdaus.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://robitfirdaus.blogspot.com/feeds/6922902905585381791/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://robitfirdaus.blogspot.com/2008/02/untukmu-yang-kronis-menjomblo.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5715123733357252427/posts/default/6922902905585381791'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5715123733357252427/posts/default/6922902905585381791'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://robitfirdaus.blogspot.com/2008/02/untukmu-yang-kronis-menjomblo.html' title='UNTUKMU YANG KRONIS MENJOMBLO'/><author><name>Robitul Firdaus</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15873571037972114090</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_dAbyJD8_VgQ/SJFTl1jwoNI/AAAAAAAAADU/KelUHDoWq8c/S220/Aku.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
